DIVINE INSPIRATION | Pdt. Eluzai Frengky Utana

DIVINE INSPIRATION | Pdt. Eluzai Frengky Utana

DIVINE INSPIRATION


Pdt. Eluzai Frengky Utana

15-03-15

Saat ini kita masuk dalam bulan Inspirasi Illahi. Inspirasi Illahi adalah petunjuk atau tuntunan Tuhan yang timbul di hati; pikiran yang timbul dari hati yang dikuasai oleh Tuhan atau dapat juga disebut sebagai ‘ilham’, yang berarti suatu hal yang menggerakkan hati kita untuk berbuat sesuatu.Sebagai manusia, kita semua memerlukan inspirasi Illahi yang dibutuhkan untuk membuat terobosan-terobosan dalam hidup kita.

Kejadian pasal 37-50 bercerita tentang kehidupan Yusuf yang mendapatkan mimpi (visi) bahwa suatu saat dia akan menjadi pemimpin. Namun, kita tahu bahwa mimpinya tidak langsung menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Masih dibutuhkan proses sampai akhirnya visi tersebut menjadi kenyataan. Meskipun dia tidak menjadi orang nomor satu di negeri Mesir, dalam posisinya, Yusuf mampu memberi dampak dan menjadi inspirasi di manapun Tuhan menempatkan dirinya. Dari kisah ini, kita dapat mengerti bahwa letak posisi tertinggi itu bukan hal terpenting. Yang lebih penting adalah apakah kita menjadi dampak dan inspirasi bagi orang lain di manapun Tuhan tempatkan kita.

Untuk menjadi orang yang memberi dampak dan menjadi inspirasi bagi orang lain dan mengubah dunia ini, Tuhan tidak memerlukan orang yang istimewa. Tuhan mencari orang yang memiliki iman dan hidup sungguh-sungguh bergantung kepada Tuhan serta memiliki kerinduan agar nama Tuhan dipermuliakan dalam hidupNya. Karena itu, jangan menjadi orang yang tamak dan egois dengan cara menginginkan berkat Tuhan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi jadilah orang yang dapat memberi inspirasi bagi orang lain.

Ketika Yusuf mendapat visi, dia berusaha untuk hidup dalam visi tersebut. Orang yang memiliki visi tanpa bertindak hanya akan menghasilkan lamunan saja. Sebaliknya juga, orang yang bertindak tanpa memiliki visi adalah orang bodoh yang hanya menghabiskan waktu saja. Untuk itu, kita harus memiliki visi serta bertindak. Ketika Yusuf mendapatkan mimpi, dia bertindak. Yusuf terus hidup dalam visi tersebut dan siap sedia untuk diproses. Selama proses inilah kita perlu ‘divine inspiration’ supaya tidak mundur atau kalah serta dapat menggenapi rencana Tuhan dalam hidup kita.

Kejadian 39:2-4 menulis, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.

Yusuf berhasil karena dia disertai Tuhan. Ukuran keberhasilan Yusuf dalam semua pekerjaannya ditentukan oleh ukuran Kristus. Dengan kata lain, berhasil artinya, ‘apa yang kita dengar dari Tuhan, itulah yang kita hidupi’. Dapat juga disimpulkan bahwa orang yang berhasil adalah orang yang bernilai dan orang yang bernilai pasti berhasil. Karena itu, jangan hanya mengejar keberhasilan semata. Jadilah orang yang bernilai seperti keberhasilan Yusuf yang ditentukan oleh nilai-nilai yang dia hidupi.

Agar kita dapat berhasil dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, kita harus melakukan apa yang dilakukan oleh Yusuf, antara lain:

  1. Hidup kita harus dikendalikan oleh Tuhan, harus mengandalkan Tuhan dan berpengharapan hanya pada Tuhan
    Ketika Yusuf dipaksa tidur dengan istri Potifar, dia memilih lari daripada melakukan hal yang tidak benar. Meskipun harga yang harus dibayar Yusuf sangatlah mahal, selama proses kehidupannya, Yusuf percaya bahwa Tuhan mengendalikan kehidupannya. Orang yang mengandalkan Tuhan pasti mempunyai keyakinan yang teguh bahwa Tuhan sanggup menggenapi janji-janjiNya dalam hidupnya. Orang yang mengandalkan Tuhan, dikendalikan Tuhan dan berpengharapan kepada Tuhan, inilah orang yang pribadinya memiliki karakter dan memiliki kompetensi (kemampuan). Hanya orang yang memiliki karakter dan kompetensi yang dapat berkontribusi dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
  1. Yusuf berhasil karena berbeda dengan orang lain (Kejadian 1:27)
    Saat menciptakan manusia, Allah menciptakannya segambar dan serupa dengan Allah. Jadi, seharusnya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Allah karena kita memiliki nilai-nilai Allah dalam hidup kita. Jangan menurunkan standar serta nilai-nilai Illahi dalam hidup kita meski ada tawaran untuk berbuat dosa. Itulah yang dilakukan Yusuf saat dirinya digoda oleh istri Yusuf lari karena dia memiliki nilai-nilai Illahi dalam dirinya, dan dia tidak menurunkan standar hidupnya. Jadilah berbeda dengan dunia ini dengan menjadi orang yang dapat dipercaya (trustworthy) bagi orang lain. Jadilah orang yang dapat dipercaya dan dipegang perkataan atau janjinya. Janji tidak dapat dibayar dengan apapun kecuali dengan menepatinya. Jadilah orang yang berbeda dengan lewat hubungan kita dengan Tuhan yang diikat oleh kasih dan bukan karena tampilan. Jadi, sebagai contoh, ketika pasangan hidup kita ‘berubah’ secara fisik, hal itu tidak mengubahkan komitmen kita terhadap pasangan.
    Yusuf tidak hanya sekedar menjadi orang yang berbeda, namun juga menjadi spesial. Walaupun ditolak, dibuang ke dalam sumur, difitnah dan dimasukkan penjara, Yusuf tidak kepahitan dan tidak tersinggung, apalagi ingin membalas dendam. ‘Spesial’ juga berbicara tentang ‘kekuatan’ dalam hidup. Kekuatan yang timbul dari ‘passion’ atau gairah dalam hidup. Saat menghadapi tantangan, tetaplah semangat dan bergairah karena kita tahu apa ‘passion kita, sehingga apapun yang kita kerjakan pasti berhasil dan bernilai. Kekuatan ini juga berbicara tentang hal-hal yang suka kita kerjakan di luar kewajiban kita, seperti rindu melayani orang yang miskin, atau hal yang lain. Ketika kita mengerjakan ‘passion’ kita, maka kita akan berbuah dan menjadi berkat serta mampu memberkati orang lain sekalipun tanpa penghargaan dan dilihat orang lain.
  1. Orang yang diberkati adalah orang yang memiliki hati untuk memberkati (Wahyu 3:8)
    Fokus pada kesempatan atau peluang yang Tuhan berikan, jangan pada ‘apa yang dapat kita kerjakan’. Fokuslah pada apa yang Tuhan dapat kerjakan melalui hidup kita.

Miliki keputusan untuk mengandalkan Tuhan, dikendalikan Tuhan sehingga menjadi berbeda dan spesial sehingga menjadi dampak bagi orang lain dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin!