THE SOUND OF ABUNDANCE RESTORATIONS | Ps. Paul Sene

THE SOUND OF ABUNDANCE RESTORATIONS | Ps. Paul Sene

THE SOUND OF ABUNDANCE RESTORATIONS

Ps. Paul Sene

25-01-15

Saat kereta api datang dari kejauhan, kita akan mendengar suaranya sebelum kita dapat melihatnya. Sesaat setelah kita mendengar suaranya, maka akan muncul gambaran kereta api secara jelas. Hal ini serupa seperti ketika Tuhan berbicara kepada kita. Kita harus bisa mengangkap suara Tuhan terlebih dahululu sebelum akhirnya kita bertemu muka dengan Dia.

Di dunia ini ada kelaparan akan Firman Tuhan, dank arena itulah kita perlu mendengar Firman Allah setiap hari. Di lain sisi, kita seringkali merasa telah memberikan yang terbaik bagi Tuhan, namun masih saja tetap bertanya mengapa Tuhan seringkali membiarkan hal buruk terjadi dalam hidup kita. Kita perlu menyadari bahwa setiap orang, meskipun jahat atau buruk, harus melewati musim yang sama yang telah ditetapkan Tuhan. Jika kita menginginkan kebahagiaan dalam tiap musim yang kita lewati, kuncinya hanya satu, yaitu tekun mencari Dia, karena pengharapan kita yang sejati terletak pada Kristus Yesus.

Kita harus mampu mendengar suara-Nya, sebab di dalam suara itu ada pemulihan bagi kita. Jangan melepas pengharapan dari Tuhan bagi kita dalam hidup ini, walaupun kita sama sekali belum melihatnya. Meski situasi tidak mengenakkan, jika kita tetap memegang FirmanNya, maka kita akan tahu bahwa Tuhan sedang membuka jalan bagi kita. Roma 8:28 berkata , “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Meskipun Tuhan mengijinkan saat-saat sulit dalam hidup kita, kita tetap harus mampu mendengar suara-Nya yang mengandung pemulihan. Itu karena Tuhan sedang memroses kita untuk tujuan yang lebih besar. Iblis juga sedang berusaha menjatuhkan kita. Jika kita telah menang kemarin, belum tentu besok dia tidak akan berusaha menjatuhkan kita lagi. Tahun ini adalah tahun ‘double blessings’, maka seharusnya kita dapat ‘menangkapnya’ dalam hati kita sehingga kita nanti dapat melihat bahwa hal itu akan terjadi dalam hidup kita.

1 Raja-raja 18:41-45 mencatat, “Kemudian berkatalah Elia kepada Ahab: “Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.” Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum. Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya. Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia:

“Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: “Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.” Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel.”

Elia mengatakan kepada bujangnya untuk melihat ke arah laut karena Elia mendengar suara bunyi derau hujan. Mereka sudah mengalami kesulitan selama 42 bulan dalam kemarau panjang tanpa adanya air. Meskipun Elia taat mendengar suara Tuhan,dia juga harus melalui masa-masa yang tidak mengenakan tersebut selama 3,5 tahun, sama seperti orang lain.

Ada saat-saat dimana segala sesuatunya sulit dan seakan-akan tidak ada lagi harapan. Namun kita harus yakin bahwa justru saat-saat itu adalah saat yang tepat untuk percaya kepada Tuhan. Di dalam Dia ada pemulihan dan terobosan dan tidak ada satupun yang dapat menghentikan hal tersebut dalam hidup kita. Perkataan Elia yang membawa awan itu datang. Pada intinya, jika kita tetap memegang erat iman kita dan tidak putus asa, di saat yang sama kita sedang berusaha mewujudkan mujizat Tuhan dalam hidup kita. Jika kita cenderung mendengar kenyataan yang ada, daripada percaya pada Firman Tuhan, maka dengan sendirinya kita sedang membunuh mujizat dengan tangan kita.

Kita harus lebih peka mendengar suaraNya serta taat dan tunduk kepada instruksi dari FirmanNya, niscaya mujizat itu datang. Ketaatan kita pada Firman Tuhan akanmendatangkan mujizat. Meski kita harus melalui lembah-lembah kekelaman dan kematian, Tuhan akan menjadi Pegangan kita.

Ijinkan Tuhan memroses hidup kita dan tetaplah setia. Jika kita melewati masa-masa sulit, tetaplah setia dan bertahanlah karena mujizat itu pasti datang. Ada proses yang harus dilalui agar terobosan itu datang. Tuhan telah memulai proses pemulihan dalam hidup kita dan pintu-pintu akan dibukakan bagi kita selama kita tinggal tenang dan masuk lebih dalam lagi dalam hadiratNya. Saat kita mengalami pemulihan itu, maka kita akan bersorak sorai sebab kita telah menemukan kekayaan sejati hanya dalam kebenaran FirmanNya. Amin.