Living Victorious Like Noah At The End of Times | Ps. Timotius Arifin Tedjasukmana

Living Victorious Like Noah At The End of Times | Ps. Timotius Arifin Tedjasukmana

Living Victorious Like Noah
At The End of Times


Ps. Timotius Arifin Tedjasukmana

06-12-15

Saat-saat ini adalah akhir dari jaman, dan kita melihat bahwa penganiayaan terhadap orang percaya mulai terlihat di mana-mana. Mulai dari Timur Tengah, Sudan, Irak, Suriah, bahkan sudah melebar sampai ke Negara-negara Eropa dan Amerika. Semua itu hanya permulaan, suatu ‘alarm’ supaya kita ‘bangun dan sadar’ bahwa masa ini adalah masa akhir jaman. Untuk itu, kita harus waspada dan berjaga-jaga, supaya pada akhirnya kita dapat memperoleh hidup kekal yang berkemenangan.

Nuh hidup di jaman yang keadaannya mirip dengan masa sekarang, masa di mana kejahatan merajalela. Firman Tuhan mengatakan dalam Lukas 17:26-27, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum (berpesta pora), mereka kawin dan dikawinkan (they were given in marriage), sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.”

Nama Nuh memiliki arti ‘rest, comfort’ (Kejadian 5:28-29), dan dia memiliki tugas sebagai ‘pembawa damai/pembuat damai’. Kejadian 6 menulis, Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia, namun yang justru terjadi adalah ‘lawlesness’ /ketiadaan hukum. Hal tersebut memilukan hati Tuhan dan Dia menyesal telah menciptakan manusia (ayat 1-7). Namun di ayat berikutnya dikatakan bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Nuh hidup benar dan tidak bercela (Tamiym: tidak bercela, perfect, whole), meski keadaan dunia saat itu telah rusak dan penuh dengan kekerasan (Kejadian 6:11).

Hal-hal yang harus kita contoh dari Nuh agar kita dapat memiliki hidup yang berkemenangan di tengah-tengah jaman yang semakin rusak ini, antara lain:

  1. Noah walked with God – Righteousness Person (Kejadian 6:8-9)
    Nuh dibenarkan (Tsaddiq: benar, righteous) karena dia mendapat kasih karunia dari Allah.
    Roma 5:17 mengatakan bahwa kebenaran adalah pemberian Tuhan. Sayangnya, saat ini kebenaran tidak dihargai lagi. Tetapi kita perlu sadar bahwa saat kita berjalan dengan Tuhan, akan lahir kebenaran-kebenaran yang berdasarkan Firman Tuhan.
  2. Noah worked with God – Heir of Righteousness (Ibrani 11:7, Kejadian 7:5, 9, 16)
    Nuh memulai suatu pekerjaan besar dengan melakukan langkah pertama bersama Tuhan. Pekerjaan membangun bahtera yang memakan waktu seratus tahun, diawali dengan menebang sebuah pohon, dengan ketaatan kepada perintah Tuhan (move with Godly fear), meski Nuh tidak melihat hujan,maupun tanda-tanda air bah, bahkan tidak pernah tahu tentang bahtera sebelumnya. Hal ini yang membuat Nuh menerima kebenaran sesuai dengan imannya (heir of righteousness). Orang benar akan menghasilkan karya kebenaran (heir of righteousness), inilah yang ditinggalkan orang benar kepada keturunannya.

3. Noah Witnessed for God – Preacher of Righteousness (2 Petrus 2:5)
2 Petrus 2:5, “dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu (but saved Noah, one of eight people, a preacher of righteousness), dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik
Nuh memberitakan kebenaran Tuhan kepada orang-orang di sekelilingnya selama seratus tahun, tanpa ada orang yang mau mendengarkan selain keluarganya sendiri, dan akhirnya hanya keluarga Nuh yang diselamatkan dari air bah.
Kita harus menjadi contoh yang benar bagi orang-orang di sekeliling kita, terlebih bagi keluarga kita. Jangan hanya pandai berbicara di depan mimbar, kita juga harus melakukan apa yang kita bicarakan. Jadilah pembawa kebenaran seperti Nuh.

4. Noah worshipped God (Kejadian 8:20)
Tuhan tidak pernah lupa ataupun mengingkari janjiNya kepada kita, sebab Dia mengingat kita (Kejadian 8:1). Saat berada dalam bahtera, Nuh tetap menyembah Tuhan (ayat 20, 21). Persembahan Nuh menyenangkan hati Tuhan sampai Tuhan berjanji untuk tidak lagi menghukum manusia dengan air bah. Melalui Nuh, seluruh dunia turut memperoleh janji Tuhan.

Kita perlu meneladani kehidupan Nuh untuk dapat bertahan di akhir jaman yang semakin jahat ini. Mulailah dengan hidup yang melekat kepada Bapa, berjalan bersama dengan Dia, bekerja dengan Tuhan, menjadi saksiNya, dan menyembah Tuhan, sampai sekeliling kita mengetahui bahwa kehidupan kita dipimpin oleh Tuhan Pencipta langit dan bumi. Dia sendiri yang akan membuat perbedaan antara orang percaya dan yang tidak. Haleluya!