Berkat Dari Hikmat | Pdt. Hartono Wijaya

Berkat Dari Hikmat | Pdt. Hartono Wijaya

Berkat Dari Hikmat


Pdt. Hartono Wijaya

17-05-15

Saat ini, kebanyakan orang akanberkata bahwa perekonomian bukannya tambah mudah tetapi bertambah sulit. Karena itu, banyak dari mereka yang mengerahkan segala cara untuk mencari uang di tengah keadaan yang semakin sulit ini. Firman Tuhan berkata dalam Amsal 10:22, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Kata ‘susah payah’ menjelaskan tentang usaha yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan kekayaan dengan kekuatan sendiri, bahkan melalui tipu muslihat. Semua terjadi sebagai konsekuensi dari dosa seperti yang tertulis dalam Kejadian 3:17, “dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.

Yang Tuhan kehendaki adalah agar kita hidup dalam berkat yang berasal dari Tuhan, bukan mencarinya dengan kekuatan sendiri. Berkat yang didapat karena kita menangkap hikmat Tuhan dan hidup darinya. Jika kita hidup mengandalkan Tuhan, Tuhan berjanji kita akan mengalami ‘double rest’ dan’ double grace’. Selama kita tetap memegang hikmat Tuhan, berkat yang seperti ini akan tetap mengejar kita, meskipun kita mengalami masalah.

Kita dapat belajar dari kisah Yakub (Kejadian 30:25-43) pada saat dia melarikan diri dari Esau ke rumah pamannya, Laban. Di sana, Tuhan mengijinkan Yakub memasuki proses saat dia ingin mendapatkan Rahel, sehingga dia diperalat Laban. Yakub akhirnya bekerja sebagai penggembala ternak milik pamannya. Laban membuat perjanjian dengan Yakub mengenai hasil ternak yang dilahirkan dari gembalaannya. Jika yang ternak yang lahir berbelang-belang, maka itu adalah milik Yakub. Laban mengandalkan pengalamannya dan memandang enteng perjanjian tersebut. Namun kuasa hikmat yang berasal dari Tuhan bekerja dan campur tangan sehingga Yakub menerima berkat. Dari kejadian pasal 30 ini kita dapat menarik beberapa pelajaran, antara lain:

1. Dipanggil untuk meninggikan Tuhan
Yakub tahu bahwa panggilannya bukan hanya sekedar menjadi gembala, namun untuk meninggikan Tuhan. Dalam pasal 30, Yakub berlaku jujur terhadap Laban. Dari hal ini, kita tahu bahwa karakter Yakub sudah diubahkan, meski namanya belum diubah Tuhan menjadi Israel. Yakub menjadi dampak, sehingga Laban berkata bahwa Tuhan memberkatinya oleh karena Yakub (ayat 27b). Keinginan Tuhan adalah agar keberadaan kita menjadi dampak di dunia kerja kita, bukannya melakukan kejahatan seperti korupsi, sehingga orang lain tidak melihat Tuhan dalam hidup kita. Pola pikir dunia berkata bahwa, jika ingin berjaya dalam dunia bisnis, maka kita tidak bisa berlaku jujur. Namun Firman Tuhan berkata bahwa, kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini! Justru seharusnya kita dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain, diberkati untuk memberkati. Pikiran kita tidak hanya tertuju pada mencari keuntungan sebesar-besarnya, namun juga berorientasi pada jiwa. Segala sesuatu yang kita lakukan biarlah menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Jadilah ‘terang’ di manapun kita ditempatkan dan bagikan nilai-nilai Kerajaan Allah (Matius 6:33) melalui hidup kita. Yakub rela jadi ‘TUPOS’ (hamba) dan meninggalkan sifat lamanya, mengerti destiny yang diberikan Allah dalam panggilannya; Exalting the Lord, Extending the Kingdom.

2. Dipanggil untuk menang atas problem kehidupan
Yakub mendengar perkataan dari saudara iparnya (Kejadian 31:1-2) yang menuduhnya mencuri kekayaan mertuanya untuk membangun kerajaannya sendiri. Bahkan Labanpun berubah sikap kepadanya. Mazmur 34:19 mengatakan, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.” Kita dipanggil untuk menang atas problem kita dengan tetap meninggikan nama Tuhan. Ketika Yakub memiliki masalah, dia memandang dan memberikan respon yang benar. Cara kita memandang masalah menentukan berkat atau kutuk bagi kita.
Seperti bangsa Israel yang kocar kacir ketika didatangi Goliat, namun Daud yang melihat masalah (Goliat) yang sama dan memiliki pandangan yang berbeda, sehingga dia berani mendatangi Goliat dan bahkan membunuhnya.
Karakter sesungguhnya dari seseorang akan terlihat pada saat diperhadapkan masalah. Tujuh tahun waktu untuk mendapatkan Lea, ditambah tujuh tahun mendapatkan Rahel, ditambah lagi enam tahun selanjutnya, adalah ‘waktu proses’ yang dibutuhkan untuk memunculkan karakter Yakub yang sebenarnya. Kemenangan Yakub adalah ketika dia berjalan dalam hikmat sesuai tuntunan mimpinya (Kejadian 31:11-13). Yakub memegang janji Allah dan dia mengalami bahwa ‘problem’ menjadi ‘profit’ , dan dari ‘nothing’ menjadi ‘something’.

3. Dipanggil untuk memanifestasikan Kuasa KerajaanNya
Yakub tidak hanya bermimpi. Dia memvisualisasikan hikmat yang didapat melalui mimpinya. Yakub tidak berkecil hati ketika melihat bahwa kecil kemungkinannya mendapatkan anak domba yang berbelang-belang ketika kenyataannya binatang ternaknya berwarna polos. Hati- hati terhadap apa yang kita pikirkan, karena pikiran itu dapat menjadi kenyataan. Pikirkan semua yang benar, sebab pikiran yang benar pasti akan memperoleh inspirasi yang benar. Seperti Yakub yang mendapatkan ide dengan menggunakan dahan pohon hawar, pohon badam dan pohon berangan ( ayat 37-39). Semua yang mustahil dapat menjadi tidak mustahil dengan pikiran yang benar . Semua yang dapat kita lihat dalam alam roh akan menjadi kenyataan.

Ketahuilah bahwa, bukan kepandaian dan kemampuan manusia (tipu daya, kelicikan, muslihat, dan mengandalkan kekuatan sendiri) yang akan membawa kita berhasil dalam pandangan Allah, melainkan kemampuan untuk dapat menangkap dan menerapkan hikmat Ilahi dalam pekerjaan kita. Di dalamnya, Allah telah meramu suatu nilai Kerajaan yang akan membangun karakter yang berkenan kepada Allah, sehingga kita dikasihi Allah dan dihormati sesama. Tuhan Yesus memberkati!