Spiritual Investment | Dr. Paul G. Caram

Spiritual Investment | Dr. Paul G. Caram

Spiritual Investment


Dr. Paul G Caram

03-05-15

Hidup di dunia ini memang hanya sementara. Namun, jika kita percaya akan kekekalan, ada yang harus kita kumpulkan sekarang sebagai investasi bagi kehidupan kekal tersebut. Firman Tuhan berkata agar kita tidak mengumpulkan harta di bumi untuk kita sendiri, karena segala sesuatunya akan lenyap. Sebaliknya, kita justru harus mengumpulkan harta di surga. Yesaya 65:17 berkata, “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” Bumi ini sifatnya sementara dan kita hidup dalam dunia untuk membuat pilihan-pilihan, supaya pada akhirnya kita dapat menjadi manusia yang siap untuk kehidupan kekal. Ambillah keputusan untuk berinvestasi pada sesuatu yang kekal.

Yesaya 66:22 berkata, “ Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap.” Tuhan akan menciptakan bumi baru, tempat keturunan dan nama kita akan kekal selamanya.

‘Keturunan’ atau ‘benih’ berbicara tentang anak rohani yang bersifat kekal dalam bumi yang baru nanti. Paulus berkata, “kamulah upahku dan mahkotaku” Segala sesuatu yang telah kita investasikan dalam diri orang lain juga akan kita bawa kepada kekekalan. Karena itu, kita harus berinvestasi kepada jiwa-jiwa, inilah investasi yang sifatnya kekal.

Kita juga harus berinvestasi kepada ‘kondisi hati kita’. Matius 5:19 mengatakan bahwa dalam surga ada tingkatan-tingkatan kepemimpinan. Hal tersebut didasarkan oleh kemampuan kita untuk menggenapi rencana Allah dalam hidup kita. Karena itulah Paulus berkata, “aku telah menyelesaikan pertandingan dengan baik, dan “telah tersedia mahkota bagi orang yang menanti-nantikan kedatangan Tuhan. Tuhan memiliki rencana yang besar dalam diri kita. Namun, kita diberi pilihan bebas, melakukan kehendak Tuhan atau kehendak kita sendiri.

Dosa pertama yang terjadi sebelum dunia diciptakan dalam Yesaya 14:13 adalah tentang Lucifer yang berambisi untuk memiliki posisi lebih tinggi daripada Tuhan. Awal dari dosa adalah melakukan kehendak atu ambisi pribadi lebih dari melakukan kehendak Bapa. Setan adalah penguasa dunia ini dan dia berambisi untuk menjadi yang terutama, paling hebat, paling menonjol. Ini adalah tujuan utama dari roh duniawi, dimana ‘keakuan’ lebih penting daripada mencari kehendak Bapa. Sebaliknya, Yesus berkata bahwa, “KerajaanKu bukanlah dari dunia ini, oleh sebab itu barang siapa yang ingin menjadi yang terbesar, hendaklah ia menjadi pelayan bagi sesamanya”. Dalam banyak kesempatan,kita sering lebih memilih pikiran duniawi daripada pikiran yang digunakan Yesus. Kita lebih ingin dilayani daripada melayani. Kita lebih ingin dihormati dan dipandang orang daripada merendahkan diri.

Roma 12:1-2 berkata agar kita jangan menjadi serupa dengan dunia, tetapi kita harus berubah oleh pembaharuan budi kita. 2 Timotius 3:1 (NKJV) mengatakan akan datang masa yang ‘berbahaya’ pada hari-hari terakhir. Hal ini terjadi karena manusia akan hidup demi dirinya sendiri dan bukan hidup untuk Tuhan. Manusia lebih mencintai semua kenikmatan duniawi daripada mengasihi Tuhan.

Kita sering diajar untuk mengikuti kata hati atau perasaan kita. Namun, kita perlu berhati-hati dan menguji segala sesuatu yang berkaitan dengan emosi. Tidak ada sesuatu yang abadi jika didasari oleh emosi. Yeremia 17:9 menuliskan bahwa hati manusia itu licik dan picik dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui isinya. Jangan percayai kata hati kita sepenuhnya. Percayalah kepada Tuhan yang mengetahui masa depan dan semua yang terbaik bagi kita. Amsal 28:26 berkata, “Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.” Yeremia 10:23 juga menuliskan bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Karena itu, percayalah kepada Tuhan yang menciptakan kita.

Filipi 3:3 berkata bahwa, sebagai orang-orang yang bersunat (hati), seharusnya kita tidak meletakkan pengharapan kita kepada hal-hal kedagingan (emosi, perasaan). Biarlah pedang roh memotong setiap kedagingan kita. Manusia tidak berkuasa untuk menentukan langkahnya. Karena itulah, kita membutuhkan bimbingan dari Pencipta kita, yang jauh lebih besar dari kita. manusia tidak bisa mengerti hati dan dirinya sendiri. Yang dapat mengerti manusia adalah Firman Tuhan, yaitu Allah sendiri, karena Firman Tuhan menyelidiki setiap isi hati manusia dan motivasinya.

Dunia ini akan segera berlalu dengan segala kesudahannya. 1 Yohanes 2:17 berkata, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup”. Ketika bumi ini lenyap, yang tertinggal hanya orang-orang yang melakukan kehendak Bapanya. Matius 7:21 juga berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Kita harus perhatikan FirmanNya dan melakukan perintahNya serta menggenapi rencana Allah dalam hidup kita.

Kita harus hidup benar di hadapan Allah dan berinvestasi kepada jiwa-jiwa. Percaya kepada Tuhan, dengarkan FirmanNya, dan jadilah pelaku Firman. Kita harus meletakkan Firman di atas segala kedagingan, perasaan, dan emosi kita supaya kita dapat menggenapi rencanaNya dalam hidup kita dan menyenangkan hatiNya. Biarlah itu menjadi kerinduan dari setiap kita. Amin!