Wrong Assumptions (Asumsi-asumsi yang salah) | Pdt. Thomas Tanudharma,

Wrong Assumptions (Asumsi-asumsi yang salah) | Pdt. Thomas Tanudharma,

Wrong Assumptions
(Asumsi-asumsi yang salah)


Pdt. Thomas Tanudharma,

12-04-15

Banyak orang beranggapan bahwa setiap masalah dan persoalan yang terjadi di dalam kehidupan ini adalah ujian, teguran Tuhan, atau serangan Iblis. Hal tersebut tidaklah salah dan bisa saja terjadi. Namun tidak sedikit masalah dan persoalan yang terjadi justru karena kesalahan atau kebodohan diri sendiri.

Dalam Injil Matius 20:1-16, Tuhan Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah dia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah, sedinar sehari, dia menyuruh para pekerja itu ke kebun anggurnya. Sang tuan rumah tidak hanya sekali keluar mencari pekerja di kebun anggurnya melainkan beberapa kali, pada pukul sembilan, dua belas, tiga sore, dan lima petang.

Jadi ada berbagai pekerja dengan jam kerja yang berbeda dan semuanya dibayar dengan upah yang sama yaitu satu dinar. Lalu timbullah kekacauan karena ada perasaan tidak puas dan tidak adil. Seharusnya permasalahan ini tidak terjadi, karena dalam Matius 20:2 mereka telah sepakat dengan upah satu dinar sehari.

Dalam perumpamaan ini, masalah terjadi ketika, “datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga” (ayat 10). Jadi penyebab masalah dalam perumpamaan ini adalah ‘sangkanya’ atau ada asumsi yang salah antara pekerja terhadap tuannya. Asusmsi adalah dugaan yang dianggap sebagai kebenaran.

Akibat asumsi-asumsi yang salah akan timbul:

  1. Hidup di dalam kemarahan dan persungutan (Matius 20:11)

Pekerja yang telah bekerja lebih lama berpikir bahwa mereka akan menerima upah lebih banyak, padahal mereka telah sepakat dengan upah sedinar sehari. Karena itu mereka dilingkupi kemarahan dan persungutan.

Ayat 11; Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

  1. Hidup dengan perasaan tidak adil (Matius 20:12-13)

Orang yang memiliki asumsi yang salah akan selalu berpikir negatif dan merasa diperlakukan tidak adil.

Ayat 13; Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

  1. Hidup dengan iri hati (Matius 20:14-15).

Orang yang hidup dalam asumsi yang salah akan mudah menjadi iri hati dan hal itu akan menghancurkan diri mereka sendiri. Orang yang iri hati tidak akan bisa melihat kelebihan yang ada di dalam dirinya.

Ayub 5:2; Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.

  1. Hidup dalam kemunduran dan kerugian (Matius 20:16)

Tanpa sadar, ketika berada dalam asumsi yang salah, seseorang akan terbawa kepada kemunduran sekalipun sebelumnya sudah menjadi yang terdepan.

Ayat 16; Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Untuk itu kita harus menangkal asumsi yang salah dengan cara:

  1. Belajar untuk tidak cepat berasumsi

Ada banyak orang yang kecewa hidupnya karena cepat berasumsi yang salah.

Amsal 19:2,” Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.” 

Amsal 21:5, “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.”

  1. Belajar berkomunikasi dengan jelas

Berikan penjelasan dan klarifikasi terhadap masalah-masalah yang dapat menimbulkan asumsi yang salah. Komunikasi yang jelas akan meluruskan asumsi yang salah.

Amsal 19:20, Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”

  1. Belajar memperbaharui pola pikir

Pola pikir akan menentukan penilaian kita terhadap segala sesuatu. Jika pola pikir seseorang belum diubahkan oleh Firman Tuhan, maka dia akan selalu melihat orang lain dengan negatif. Dia juga akan melihat segala sesuatu sulit bahkan mustahil.

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

  1. Belajar percaya rancangan Tuhan yang terbaik.

Rancangan Tuhan tidak pernah salah dalam hidup kita. Untuk itu, kita harus selalu melihat kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.:

Asumsi yang salah akan membawa kita hidup dalam penyesalan, kekecewaan dan ketidakpastian. Karena itu, jangan hidup dalam asumsi yang salah, baik kepada Tuhan maupun dengan orang lain. Tuhan memberkati, amin!