Don’t Pass The Broken Baton | Ps Hanny Yasaputra

Don’t Pass The Broken Baton | Ps Hanny Yasaputra

Don’t Pass The Broken Baton

Ps Hanny Yasaputra

06-09-15

Mazmur 11:3,  “Apabila dasar-dasar  dihancurkan,  apakah yang dapat  dibuat oleh orang benar itu?”   Kata ‘dasar’ mengacu kepada ‘orang tua’ sebagai dasar atau fondasi dalam sebuah keluarga.Jika  orang tua tidak meenjadi ‘dasar’ yang benar, maka keluarga tidak akan memiliki penggenapan janji  Tuhan terhadap mereka,  padahal  orang  tua  perlu  meneruskan ‘tongkat  estafet’  terhadap generasi di bawah mereka.

Myles Munroe pernah berkata, “Akhir dari segala sesuatu terlebih baik dari awalnya, dan akhir yang gemilang bergantung dari  siapa yang ditaruh untuk meneruskan posisi  kita selanjutnya.”Namun sayangnya, banyak pemimpin yang mengawali sesuatu dengan goal dan mimpi yang luar biasa  tanpa  ada  yang  meneruskan  ketika  mereka  meninggal  atau  saat  kepemimpinan  mereka berakhir. Salah satu rahasia untuk finishing well adalah berakhir dengan ‘orang’ dan ‘suksesi’ (orang yang meneruskan sukses).

Saat berbicara tentang ‘Kingdom Legacy’,  hal ini tidak lepas dari  ‘familyhood’. Sebagai orang tua, keberhasilan tidak hanya dilihat dari warisan yang ditinggalkan tetapi juga dari nilai  (value) dan legacy kepada  anak-anaknya.  Salah  satu  contoh  kehidupan  seseorang  di  Alkitab  yang  tidak meneruskan ‘legacy’ yang benar kepada anak-anaknya adalah Saul. Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel dan dia mengawali masa kepemimpinannya dengan baik. Namun di akhir hidupnya,Saul tidak memberikan ‘legacy’ yang benar sehingga keturunannya dicerai beraikan. Hal ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus benar-benar melekat kepada Tuhan, agar kita dapat meneruskan ’value’ dan ‘legacy’ yang benar kepada keturunan kita.

1 Samuel 19:1 dan 4 menuliskan, “Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh. Tetapi Yonatan, anak Saul, sangat suka kepada Daud, … Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya: “Janganlah raja berbuat dosa  terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu, bukan kahapa yang diperbuatnya sangat baik  bagimu!”  Sebagai  seorang ayah,  seharusnya Saul  memiliki dasar-dasar kebenaran yang teguh dan  memberikan contoh yang baik kepada Yonatan, anaknya. Tetapi yang terjadi justru Yonatan memiliki dasar yang benar dibanding ayahnya, seorang raja yang berusaha menekan seseorang melalui kuasa tangannya. Meskipun Daud telah mempersembahkan hal  yang  terbaik  dengan  kemenangannya  di  medan  perang  (ayat  9),  namun  tetap  saja  Saul berkeinginan untuk membunuhnya. Saul memberikan  ‘deposit’ yang salah kepada anak-anaknya ketika ia iri hati kepada prestasi Daud yang membunuh berlaksa-laksa.

Sangatlah mengerikan, kalau kita sebagai orang tua tidak memiliki dasar-dasar kebenaran dan tidak mau  mendengarkan  masukan  ataupun  nasehat  dari  orang  lain  karena  sebagai  orang  tua  kita merasa  ‘selalu benar’. Kita harus berhati-hati terhadap apa yang kita tabur terhadap anak-anak kita, baik  ‘perkataan-perkataan’  maupun ‘pemikiran-pemikiran’ yang tidak sengaja kita bicarakan kepada mereka. Sebab setiap hari dalam kehidupan mereka, kita memberikan  ‘deposit’ kepada mereka melalui tindakan dan kata-kata kita. Sebuah kalimat bijak berkata, “bukan tugas kita untuk membesarkan anak-anak kita agar tegar dalam menghadapi kehidupan yang keras dan tidak adil ini. Adalah Tugas kita untuk membesarkan anak-anak yang akan membuat dunia  lebih baik dan berperasaaan lagi.”

Jangan mendidik anak-anak kita dengan cara yang ‘keras’ dengan tujuan ‘tegar’. Jangan pandang remeh anak-anak kita yang memiliki   hati yang lembut.  Hati seseorang adalah milik Tuhan dan setiap  proses  kehidupan  mereka  adalah  milik  Allah.  Biarkan  Tuhan  menggurat  kisah  mereka masing-masing  agar  namaNya  dipermuliakan  melalui  kehidupan  mereka  masing-masing. Berharaplah kepada Tuhan agar anak-anak kita, sebelum menjadi anak-anak kita, mereka terlebih dahulu menjadi anak Tuhan.

Saat kita melayani Tuhan ataupun menjadi hamba Tuhan, tidak otomatis anak-anak kita jadi benar. Siasat Iblis adalah untuk menghancurkan setiap generasi di bawah kita, karena itu serahkan anak-anak kita kepada Yesus agar Tuhan dapat menuliskan kisah dalam kehidupannya. Jangan menyerah apabila anak-anak kita belum memiliki kehidupan yang benar. Tetaplah berharap kepada Tuhan dan lakukan  apa  yang  benar.  Yakin  bahwa  kehidupan  kita  sudah  benar  agar  menjadi  dasar  bagi kehidupan yang benar untuk diteruskan kepada anak-anak kita.

Selanjutnya, kita perlu mengontrol emosi kita, supaya apapun yang kita bicarakan dapat masuk kedalam pikiran mereka dan konsep dan pemikiran yang benar dapat masuk ke dalam kehidupan dan pemikiran mereka sendiri.

Ajarkan integritas sedini mungkin kepada mereka. Jangan bangun hal-hal besar untuk keluarga kita baik berupa karir ataupun prestige, tetapi mulailah dengan integritas. Terapkan integritas melalui diri kita sendiri, apakah kita tetap sama dan tidak terpengaruh dengan siapa kita bergaul. Jangan berubah karena pergauluan kita. Apakah kita mau mengambil keputusan yang terbaik bagi orang lain  saat  hal  tersebut  mungkin  merugikan  kita.  Jangan  mengambil  keputusan  yang  hanya menguntungkan diri kita sendiri.

Putera-puteri kita memiliki emosi sendiri, karena itu jadilah tempat yang aman bagi mereka untuk berlindung.  “The  best  medicine  for  human  is  love”,  jadikanlah  kasih  Tuhan  sebagai  obat  bagi keluarga kita. Jangan menyerah pada keadaan keluarga kita, apapun yang terjadi. Tetaplah berdoa dan berserah kepada Tuhan.  Jadikan  diri  kita  contoh yang baik  kepada anak-anak kita,  supaya ’value’ yang kita teruskan kepada generasi ini dapat dilanjutkan dengan baik kepada generasi dibawahnya dan terjadi ‘kingdom legacy’. Amin!