Budaya Manusia Baru | Ps. Jonathan Patiassina

Budaya Manusia Baru | Ps. Jonathan Patiassina

Budaya Manusia Baru


Ps. Jonathan Pattiasina

30-08-15

Sebagai orang kristen, kita perlu mengerti pentingnya pewahyuan dari Tuhan karena seringkali orang Kristen hanya mengejar sesuatu yang tidak ada dalam diri mereka, tanpa menyadari bahwa Kristus – Kuasa yang besar itu – ada dalam kita. Kita perlu berfokus pada ‘apa yang ada dalam kita’. Kita harus membangun gaya hidup yang bersumber kepada Kristus, yang hanya dapat kita mengerti melalui pewahyuan. Kekristenan tanpa pewahyuan dari Tuhan sama seperti kebaktian penghiburan, karena tidak ada hal yang membuat kita bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Dengan kata lain, kita dapat bertumbuh lebih dekat kepada Tuhan hanya jika ada pewahyuan yang berasal dari Dia.

Dalam Matius 16, Tuhan bertanya kepada murid-muridNya tentang pengenalan mereka akan diriNya. Ketika Petrus menjawab bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah, Yesus berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Ini berarti pernyataan Petrus tidak datang dari manusia, tetapi merupakahan pewahyuan dari Bapa. Artinya, kita tidak mungkin bertumbuh dalam pengenalan akan Bapa apabila kita tidak menerima pewahyuan dari Tuhan dan pewahyuan adalah hak semua orang yang percaya dan menerima Yesus dalam diri mereka.

2 Korintus 5:15, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Siapapun yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Kata ‘ciptaan baru’ menunjukkan bahwa yang ‘baru’ adalah manusia roh. Itu berarti, ‘manusia baru’ perlu pertumbuhan sehingga mampu menerima pewahyuan dari Tuhan.

1. Manusia baru harus mengalami pertumbuhan dan perubahan ke arah Kristus.
Perubahan dan pertumbuhan seharusnya merupakan budaya dalam manusia baru. Manusia baru hanya akan berhenti bertumbuh apabila kita berhenti menerima pewahyuan dari Tuhan. Jangan mengenal Tuhan hanya berdasarkan dimensi masa lalu kehidupan kita, sebab berapa lama waktu dalam mengikuti Tuhan tidak memengaruhi pertumbuhan kerohanian seseorang.
Pertumbuhan rohani harus diikuti dengan keputusan untuk memberi makan manusia rohani. Jika kita tidak bertumbuh, maka akan sulit bagi kita untuk mengerti kehendak Allah. Selain itu, saat tidak bertumbuh secara rohani, kita akan sulit untuk mengerti kehendak Allah dan akan cenderung akan melukai sesama.
Kita harus terus maju dan bertumbuh karena kita memiliki Allah yang terus maju ke depan, progresif dan positif. Karena itulah, manusia roh kita harus maju dan bertumbuh maju dalam pengenalan akan Tuhan. Galatia 4:1-3 menjelaskan bahwa bertumbuh adalah satu-satunya cara agar kita dapat menikmati semua janji yang diberikan Tuhan. Untuk itu. kita membutuhkan kasih karunia Allah agar dapat terus bertumbuh untuk mengenal Dia dengan lebih baik lagi.

2. Terlatih membedakan, dan untuk ‘latihan’ ini, diperlukan kerja keras
Ibrani 5:12 juga mejelaskan bahwa lama waktu seseorang mengikuti Tuhan tidak menentukan kedewasaan rohaninya. Ayat ke 14 berkata, “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Panca indera ada dalam tubuh tetapi diaplikasikan ke dalam manusia roh. Dalam arti, manusia roh kita harus diisi dengan kebenaran dan dibiasakan atau dilatih terus menerus sehingga dapat membuat keputusan yang benar(secara jasmani), sehingga apapun yang kita putuskan (secara jasmani) lahir dari kebenaran akan Firman Tuhan.
1 Korintus 13:11, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Kata ‘meninggalkan’ berarti juga ‘mematikan’ sifat kanak-kanak. Kita harus memiliki keputusan yang bulat untuk mematikan sifat kanak-kanak rohani kita agar mampu bertumbuh, dan pertumbuhan rohani kita terlihat dari mentalitas, cara kita berpikir, berkata-kata, dan merasa.

Kita harus bertumbuh ke arah Kristus dan berubah, sehingga sesama kita dapat merasakan perbedaannya. Mengikuti Tuhan adalah suatu proses panjang. Selama ‘proses’ kita harus tetap setia dan menikmati pertumbuhan yang ke atas secara terus menerus sampai akhirnya kita hidup sama seperti Kristus hidup. Amin!