FROM LEPER TO HELPER | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

FROM LEPER TO HELPER | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

FROM LEPER TO HELPER


Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

59-07-15

Dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”, Stephen Covey menyatakan bahwa apa yang kita hargai akan menjadi sumber/ pusat hidup kita, dan hal itu pula yang akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita (Whatever is at the center of our life will be the source of our security, guidance, wisdom and power).

Dalam kehidupan yang semakin sulit ini, seringkali umat Kristen terjebak untuk menjadikan Mamon (uang) sebagai sumber kehidupan. Beberapa pertanyaan di bawah ini patut kita tanyakan pada diri kita sendiri, Siapakah yang menjadi sumber kehidupan kita? Apakah Yesus atau Mamon? Ketika kita menaruh sumber pengharapan kita kepada Mammon, maka rasa aman, rasa berharga dan keberhasilan kita akan tergantung pada jumlah uang yang kita miliki atau kita hasilkan.

Ravi Zacharias juga menuliskan sejumlah pertanyaan yang menjadi titik balik manusia, baik atheis maupun orang percaya; “Dari mana aku berasal?; Apakah arti hidup ini?; Bagaimana cara menetapkan benar dari yang salah?; dan apa yang terjadi kepada saya ketika saya mati?

2 Raja-raja 6:24 menceritakan peristiwa saat bangsa Israel dikepung oleh raja Benhadad II dari Syria. Terjadi kelaparan hebat di negeri itu sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak. Keadaan tersebut sangatlah parah sampai ada warga yang bersepakat untuk bergantian memakan bayi mereka.

Salah satu dari mereka melaporkan hal tersebut kepada raja. Yang dikatakan raja tersebut mencerminkan bahwa pusat kehidupannya adalah Mamon, padahal dia mengenal Allah yang hidup (2 raja-raja 6:27). Ketika mengetahui yang sebenarnya, raja Yoram mengoyakkan pakaiannya sebab dia merasa tidak dapat menolong rakyatnya dan mulai menyalahkan Tuhan. Di saat itu juga dia membuat keputusan untuk membunuh Elia. Ketika ajudan raja datang hendak membunuh Elisa, Elisa mendapat ‘Divine Revelation’ dan menubuatkan bahwa besok krisis itu akan berakhir. Namun ajudan raja tersebut tidak percaya dan bahkan menertawainya. Elisa akhirnya juga menubuatkan bahwa ajudan raja tersebut akan mati oleh karena ketidakpercayaannya tersebut.

Ada lima pertanyaan besar yang harus kita pertanyakan kepada diri kita sendiri agar kita mengalami eksistensi hidup, yaitu: Why am I still alive?; Why I do what I do?; Why do I have what I have?; Who is going with me?; What am I carrying on the journey?

Pertanyaan yang sama dipertanyakan oleh empat orang kusta yang sama-sama mengalami krisis yang juga dialami oleh bangsa Israel. Bedanya adalah, mereka menolak untuk menyerah terhadap nasib dan memutuskan untuk pergi menuju ke perkemahan musuh. Mereka berpikir, daripada duduk-duduk dan menerima kematian begitu saja, akan lebih baik untuk mencari makanan di perkemahan musuh walau risikonya sama, yaitu mati.

Dengan campur tangan Tuhan, langkah mereka yang terseok-seok terdengar seperti barisan tentara perang sehingga seluruh pasukan Aram lari tunggang langgang. Kemudian teringatlah mereka kepada bangsa Israel yang mengalami kelaparan di dalam kota dan memutuskan kembali ke kota untuk menjadi penolong bagi bangsa Israel.

Raja tidak serta merta percaya atas kabar gembira yang mereka sampaikan, bahkan berpikir bahwa semua ini adalah jebakan untuk pasukan Aram dapat masuk ke dalam kota dan menghabisi bangsa Israel. Namun akhirnya perkataan mereka terbukti benar adanya dan krisis tersebut berakhir tepat seperti apa yang dikatakan oleh Elisa, termasuk kematian ajudan raja yang telah dinubuatkan sebelumnya.

Sebagai penderita kusta, mereka tidak memiliki alasan untuk tetap hidup. Dikucilkan keluarga, mati rasa terhadap tubuh, dan berbau karena luka, serta stigma yang diberikan masyarakat terhadap mereka. Namun Tuhan mau memakai orang yang dianggap hina untuk menyelamatkan bangsa Israel. Jangan sekali-kali menganggap remeh keadaan seseorang, karena selama seseorang masih hidup, Tuhan memiliki suatu rencana besar dalam hidup mereka untuk digenapinya.

Keadaan kita saat ini pasti jauh lebih baik daripada empat orang kusta dalam kisah di atas. Jika orang-orang yang tidak punya pengharapan seperti mereka saja dapat dipakai Tuhan, pasti Tuhan juga memiliki rencana besar atas hidup kita. Tanyakan pada diri kita sendiri; Why am I still alive? Why I do what I do? Jangan sia-siakan hidup ini dan genapi rencana besar Tuhan dalam hidup kita. Jangan berpangku tangan. Bangkit dan bersinarlah! Maka terang Tuhan akan muncul dalam hidup kita.

Pertanyaan lain yang harus kita pertanyakan pada diri kita sendiri adalah: “barang/beban apakah yang kita bawa selama perjalanan hidup ini (What am I carrying on the journey?)?” Lepaskanlah segala sesuatu yang membebani hidup kita, seperti hutang atau rasa bersalah, karena semuanya itu akan membebani hidup kita. Ketika kita menjalani hidup ini tanpa beban, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mencapai tujuan Ilahi yang telah ditetapkan Tuhan atas kita.

Bersyukurlah atas setiap sahabat yang diijinkan ada dalam hidup kita. Tanyakan pertanyaan ini pada diri kita: Who is going with me? Pastikan bahwa kita bersama dengan orang-orang yang benar ketika kita menjalani hidup ini. Hanya seorang sahabat sejatilah yang akan menyertai kita di saat susah dan sedih, yang akan menguatkan dan mengingatkan kita saat kita berjalan melewati saat-saat susah.

Apabila hari ini Tuhan mengijinkan kelimpahan dalam hidup kita, janganlah menjadi takabur. Tanyakan pada diri sendiri: Why do I have what I have? Socrates berkata bahwa ‘kelebihan kita adalah hutang kita kepada orang lain’. Mulailah memberkati orang dengan kelebihan kita karena pasti ada rencana Tuhan atas setiap harta yang dipercayakan dalam hidup kita. Sebagaimana kita lahir tanpa membawa apa-apa, maka kita juga tidak akan membawa apa-apa pada saat kita mati. Bermurah hatilah, karena itu adalah salah satu ciri warga Kerajaan Surga.

Sebagai anak-anak Allah, kita tidak boleh takut terhadap krisis. Justru dalam krisislah Tuhan akan memberkati anak-anakNya. Dalam krisis, kita akan memperoleh barang jarahan. Dalam krisis, Tuhan sendiri yang akan memberkati kita! Tuhan sendiri yang akan berperang ganti kita. Dia akan membuat mujizat demi mujizat dalam hidup kita saat krisis datang, sebab ada Kristus dalam setiap krisis (there is a Great Christ for every crisis) dalam hidup kita. Haleluya!