“The Lepers’ Lessons” | Pdt.Paulus Wiratno

“The Lepers’ Lessons” | Pdt.Paulus Wiratno

“The Lepers’ Lessons”


Pdt.Paulus Wiratno

12-07-15

MENEMUKAN MAKNA HIDUP

Manusia yang paling berbahagia adalah mereka yang telah menemukan makna atau arti kehidupan. Makna hidup tidak ditemukan dalam harta, tahta atau permata semata, makna ditemukan saat kita bisa menggunakan semua yang Tuhan berikan untuk tujuan kekal yang telah Tuhan tetapkan sebelum kita dilahirkan. Tujuan itu sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Efesus 2:10.

Namun sayangnya banyak orang masih belum atau bahkan tidak pernah menemukan arti kehidupan. Mereka yang tidak memiliki ‘a sense of accomplishment’ cenderung merasa hidupnya tidak berguna. Dan mereka yang merasa hidupnya tidak berguna biasanya kurang bahagia.

Saya akan mengajak Anda untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bisa dipakai untuk menemukan arti kehidupan. Untuk itu kita akan belajar dari kisah empat orang lepra (The Lepers’ Lessons) yang tertulis di II Raja Raja pasal 7. Kisah hidup mereka bisa menolong kita menjawab pertanyaan pertanyaan berikut ini.

MENGAPA SAYA MASIH DIBERI HIDUP?

Umur manusia itu singkat, Alkitab menggambarkannya seperti uap, rumput atau bayang-bayang. Hidup dan mati adalah misteri ilahi, hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan menghadap Allah Bapa dan kembali ke surga. Empat orang kusta telah mengambil kesimpulan bahwa mereka akan mati karena kelaparan atau mati dibunuh oleh musuh. Namun Tuhan telah memelihara dan mengijinkan mereka tetap hidup. Untuk apa mereka dibiarkan hidup? Tentu saja bukan untuk bertahan atau ‘having fun’namun untuk menjadi saluran kehidupan bagi umat Allah yang sedang terkepung oleh musuh.

Mari kita jujur dengan diri sendiri. Pernahkan Anda mengalami saat saat hampir mati? Pernahkah kita masuk dalam keputusasaan atau kekecewaan hingga membuat kesimpulan ‘mati aku’. Namun dengan pertolongan Allah, kita masih dibiarkan hidup? Pernahakah Anda bertanya “mengapa Tuhan masih mengijinkan saya hidup?” Kita masih diberi anugerah kehidupan karena rencana Allah belum selesai lewat kehidupan kita.

MENGAPA SAYA MELAKUKAN APA YANG SAYA LAKUKAN?

Seorang tukang kayu membuat sebuah kursi untuk tempat duduk. Desain selalu mengikuti fungsi, demikian juga dengan hidup. Manusia diberi karunia untuk bisa melakukan pekerjaan untuk bertahan hidup, dan menghidupi orang lain. Tujuan utama empat orang lepra pergi ke perkemahan musuh adalah untuk bisa makan. Maklum, mereka sedang mengalami kelaparan. Memang setiap manusia harus bekerja untuk cari makan, namun Tuhan menciptakan kita di dunia ini bukan hanya untuk mencari nafkah.

Ada juga manusia yang bekerja keras untuk mencari nama atau identitas. Memang seringkali ada orang yang mengasosiasikan jati dirinya dengan pekerjaan atau pencapaian. Memang tidak salah punya ambisi menjadi seorang manager atau bupati. Yang salah adalah mendongkrak harga diri dengan pekerjaan, gelar atau harta yang kita miliki. Jangan sampai kita menyesal karena hidup ini dihabiskan hanya untuk mencari kedudukan atau kekayaan dan lupa bahwa Allah telah mendesain manusia untuk melakukan pekerjaan yang punya nilai kekekalan. Untuk itu lakukanlah pekerjaan yang berkaitan dengan panggilan Allah dalam hidup Anda. Pernahkan Anda bertanya, “mengapa aku melakukan semuanya ini. Apakah pekerjaan yang aku lakukan hasilnya dapat aku nikmati saat masuk dalam kekekalan?” Temukanlah panggilan hidupmu.

MENGAPA SAYA MEMILIKI APA YANG SAYA MILIKI?

Empat orang yang sakit kusta itu terkejut karena tidak ada satupun tentara Syria yang berada di dalam kemah mereka. Semua telah lari ketakutan meninggalkan barang jarahan dan harta milik mereka. Itulah sebabnya setelah mereka “berpesta” mata mereka mulai tertarik dengan emas, permata serta kain kain mahal yang berada di depan mereka. Saat itu ‘aji mumpung dan keserakahan’ menguasai hati mereka. Maklum saja karena sebagai orang yang dianggap cacat atau najis, mereka tidak sempat memiliki semua jenis harta tersebut. Sifat serakah itulah yang telah membuat mereka mangambil, mengumpulkan dan menyembunyikan harta jarahan. Untung saja ada satu orang yang sadar dan berkata “apa yang kita lakukan itu tidak pantas”. Hidup ini tidak hanya untuk mendapat dan mengumpulkan. Kita diberkati untuk memberkati.

Sayangnya tidak banyak orang yang memahami bahwa kita diberi rejeki adalah untuk berbagi, bukan hanya untuk diri sendiri. Itulah sebabnya masih banyak orang kristen yang takut memberi. Mereka lupa bahwa rahasia diberkati adalah dengan memberkati, seperti yang tertulis dalam kitab Amsal 11:24-25. Rasul Paulus juga menasehati kita untuk berani memberi karena dari sanalah sumber kebahagiaan. “Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Secara gamblang, Yesaya 58 menjelaskan betapa hebat kuasa memberi. Memberi merupakan cara yang sangat baik menemukan arti kehidupan. Ingatlah yang satu ini “pertanyaan yang akan kita dengar di surga bukan “berapa banyak Anda memiliki, tetapi berapa banyak Anda telah memberi dengan apa yang Anda miliki?”

KESIMPULAN

Jika Anda bisa menjawab ketiga pertanyaan di atas, berbahagialah. Karena Anda sedang dalam perjalanan untuk menemukan makna kehidupan. Namun jika selama ini masih bingung dengan tujuan hidup, panggilan hidup dan arah kehidupan, susah saatnya Anda belajar dari “The Lepers’ Lessons”. Hidup ini baru bisa dikatakan hidup saat kita bisa hidup untuk orang lain.