Why We Need Divine Reevelation | Pdt. Daniel Januar Tanudjaja

Why We Need Divine Reevelation | Pdt. Daniel Januar Tanudjaja


Why We Need Divine Reevelation

Pdt. Daniel Januar Tanudjaja

23-08-15

Divine Revelation adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Namun, kita sering salah mengartikan bahwa pewahyuan (revelation) hanyalah untuk seseorang yangmemiliki ‘urapan khusus’ saja. Kita sebagai manusia memiliki Allah yang menyatakan diriNya kepada semua orang, karena kita diciptakan serupa gambar dan rupa Allah. Selain itu, Tuhan kita adalah Tuhan yang berelasi dan berkomunitas, seperti Tri Tunggal Maha Kudus yang tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Karena sifat alamiah Tuhan yang berelasi itulah maka  Tuhan juga ingin berkomunikasidengan kita melalui pewahyuan (revelation). Karena itu, ‘divine revelation’ seharusnya menjadi pengalaman kita sehari-hari. Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang mati. Kita memiliki Tuhanyang rindu berbicara dengan kita. Dia hidup dan bertindak dalam hidup kita.

Seperti halnya Allah adalah Roh, maka kita juga memiliki roh oleh karena diciptakan serupa dengan gambar Allah. Dan roh yang ada dalam kita juga adalah roh yang aktif dan hanya dapat berhubungan atau berkomunikasi dengan roh yang sejenis. Tubuh kita adalah bait Allah, tempat Roh Allah diam di dalamnya. Roh yang ada dalam kita adalah Roh yang aktif menyatakan kehendakNya dalam diri kita melalui keintiman. Keintiman adalah satu cara yang dapat membedakan hal yangkita peroleh itu berasal dari Tuhan atau suara hati kita. Semua pengalaman rohani harus dapat disahkan dan diuji oleh Alkitab yang adalah Firman Allah. Itulah pentingnya kita mengenal Allah melalui FirmanNya. Melalui pewahyuan ada hal-hal yang diubahkan, antara lain:

1. Membuat mata hati kita menjadi terang (Efesus 1:18);

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang(the eyes of your understanding being enlightened), agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”,‘mata’ memiliki arti kemampuan yang membuat kita mengerti perkara-perkara yang seringkali tidak kita mengerti, seperti tragedi, kesukaran, tantangan, dan lain sebagainya. Melalui ‘mata’ ini kita diijinkan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah di tengah masalah dan ketidak mengertian kita, supaya kita dapat mengatakan seperti yang Ayub katakan, “ Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.."(Ayub 42:5).Hal yang sama dialami oleh bujang Elisa saat dia melihat tentara Aram mengepung (2 Raja-raja 6:15-17). Elisa tenang karena dia sanggup melihat sebagaimana Tuhan melihat dan Elisa berdoa ketika bujangnya tak sanggup melihat melampaui mata jasmaninya. Hal ini juga yang seharusnya menjadi doa kita saat mengalami hal yang tidak dapat kita mengerti. Berdoa agarTuhan membuka mata hati kita dan kita dapat ‘melihat’.

2. Mengerti akan pengharapan panggilanNya (Efesus 1:18b)

Iman akan kuat ketika pengharapan masih ada (Ibrani 11:1). Jika pengharapan hilang, maka iman akan hancur, sebab pengharapan adalah blue print dari iman. Iman melampaui apa yang dapat kita lihat, dan pengharapan adalah landasannya. Lewat itulah kita dapat melihat pengharapan akan panggilanNya. Orang yang tidak hidup dalam panggilannya tidak memiliki tujuan hidup dan akhirnya mengalir tanpa memiliki arti hidup yang sebenarnya. Milikilah panggilan Tuhan dalam hidup kita dan berlari di dalamnya supaya kehidupan kita memiliki hidup yang berarti dan dapat meraih tingkatan sukses dalam hidup dan menjadi berarti bagi orang lain untuk kemudian meninggalkan ‘legacy’ atau warisan bagi penerus kita berupa nilaiatau ‘vallue’.

3. Pewahyuan yang menyatakan betapa kayanya kemuliaan-Nya dalam hidup kita (Efesus 1:18c)

Kolose 1:25-27 mengatakan, “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.”  Kehadiran Kristus dalam hidup kita adalah kunci pewahyuan bagi penyataan kemuliaan-Nya. Kemuliaan ini adalah kualitas ilahi dalam hidup kita. Ketika Kristus dinyatakan dalam hidup kita, keluarga kita dan pekerjaan kita, maka kemuliaanNya juga dimanifestasikan. Saat kita tetap melakukan kebenaran Firman tak peduli apapun yang terjadi  dan membagikannya bagiorang lain, maka nama Tuhan dipermuliakan. Dengan kata lain, orang harus dapat melihat Tuhan lewat perbuatan kita (LIGHT) sehingga kita mempunyai kehidupan yang berkualitas (SALT). Jadilah garam dunia dan terang dunia yang memberi dampak dalam hidup.

4. Pewahyuan akan membuat kita hidup dalam kuasaNya

Syarat untuk memiliki ‘kuasa’ ini sederhana, kita hanya perlu percaya. Musuh kita adalah roh yang tidak kelihatan. Efesus 6:10-12 berkata bahwa kita harus kuat dalam Kristus Tuhan.“ Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlahseluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;  karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Hidup ini adalah peperangan, kita perlu menannggungnya dengan tekun dan sabar. Untuk semua itu, kita harus memiliki kuasa ilahi dalam hidup kita (Kolose 1:11) sebab semua tanda-tanda inilah yang akan menyertai ‘orang percaya’.

Kita perlu memiliki kekuatan dan kuasaNya dan untuk lebih mengerti akan rencana Allah dalam hidup kita. Mata kita perlu ‘tercelik’ sehingga kita dapat lebih memaknai hidup ini dan menjadi berkat bagi sesama kita. Semua ini bisa kita dapatkan jika kita mengejar Tuhan dan menikmati FirmanNya serta mendapatkan pewahyuan ilahi (divine revelation). Kejarlah Tuhan dan kebenaran FirmanNya. Selama kita percaya dan tinggal dalam hadiratNya, semua ini akan dapat kita peroleh. Amin!