Mengenal Allah Dengan Benar | Ps. Sofyan Suteja

Mengenal Allah Dengan Benar | Ps. Sofyan Suteja

Mengenal Allah Dengan Benar


Ps. Sofyan Suteja

13-12-15

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10)

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus dan merupakan bagian dari menjadi salah satu surat terakhir yang ditulisnya saat di dalam penjara. Surat ini merupakan isi hati Paulus, yang dalam keadaan tersiksa dalam penjara, justru yang menjadi kehendaknya adalah untuk mengenal Allah. Pengenalan terhadap Allah menjadi penentu tindakan dan perbuatan kita, dan hal itu juga yang menjadikan kuasa kebangkitan terjadi dalam kehidupan kita. Pengenalan yang benar akan Allah dari seseorang tidak dapat dilihat berdasarkan lamanya dia menjadi Kristen namun dilihat dari apa yang telah dia perbuat bagi Allahnya selama dia hidup. Jadi, jika kita mengenal Allah yang benar, maka kita mampu hidup seturut dengan Firman Tuhan. Itulah pentingnya kita mempunyai pengajaran Firman tentang Allah yang benar, karena pengajaran yang benar akan diikuti oleh roh yang benar, perbuatan yang benar, dan kuasa yang benar. Pengenalan akan Allah harus berdasarkan motivasi yang benar pula. Ketika motivasi hati kita benar, maka kuasaNya akan diberikan dalam hidup kita secara berlimpah-limpah. Haleluya!

Ketika kita mengenal Allah dengan benar, berbagai macam cobaan dan badai hidup tidak akan dengan mudah membuat kita kecewa kepada Allah dan membuat kita menjadi pahit hati. Urapan yang ada dalam diri kitalah yang akan membuat kita menang atas segala permasalahan hidup kita.

Rasul Paulus sebelumnya adalah orang yang mencari Allah melalui hal-hal lahiriah (Filipi 3:4b-6). Semuanya itu membanggakan secara hukum agama bangsa Yahudi. Namun, sejak Paulus mengenal Allah dengan benar, semuanya itu dianggap rugi. Filipi 3:7-8 mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

Seluruh hidup kita seharusnya berlandaskan pada pengenalan Allah dengan benar. Ketika kita mengenal Allah dengan benar, maka hidup kita akan benar, termasuk menerima kuasa dan pengurapan yang menyertai kebenaran itu. Kita tidak lagi menjadi takut untuk masuk ke dalam persekutuan akan penderitaanNya. Di saat itulah kita perlu menyangkal diri, sebab daging kita memang lemah namun roh penurut.Di saat itu pula motivasi hati kita akan diuji. Untuk itu, jangan pernah melakukan sesuatu untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi tundukanlah diri kita kepada kehendak Tuhan.

Kata ‘mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya’ berbicara juga tentang pengurapan. Namun, jangan kita lupa, bahwa untuk mendapatkan kuasa tersebut, kita harus melalui proses menjadi ‘serupa dengan Dia dalam kematian-Nya’, yang artinya adalah menyangkal diri dan mematikan kedagingan kita agar kita bisa menjadi serupa dan segambar dengan Kristus. Saat kita menundukkan diri kita kepada Allah, meskipun kita masih memiliki kepentingan dan keinginan daging, di saat itulah kuasa kebangkitanNya nyata dalam hidup kita.Berikan respon yang benar dan lakukan bagian kita, maka Allah sendiri akan turun tangan dalam kehidupan kita.

Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita saat kita memasuki proses penderitaan. Semua proses itu bukan bertujuan untuk mematikan kita, tetapi untuk memunculkan motivasi kita. Ketika kita taat, berserah, dan mematikan daging kita sendiri, kuasa Allah akan nyata dalam hidup kita sehingga kita menjadi serupa dengan AnakNya,dan hidup kita bisa menjadi kesaksian bagi orang lain. Oleh sebab itu jangan takut akan penderitaan, karena semuanya tidak akan melebihi kemuliaan Allah. Justru kita akan menjadi serupa dengan Allah melalui persekutuan dalam penderitaanNya.

Yohanes 4:10 menulis, ”Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Masalah terbesar manusia adalah ketidak percayaan, kebimbangan, dan keragu-raguan. Semuanya itu mengakibatkan kita tidak dapat menerima kasih karunia dari Tuhan. Kerinduan dan kehausan kita akan Tuhan tidak akan sia-sia, namun jangan ragu ataupun bimbang. Karena kebimbangan akan menghalangi kita menerima kasih karunia. Taat, tunduk, dan setia pada proses pembentukan. Miliki pengenalan akan Allah yang benar, maka kita tidak akan takut menghadapi ujian iman dalam bentuk apapun juga. Semuanya itu akan memurnikan iman kita sehingga kita menjadi serupa dengan AnakNya yang tunggal, Tuhan kita. Sewaktu kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, maka otoritas Tuhan turun karena kita tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.