Hati Bapa | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Hati Bapa

Pdt.Eluzai Frengky Utana

03-01-16

Memasuki tahun 2016, ‘ The Year of New Dimensions’, kita akan belajar dari Efesus 3:18-19, agar kita dapat melihat bahwa untuk dapat mengalami kepenuhan Tuhan, setiap kita harus mengenal dan memahami dengan benar kasih Tuhan. Awali tahun 2016 dengan kasih Kristus, sebab hanya Kristus yang dapat memberikan kita kehidupan yang selalu baru. Kita juga perlu berdoa bukan supaya tahun ini menjadi tahun yang lebih baik, namun supaya kita menjadi orang yang lebih baik di tahun ini.

Dimensi yang baru berbicara tentang ukuran; panjang, lebar, tinggi dan dalamnya kasih Kristus kepada kita. Lebarnya kasih Kristus meliputi semua etnis, bangsa, berarti kasih kristus bisa menjangkau segala bangsa. Panjangnya kasih Kristus bertahan sampai dunia kekekalan, sebab segala sesuatu di dunia ini akan berakhir namun kasih kristus tidak pernah berakhir. Tingginya kasih Kristus berarti kita harus meninggikan Dia. Jika tugas kita telah selesai di bumi, maka kita akan kembali kerumah Bapa, dan akan memerintah bersama dengan Dia di muka bumi ini dalam kerajaan 1000 tahun. Dalamnya kasih Kristus artinya kasih itu sanggup menjangkau orang yang paling berdosa sekalipun. Untuk itu kita harus berakar, bertumbuh dan berbuah dalam kasih Kristus.

Kasih Kristus sungguh ajaib, dan tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi oleh kasih kristus. Tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh kasih Kristus. Tidak ada pintu yang tidak dapat dibukakan oleh kasih kristus, dan juga tidak ada penghalang yang tidak dapat diruntuhkan oleh kasih kristus. Tidak pedui betapa rumit, sulit ataupun berat beban kehidupan yang kita alami di tahun ini, ketahuilah bahwa kasih Kristus mengatasi semuanya. Kasih Kristus berbicara juga tentang keharmonisan keluarga, kepenuhan Kristus juga meliputi berkat kesehatan, berkat dalam kehidupan dan berkat kebijaksanaan di dalam hidup kita.

Beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk mengalami kepenuhan Kristus, antara lain:

  1. Kepenuhan Tuhan pada hati (Efesus 3:19). Jika kita mau mengalami kepenuhan Tuhan, maka kita harus dapat menghargai karya Kristus sejak Dia datang di bumi dan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi dosa kita sebagai pengorbanan Kristus yang besar kepada kita. Kita dapat dikatakan menghargai kasih Kristus jika kita sadar bahwa Dia membayar mahal untuk semua dalam hidup kita. Kita tidak akan melakukan segala sesuatu dengan sembarangan, sebab kitab tahu Kristus telah membayar dengan nyawaNya.
  2. Kepenuhan Tuhan pad pikiran kita (Kolose 1:9), saat kita mau menundukan diri di bawah kehendak Kristus.
  3. KepenuhanTuhan pada hidup (Fil 1:11), di saat kita melakukan apa yang menjadi teladan kristus.

Sangat tidak mungkin jika kita ingin nmengalami kepenuhan Kristus dan dipenuhi kasih kristus untuk menjadi saluran berkat buat orang lain namun kita masih bermental seperti anak bungsu dan anak sulung dalam Lukas 15. Kepenuhan Kristus hanya bisa kita alami jika kita dapat membagikan kasih itu dan memiliki hati Bapa di dalam hidup kita.

Hati Bapa dapat kita pelajari dalam Injil Lukas 15:11-32. Dalam kisah ini kita melihat 3 karakter manusia, yaitu:

  1. Anak bungsu; yang memiliki segalanya di rumah bapa, tetapi pergi keluar dari rumah bapanya untuk menghabiskan harta warisan yang dimintanya dari bapanya. Hidupnya dikendalikan oleh kehendak bebasnya. Jika kita seperti anak bungsu ini, kita hidup jauh dari Tuhan. Untuk dapat memiliki hidup bersama Bapa, dibutuhkan keputusan untuk kembali. Kehendak bebas kita seringkali menghancurkan kehidupan kita, dan membuat kita tidak dapat mengenal kasih Kristus. Jika kita mengerti akan kasih Kristus, kita tidak akan menghancurkan diri kita dengan kehendak bebas kita.
  2. Anak sulung; yang hidup bersama bapanya dan memiliki apa yang bapanya miliki, namun menjadi marah ketika adiknya telah kembali. Ini adalah sikap mental orang yang beragama tetapi tidak menikmati Tuhan. Dia tidak dapat menerima kebaikan bapa kepada adiknya. Kita harus ingat adalah bahwa Tuhan telah mati bagi kita selagi kita masih berdosa (Roma 5:8). Karakter anak sulung juga adalah tipe orang yang menyebut Tuhan sebagai Bapa tapi tidak mengenal hatiNya. Kita menjadi anak bukan karena melakukan banyak aturan tetapi karena memang kita dilahirkan sebagai anak yang memiliki hak waris.
  3. Bapa; yang berlari mendapatkan anak bungsunya. Itulah gambaran hati Bapa yang ingin melihat orang yang terhilang ditemukan. Bapa tidak berfokus pada kedudukan atau jabatan, demikianlah seharusnya orang percaya berhati Bapa. Kasih itu mengerti orang lain, memberi kesempatan kepada orang lain dalam segala keadaannya. Gaya hidup orang percaya yang berhati Bapa selalu berfokus pada kepentingan pemulihan orang lain., itulah yang disebut sebagai ‘power of love’yang sekalipun tidak lazim, hati Bapa yang demikianlah yang seharusnya kita miliki.

Jadilah orang percaya yang berhati Bapa (Lukas 15:22-23,28). Tuhan adalah Bapa yang tidak pernah berhitung untung atau rugi dan tidak pernah takut kehilangan. Jangan pernah takut jika kita tidak dihargai, atau jika kita mengalami hal-hal yang tidak baik, karena Bapa kita akan tetap mengasihi kita.

Masuki tahun ini dengan mengenal kasih Bapa, tinggalkan mental anak bungsu dan anak sulung. Milikilah hati Bapa yang bisa menghargai orang yang dianggap tidak berarti. Bapa itu tidak menunggu waktu untuk memberikan penghargaan pada anak yang hilang. Yang terpenting bukan sekedar sadar, tetapi mengambil keputusan untuk datang kepada Bapa, sebab kasih Bapa menyembuhkan, memulihkan dan membaharui kita. Amin