Shake-proof Home (Rumah Tahan Goncangan) | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

Shake-proof Home (Rumah Tahan Goncangan) | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

Shake-proof Home
(Rumah Tahan Goncangan)


Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

09-08-15

Dalam Matius 7:21-29 Yesus telah mengatakan bahwa, tidak semua orang yang berseru “Tuhan.. Tuhan..”, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan hanya orang yang melakukan kehendak Bapa-lah yang akan masuk. Sebagai penutup, Yesus memberikan perumpamaan tentang rumah yang dibangun di atas dua dasar. Keduanya sama-sama mengalami ujian melalui hujan dan banjir, namun hanya rumah yang dibangun di atas dasar yang benarlah yang akan bertahan menghadapi semuanya.

Rumah (Oikia) berarti tempat tinggal yang melambangkan kehidupan kita, hati, atau juga tubuh kita. Batu (Petra) yang menjadi dasar atau fondasi dari pendirian rumah tersebut melambangkan Kristus sendiri, yaitu Firman Allah. Namun, batu itu dapat juga diartikan sebagai seorang ayah yang merupakan fondasi dari keluarga.

Ada tiga macam ujian yang akan dihadapi dalam setiap kehidupan: hujan, taufan/erosi, dan badai.

1. Hujan
Hujan dapat berarti ‘berkat’. Terkadang tak selamanya ‘berkat atau kekayaan’ mendatangkan kebahagiaan bila tidak disertai kondisi iman yang kuat. Seperti jemaat Laodikia yang sangat diberkati, namun karena kekayaan, mereka justru tidak lagi merasa membutuhkan Tuhan. Ketika manusia bergantung kepada harta benda, maka mereka otomatis juga tidak lagi akan merasa membutuhkan Tuhan. Jangan sampai ‘berkat’ menjauhkan kita dari Tuhan. Bangunlah kehidupan yang benar berdasarkan Firman Tuhan.

Matius 7:23, “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Kata ‘pembuat kejahatan’ berasal dari kata ‘anomia/ anomos’. ‘Anomos’ sendiri terdiri dari tiga bagian: ‘atheos’ (tidak mengakui adanya Tuhan), ‘autonomos’ (tidak taat, suka memberontak, membuat peraturan bagi dirinya sendiri), dan ‘anomos’ (segala macam pelanggaran).

2. Badai
Seluruh dunia ini akan mengarah kepada sistim satu kepemerintahan yang akan dipimpin oleh Antikris. Zakharia 9:13, “Sebab Aku melentur Yehuda bagi-Ku, busur Kuisi dengan Efraim, dan Aku mengayunkan anak-anakmu, hai Sion, terhadap anak-anakmu, hai Yunani, dan Aku akan memakai engkau seperti pedang seorang pahlawan
Kita melihat bahwa kebudayaan Greeko Roman akan dipakai sebagai standar dalam dunia ini agar kebudayaan sejati yang berlandaskan kebenaran Firman Tuhan perlahan-lahan memudar. Ada tujuh kultur kebudayaan negara-negara besar yang mulai mengkhamiri dunia ini, antara lain: Mesir, melambangkan roh keterikatan dan aborsi; Asyur, melambangkan roh perpecahan; Babylon, roh kebingungan; Media Persia/Sanbalat, roh yang membingungkan; Greece/Yunani, membuat hukum yang melawan kebenaran itu sendiri; dan Romawi, toleransi terhadap dosa (kecuali kekristenan). Inilah kebudayaan yang berkembang di dunia ini, mereka berusaha menghentikan kebenaran Alkitab yang menurut mereka sudah kuno. Kita harus menentang segala roh yang menentang kebenaran Firman Tuhan, karena dunia ini sedang berusaha dirusak oleh Iblis.

Kebudayaan Romawi mendukung toleransi dan persamaan hak, baik terhadap homoseksual, same sex marriage, incest, dan dosa-dosa lainnya. Kita perlu berhati-hati karena segala macam ‘anomos’ ini akan menimbulkan pride (kesombongan), perversity (segala macam penyimpangan), dan pansexsuality (yang lebih rendah dari perversity/ segala macam penyimpangan). Tanamkan kebenaran dan nilai nilai Firman Tuhan dalam hidup kita, bahkan kepada anak-anak dan keluarga kita, agar iman kita tidak goyah karena hantaman badai kebudayaan dunia yang berusaha menghilangkan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan. Kita perlu tahu bahwa dengan berdiri teguh di atas Firman Tuhan, kita akan selamat dari hantaman badai dunia ini.

3. Taufan/Erosi
Taufan akan datang ke dalam kehiudpan kita tanpa diundang dan semua itu adalah pekerjaan Iblis. Untuk itu kita harus yakin kita berdiri teguh di atas Batu Karang, yaitu Yesus sendiri supaya kita tetap tegar dan berdiri tegak walaupun badai datang menghadang.
Ayub adalah contoh orang benar yang tetap mengalami taufan dalam kehidupannya. Hartanya hilang, anaknya mati, dan istrinya menyuruhnya agar meninggalkan Tuhan. Walaupun demikian, Ayub tidak berbuat salah dengan mulutnya. Iman yang benar, yang dibangun diatas kebenaran Firman Tuhan, membuatnya tidak mudah hancur diterpa taufan.
Taufan/erosi ini dapat berupa tiga hal ini: humanisme, hedonisme, dan heresis/penyesatan.
Humanisme yakin bahwa Tuhan bukan lagi menjadi pusat kehidupan, tetapi manusia (aku dan aku). Bagi humanisme, agama adalah sebuah tirani/ penjajahan yang mengikat kebebasan HAM. Suatu saat nanti akan terjadi ‘christofobia’ yaitu sikap ‘anti’ terhadap segala sesuatu yang berbau kristen. Hedonisme adalah bermewah-mewah tanpa mau memkirikan dan mementingkan orang lain, membeli benda-benda yang tidak perlu untuk meningkatkan derajat dan harga diri. Heresis sendiri adalah usaha ‘Memanusiakan’ Yesus tanpa melihat keilahiannya. Heresis berusaha menggeser kebenaran bahwa Yesus adalah 100% manusia dan 100% Allah. Mereka berusaha memberi info bahwa Yesus murni Ilahi sehingga tidak mempunyai hawa nafsu dan tidak tertarik pada pria/wanita. Kita perlu berhati-hati, sebab semuanya ini adalah pekerjaan Iblis yang berusaha menggeser nilai-nilai kebenaran sedikit demi sedikit. Waspada, apa yang kelihatannya baik belum tentu benar. Pakailah kebenaran Firman Tuhan sebagai pijakan kita untuk berdiri teguh.

Tuhan Yesus hanya memberi dua pilihan terhadap kita. Apakah kita memilih menjadi manusia bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir, ataukah manusia bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas Batu Karang yang teguh? Yesus adalah Batu Karang yang Teguh, tempat kita berlari kepadaNya dan menjadi selamat.Tegakkanlah kebenaran Firman Tuhan, baik dalam kehidupan kita, pekerjaan kita, keluarga kita, dan rumah tangga, supaya kita tetap berdiri teguh dalam menghadapi penyesatan yang sudah semakin nyata di depan mata ini. Tuhan memberkati!