MOSAIC LEADERSHIP | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

MOSAIC LEADERSHIP | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

MOSAIC LEADERSHIP


Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

13-09-15

Keluaran 31:18 menuliskan bahwa Tuhan memberikan pewahyuan (divine revelation) berupa dua loh batu kepada Musa. Namun, bangsa Israel yang menunggu Musa menjadi gusar. Mereka menuntut agar Harun membangkitkan ilah yang dapat mereka ‘pegang’, dan  Harun akhirnya membuat anak lembu emas untuk bangsa Israel. Saat turun dari gunung Sinai, Musa mendapati bangsa Israel bersukacita disamping patung lembu tersebut. Meskipun marah, Musa akhirnya kembali naik ke atas gunung untuk memohon pengampunan bagi bangsa Israel. Tuhan kemudian berfirman, “ Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.” (Keluaran 32:33)

Firman Tuhan tidak akan pernah berubah, sekalipun langit dan bumi berlalu. Jangan menambahi, mengurangi, ataupun mengubah sebagian dari Firman Tuhan. Jangan pernah mempermainkan Firman, karena Allah tidak bisa dipermainkan. Saat ini kita hidup di akhir jaman, saat penyesatan bertambah nyata. Cernalah Firman Tuhan dengan benar, dan jangan biarkan diri kita disesatkan oleh pengajaran yang tidak benar.

Sama seperti bangsa Israel yang menunggu Musa, kita juga menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Jangan sampai kita menjadi durhaka dan melawan otoritas seperti yang dilakukan bangsa Israel. Kita harus tetap menghormati otoritas kita, baik orang tua maupun pemimpin yang berada di atas kita.

Ada beberapa contoh orang dalam kisah ini, antara lain: bangsa Israel, Harun, Yosua, dan Musa. Mereka semua menggambarkan contoh kepemimpinan seseorang dalam hidup ini.

1. Incorrigible Ordinary People (Umat yang tidak dapat dinasehati lagi)
Sebagai umat tuhan, kita harus menghormati dan taat kepada otoritas, dan tidak bertindak semau kita sendiri. Durhaka dimulai ketika seseorang tidak menghargai pemimpin di atasnya. Dalam Keluaran 32:1 bangsa Israel berkata kepada Harun, “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir  —  kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.” Firman Tuhan berkata bahwa kita harus menghormati pemimpin kita sebab mereka yang berjaga-jaga atas jiwa kita dan bertanggung jawab atasnya (Ibrani 13:17).

2. Irresponsible Aaronic Priest (Imam Harun yang tidak bertanggung jawab)
Harun menjadi gemetar oleh karena permintaan bangsa Israel yang meminta ilah bagi mereka. Sebagai imam, kita seharusnya memberitakan kebenaran Firman kepada sesama kita dan bukannya menuruti ‘kebenaran versi orang banyak’. Kita harus berhati-hati dengan tipe pemimpin seperti ini. Seiring dengan akhir jaman, banyak pengajaran yang tidak bertanggung jawab dan cenderung menyenangkan manusia. Seperti hyper grace yang menyatakan semua manusia berkenan dan diampuni dosanya, dahulu, sekarang dan selama-lamanya, ataupun pengajaran yang mendukung pernikahan sesama jenis. Dosa adalah dosa, jangan pernah mengaburkan batas antara kebenaran dan dosa. Seorang pemimpin haruslah berdiri di atas kebenaran dan tidak boleh dipelintir oleh segelintir orang.

3. Inexperienced Emerging Joshua Generation (Generasi Yosua yang belum berpengalaman)
Yosua adalah hamba dari Musa dan sedang mengalami proses pembentukan untuk menjadi seorang pemimpin seperti Musa. Setialah terhadap setiap proses dan pembentukan, sebab kita semua adalah lebih dari pemenang!

4. Intercessory Mosaic Leadership (Kepemimpinan Musa sebagai Juru Syafaat)

Musa adalah pemimpin yang berani menyatakan bahwa apa yang dilakukan bangsa Israel adalah dosa dan sangat mendukakan hati Allah. Dia berani menghancurkan patung lembu tersebut dan mengatakan agar orang yang benar berdiri disampingnya. Sebagai imam dan pemimpin kita harus berani menyatakan mana yang benar dan mana yang salah. Jangan terjebak dengan pengajaran abu-abu. Kita harus takut akan Allah daripada takut akan apa kata orang, sebab takut akan Allah adalah permulaan hikmat.

Kita harus menjadi jemaat yang takut akan Tuhan. Firman Tuhan berkata dalam Keluaran 32:29, “Baktikanlah (consecrate) dirimu mulai hari ini kepada TUHAN, ….—  yakni supaya kamu diberi berkat pada hari ini.” Ketika kita hidup takut akan Allah dan membaktikan/menyucikan (concsecrate) hidup kita, maka berkat itu akan datang ke dalam hidup kita. Senangkan hati Tuhan, maka akan ada pintu-pintu yang terbuka dalam hidup kita. Bahkan kebajikan dan kemurahan akan mengikuti kita sepanjang hidup kita. Haleluya!

Kita harus memiliki kehidupan yang  meningkat. Jangan hanya jadi umat yang tidak dapat dinasehati. Atau bahkan menjadi orang yang ketika dinasehati, memilih untuk berganti agama dan berpindah keyakinan. Jangan pula menjadi seorang imam yang tidak bertanggung jawab dan menyalahkan orang lain. Kita harus menjadi imam seperti Musa, dan untuk mencapai itu kita harus melalui fase seperti Yosua yang menjadi generasi belum berpengalaman.

Setiap kepala keluarga, bahkan setiap pribadi, harus menjadi juru syafaat yang menjadi perantara antara Tuhan dengan bangsanya. Ketika Harun menyalahkan bangsa Israel yang menyebabkan dia membuat patung lembu emas, Musa naik ke atas gunung dan memohon ampun kepada Tuhan. Pemimpin adalah seseorang yang bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Musa menanggung kesalahan bangsa Israel dan memohon pengampunan atas mereka. Allah adalah Allah yang adil. Ia menghukum orang yang bersalah kepadaNya. Pastikan jangan ada berhala dalam hati kita, singkirkan lembu-lembu emas dalam hati kita, apapun bentuknya. Sebab Allah kita adalah Allah yang pencemburu.

Selain itu, kita harus uji setiap pengajaran yang ada di akhir jaman ini. Jangan mudah panik ataupun terpengaruh dengan macam-macam pengajaran yang tidak bersumber dari Firman Tuhan, supaya kita didapati tetap setia sampai akhir jaman. Amin!