Hidup Beriman Kepada Tuhan | Ps. Wigand Sugandi

Hidup Beriman Kepada Tuhan

Ps. Wigand Sugandi

14-06-15

Ketika mendengar kata ‘iman’, seringkali gambaran yang muncul dalam benak kita adalah ‘memindahkan gunung’ atau kejadian-kejadian dahsyat lainnya. Namun, ada sisi lain dari iman yang harus diperhatikan oleh kita sebagai umat Kristen.Di jaman ini, kita sering menjadi bingung ketika dihadapkan dengan pertanyaan tentang perbedaan antara iman dengan ‘positive thinking’ atau juga dengan keyakinan diri. Kita perlu tahu bahwa satu-satunya yang menyelamatkan adalah iman yang berdasarkan pengenalan yang benar akan Allah. Roma 10:17 menulis, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Iman dan Firman Allah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Iman pasti membutuhkan Firman Allah. Sementara ‘positive thinking’ dan ‘keyakinan diri’ tidak membutuhkan Firman Allah.

Iman merupakan hal yang sangat penting sehingga Ibrani 11:6 menuliskan, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Begitu banyak kisah tentang iman yang tertulis dalam Alkitab dan kita dapat melihat perbedaan antara iman yang benar dengan yang lain.

  1. ‘Iman’ yang hanya sekedar ikut-ikutan meng’amin’kan tanpa mengerti esensi iman yang sebenarnya.
    Ada ayat yang menuliskan perkataan seperti ini, “maka takjublah mereka mendengar pengajaran Yesus…” Namun orang yang hanya ‘sekedar takjub’ itu mungkin juga adalah bagian orang-orang yang berteriak, “salibkan Dia!” dan menuntut agar Yesus dihukum mati. Orang yang seperti ini sangat banyak didapati di antara kita, sperti orang yang hanya sekedar bertepuk tangan ketika khotbah yang didengar terasa bagus tanpa menyadari bahwa Firman tersebut juga ditujukan untuk mereka.
  2. Iman yang yakin akan kuasa Allah
    Iman yang seperti ini dapat dilihat dalam perkataan, “asal kujamah saja jubahNya pasti akan sembuh” atau “katakan sepatah kata saja…” Iman yang seperti ini adalah iman yang hebat, namun tidak ada hubungannya dengan keselamatan kekal. Lukas 17 mencatat ada sepuluh orang kusta yang datang kepada Yesus dan semuanya disembuhkan. Namun hanya satu yang datang kembali kepada Yesus. Semuanya menerima mujizat kesembuhan, namun pada akhirnya yang terpenting adalah apakah mereka tetap melayani Tuhan sampai akhir hidup mereka atau hanya sampai mendapatkan jawaban doa atau mujizat lalu berhenti mengikut Dia.
  3. Iman yang taat mutlak kepada kehendak Tuhan
    Iman seperti ini ditunjukkan oleh Abraham ketika telah tujuh puluh tahun tinggal di Ur Kasdim yang subur namun Allah menyuruhnya keluar ke sebuah tempat yang bahkan belum pernah dibayangkan oleh Abraham. Tuhan sering tidak menunjukkan akhir dari perjalanan hidup kita, namun Dia menuntut agar kita percaya dan setia. Ketika kita percaya dan setia, maka kita akan dibawa masuk selangkah demi selangkah. Mungkin tidak semua pintu kesempatan terbuka, tetapi Dia adalah Allah yang setia, yang menuntun kita selangkah demi selangkah, dari kemuliaan menuju kemuliaan. Inilah iman yang taat mutlak kepada kehendak Tuhan; iman yang bertahan dan taat dalam proses dengan tujuan menyenangkan hati Tuhan.

Orang yang beriman akan berupaya segala cara agar hidupnya menyenangkan hati Tuhan, bukan memikirkan keuntungan diri sendiri. Seringkali kita memikirkan bagaimana caranya agar mendapatkan ‘berkat’ ketika kita berada dalam gereja. Kita menyanyi dan memuji Tuhan, lalu kita merasa bahwa Tuhan disenangkan. Kita merasa hadirat Tuhan turun dan kita mendapat apa yang kita mau, setelah itu kita pulang.

Kita harus tahu bahwa ternyata orang beriman itu bukanlah orang yang mengambil keuntungan bagi diri sendiri, tetapi orang yang berpikir bagaimana caranya agar Tuhan disenangkan. Seluruh kehidupan kita selama tujuh kali dua puluh empat jam menjadi miniatur kita selama kita beribadah. Ketika kita menyembah dan memuji dengan berapi-api namun ketika pulang kita melakukan dosa yang sama. Pastilah Tuhan tidak disenangkan. Orang yang beriman dengan benar, tidak saja percaya pada kuasaNya, namun percaya pada kuasa kehendakNya. Matius 7:21 berkata, “setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Tuhan menolak orang yang tidak intim (ginosko) untuk berhubungan denganNya.

Memiliki iman yang benar harus dibayar dengan harga yang mahal, yaitu pengenalan yang benar tentang Dia. Tidak cukup hanya dua jam saja menyanyi di gereja kemudian kita bisa berharap memiliki iman yang benar. Karena iman yang benar timbul lewat adanya keintiman dengan Firman Tuhan. Seluruh hidup kita selama tujuh kali dua puluh empat jam harus melekat kepada Dia dan dipersembahkan kepadaNya.

Kita hanya bisa percaya sesuatu kepada seseorang sejauh kita mengenal orang itu dengan baik. Sama seperti Bapa di surga, kita bisa mempercayakan hidup kita sejauh kita mengenalNya dengan intim. Kita perlu lebih mengenal Dia ddan mempercayakan hidup kita kepadaNyal. Iman berasal dari kata ‘pistis (Yunani)’ yang berarti ‘believe, moral conviction, assurance’. 1 Yohanes 2:6 menyatakan, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Itu berarti, jika kita mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka kita wajib hidup seperti Yesus hidup, dan memiliki moral seperti Tuhan Yesus.

Milikilah iman yang benar, supaya ketika Yesus datang kembali, Dia akan mendapati kita tetap setia dan memiliki iman. Miliki karakter dan watak seperti Tuhan Yesus sebagai tanda orang beriman. Fokus pada tujuan hidup kita agar menjadi serupa dengan Yesus, dan bukan menjadi serupa dengan dunia ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin!