The Discipline by Grace | Pdt. Gunawan Handojo

The Discipline by Grace | Pdt. Gunawan Handojo

The Discipline by Grace


Pdt. Gunawan Handojo

20-12-15

Orang Kristen seringkali terjebak dengan apa yang dikejar, Sorga dijadikan tujuan akhir (goal) dalam kekristenan. Tuhan hadir dalam dunia agar manusia kembali kepada rencana awal penciptaan. Karena dosa, kutuk masuk dalam hidup manusia dan merusak gambar Allah. Seharusnya yang menjadi tujuan akhir orang percaya adalah menjadi serupa dan segambar dengan Allah, dan Sorga adalah bonus.

Keselamatan tidak dapat dirpisahkan dari disiplin rohani, artinya, anugerah yang menyelamatkan juga akan mendisiplin kita. Allah tidak pernah menyelamatkan orang lalu dibiarkan melanjutkan hidup yang tidak dewasa dan berdosa. Kita diselamatkan agar meningkat dalam keserupaan dengan Kristus. Ketika kita hidup dalam disiplin rohani, itulah sebenarnya wujud kasih kita kepada Kristus.

Ada kekuatan yang Tuhan berikan agar kita dapat menjadi serupa dan segambar dengan Allah, dan untuk tetap berdiri benar dalam setiap kondisi. Kekuatan itu adalah kasih karunia Allah (God’s grace). Kita harus percaya bahwa kemampuan Allah melampaui ketidakmampuan kita sebagai manusia yang lemah dan berdosa. Kasih karunia Allah memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk taat melakukan semua kehendak dan rencana Tuhan.

Titus 2:11-12, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

Kata ‘Ia’ dalam ayat 11 mewakili ‘kasih karunia Allah’ yang mendidik kita supaya meninggalkan kefasikan dan keinginan keinginan duniawi. Jadi, pada dasarnya kita hidup dan dididik oleh kasih karunia Allah, dan bukan hidup di bawah hukum-hukum dan aturan agamawi. Kita berpikir, sebagai orang kristen, hidup ini penuh dengan banyak aturan dan larangan, sampai banyak orang malas menjadi orang kristen yang sungguh-sungguh. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah, ketika kita hidup di luar Tuhan, maka kita hidup di luar kasih karunia Tuhan. Pola pikir kita haruslah diubah. Ketika kita hidup di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita, maka siapakah yang dapat menjadi lawan kita? Namun ketika kita hidup di luar Tuhan, berarti kita hidup di luar kasih karunia dan musuh lebih mudah menghancurkan hidup kita. Sesungguhnya sesulit apapun hidup di dalam Tuhan, jauh lebih sulit hidup di luar Tuhan.

Disiplin seringkali memberikan persepsi yang tidak enak bagi kita. Namun, disiplin adalah satu-satunya cara agar kita memperoleh keserupaan menuju Kristus. Disiplin berasal dari kata “discere” (Latin) yang berarti belajar. Disiplin juga berasal dari kata ’disciplina’ yang berarti pengajaran atau pelatihan. Juga memiliki akar kata yang sama dengan ‘gymnastic’ (Yunani) yang berarti latihan, dan ‘disciple’ yang berarti pengikut/murid. Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan, tunduk pada pengawasan dan pengendalian dan berfungsi sebagai latihan ketaatan kepada aturan dengan tujuan mengembangkan diri agar berperilaku tertib.

Berdasarkan Titus 2:12 kita dididik dalam 3 hal yaitu kewajiban 3 arah dalam hidup Kristen, yaitu; BIJAKSANA, artinya kita membatasi diri dalam menikmati hal-hal yang baik dan dibenarkan dalam hidup, sambil menolak semua hal yang jelas berdosa, dan semua ini merujuk pada DIRI KITA SENDIRI; ADIL atau berkelakuan benar, artinya kita bertindak secara tepat dan benar kepada orang lain, berbuat kepada mereka sepert apa yang kita kehendaki mereka perbuat kepada kita (Matius 7:12). Hal ini merujuk kepada ORANG LAIN; dan, BERIBADAH, artinya kita peduli kepada kemuliaan dan kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, melakukan segala sesuatu karena menghormati dan mengasihi DIA hal ini merujuk pada TUHAN.

Charles Swindoll pernah menulis; “Yang membedakan Kekristenan dengan kepercayaan lainnya ialah tujuannya yaitu menjadi serupa dengan Kristus (to be liked Christ). Sehingga kesalehan dalam konteks Kristiani bukan sekedar moralis, bukan hanya ibadah secara lahiriah, bukan hanya konsep tentang Allah, bukan pula kebajikan ataupun idealis memelainkan hidup yang berakar pada Kristus.” Menjadi seperti Kristus bukan hanya dengan rajin mengikuti ibadah, tetapi mengalami perjumpaan Ilahi dengan Tuhan sehingga mengalami hidup yang diubahkan Tuhan. Kekristenan juga tidak hanya berbicara tentang kuasa, tetapi juga mengalami kuasa tersebut dalam hidup kita. Karena itu, kita harus hidup dalam pimpinan Allah yang hebat dan tetap memiliki hidup yang berakar pada Kristus.

Ada tiga prinsip penting agar dapat mengalami hal-hal yang baru dalam kehidupan kita. Dalam Efesus 4:22-24 disampaikan, “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Kita seharusnya menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Jangan beribadah secara lahiriah tapi tidak membiarkan Firman yang hidup mengisi hati dan pikiran kita. Biarkan pikiran Kristus bertakhta dalam kehidupan kita. Tuhan akan memperbaharui roh dan pikiran kita dan mengenakan manusia baru yang ditentukan oleh Tuhan sendiri. Kita perlu meningkat menjadi murid dan tidak hanya sekedar menjadi pengikut. Beralih dari sekedar bertobat menjadi radikal. Jangan berfokus hanya untuk menanggalkan praktik-praktik dosa, namun juga memperhatikan hal-hal yang harus dikenakan. Seperti Zakeus yang ketika hidupnya diubahkan Tuhan. Zakeus tidak hanya sekedar bertobat, namun juga mengembalikan hak-hak orang yang diperasnya sebanyak empat kali lipat, karena manusia rohnya menyadari bahwa segala sesuatu yang dia miliki adalah milik Tuhan.

Kita tahu bahwa apa yang Allah Firmankan adalah ya dan amen, dan setiap kebenaran Firman yang menegur dan mendidik kita bertujuan untuk mendewasakan kita dan menjadikan kita serupa dengan Kristus. Bagaimanakah dengan hidup kita, apakah kita telah mengenakan manusia baru sesuai dengan kehendak Allah?