BLOOD COVENANT | Ps. Hanny Yasaputra

BLOOD COVENANT


Ps. Hanny Yasaputra

08-02-15

Saat kita menonton sebuah kisah dalam sebuah film, kita sering membandingkan kisah kehidupan kita dengan kisah di dalam film tersebut. Ketahuilah bahwa kisah di dalam film tersebut hanyalah buah pemikiran dari manusia. Sedangkan kisah hidup kita adalah hasil dari guratan tangan Tuhan sendiri, Sang empunya kehidupan. Khusus pada hari ini, kita akan membahas guratan tangan Tuhan dalam keluarga kita.

Zakharia 9:11 menulis, “Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjian-Ku dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair. (As for thee also, by the blood of thy covenant I have sent forth thy prisoners out of the pit wherein is no water -AV.)” Dari ayat ini kita mengetahui bahwa Allah yang memiliki inisiatif untuk mengangkat umatNya oleh karena perjanjian darah tersebut. Perjanjian ini adalah dasar dari semua kelepasan dan semua berkat yang kita butuhkan. Sayangnya tidak semua dari kita mengerti arti sebenarnya dari perjanjian darah ini, sebab kita semua dulu tidak termasuk dalam orang yang menerima perjanjian darah ini (Efesus 2:12).

Dalam terjemahan Inggrisnya dikatakan, “Remember that at that time you were separate from Christ, excluded from citizenship in Israel and foreigners to the covenants of the promise, without hope and without God in the world.” Yang dimaksud dengan ‘covenant’ pada ayat ini adalah perjanjian yang dimeterai oleh darah dan berlaku bagi kedua belah pihak yang melakukan perjanjian tersebut. Apa yang dimiliki orang pertama, dimiliki orang kedua, dan juga sebaliknya. Bayangkan jika kita mengikat perjanjian dengan Tuhan, Sang Empunya dunia dan segala isinya. Jika kita kekurangan sesuatu, Tuhan harus memenuhi kekurangan kita.

Untuk dapat merealisasikannya, kita perlu memiliki konsep Tuhan adalah Allah yang berdaulat (God is a Sovereign God) yang mengambil keputusan ‘mengikatkan diriNya’ kepada kita melalui perjanjian darah. Namun, kita perlu mengerti bahwa kita tidaklah bebas melakukan apa saja yang kita mau, karena dalam ‘covenant’ tersebut ada kewajiban yang harus kita lakukan.

Sekarang kita lihat esensi dari perjanjian ini dalam pernikahan. Tuhan selalu melihat adanya perjanjian (covenant) dalam sebuah pernikahan (Maleakhi :14). Setiap pria dan wanita diharapkan menikah supaya dapat beranak cucu dan memenuhi bumi (Kejadian 1:28) dan menghasilkan keturunan Ilahi.

Pernikahan di mata Tuhan adalah sesuatu yang sakral. Namun sayang, sekarang banyak pasangan yang kurang bisa menghargai arti sakral dari sebuah pernikahan. Daripada memperbaiki hubungan, banyak yang lebih memilih untuk melirik pria atau wanita idaman lain. kita harus berhati-hati dengan pemikiran tersebut karena Iblis akan mendapat jalan untuk merusak pernikahan kita. setiap kali kita memikirkan tentang orang lain, maka kita berdosa terhadap diri kita sendiri (1 Korintus 6:18). Pernikahan harus dihormati (Ibrani 13:4). Kita harus mengerti siapa diri kita dalam Yesus Kristus. Apabila kita mengerti hal ini, maka kita tidak akan bermain-main dengan sex tanpa ikatan nikah.

Covenant (berith – Gerika, yang berarti “to cut, memotong”) adalah perjanjian yang mengikat antara dua pihak dengan pencurahan darah. Jadi, ketika anda memasuki perjanjian darah dengan seseorang, anda berjanji untuk memberikan hidup, kasih dan perlindungan anda selamanya sampai mati.

Dalam pernikahan biasanya terdapat simbolisasi yang berupa tukar cincin yang melambangkan adanya ‘selebrasi’ dari keterikatan terhadap pasangan. Hal ini juga berfungsi mengingatkan kita tentang perjanjian yang sudah kita buat setiap kali kita melihatnya, serta mengingatkan kembali bahwa diri kita adalah milik pribadi dari seseorang yang kita kasihi. Juga simbolisasi pemotongan dan penyuapan kue yang melambangkan ‘tubuh’ mereka yang diberikan kepada pasangan secara utuh. ‘Toast’ yang berarti ‘speaking of blessings’ yang juga dilakukan untuk melambangkan berkat para undangan untuk pihak pengantin.

Ketika resmi menikah, pengantin pria memberikan nama belakangnya kepada pengantin perempuan. Hal ini juga diberikan Yesus kepada kita saat kita telah menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kita memiliki hak untuk menggunakan namaNya. Firman Tuhan mengatakan, “Dalam NamaKu engkau akan mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit. Apapun yang engkau minta, mintalah kepada Bapa dalam namaku, Dia akan melakukannya kepadamu.” Dari mana Yesus mendapat ide untuk kita menggunakan namaNya? Tentunya hubungan dengan ‘covenant’ yang kita miliki dalam Dia. Sebagai Pengantin Pria, Dia memberikan namaNya bagi kita. Kita ini milik Yesus!

Ibrani 13:4, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi oleh Allah”. Perkataan ‘kamu semua’ berarti perintah ini untuk kita semua, termasuk yang belum menikah sekalipun, baik laki-laki maupun perempuan. Hormati pasangan yang akan menjadi suami atau istri Anda dan berhati-hatilah dengan apa yang anda lakukan baik secara tubuh maupun pemikiran pada saat masih ‘single’.

Wahyu12:11 mengatakan, “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian mereka.” Dari ayat ini dapat kita lihat bahwa Darah Anak Domba adalah posisi kita dalam Kristus, saat kita dibenarkan dan ditebus. Perkataan kesaksian berbucara tentang kondisi kita dalam Kristus, yang kudus dan tidak bercacat. Tidak hanya berhenti dalam proses dibenarkan dan ditebus, kita juga harus menjadi contoh dan kesaksian hidup bagi orang lain dengan menjaga kekudusan hidup kita.

Kita juga harus menjaga mata kita, menawan semua pemikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Kita harus bertobat jikalau tergelincir dan kita harus menetapkan standar diri kita sehingga kita dapat ‘rest in God’s Grace’. Ketika kita setia terhadap pasangan kita, maka kita akan mengasihinya lebih dalam setiap hari. Banyak hubungan yang gagal dikarenakan mereka tidak memberikan hati mereka seratus persen. Kita tidak akan mendapatkan perjanjian seumur hidup dengan ‘part time’ komitmen.

Rancangan Allah untuk pernikahan itu indah. Karena itu, kiranya para pasangan suami-istri dapat merasakan betapa luar biasanya kehidupan pernikahan di bawah naungan berkat dari tuntunan Allah yang penuh kasih. Amin!