APA YANG KAU CARI? | Pdt. Julianto Simanjuntak

APA YANG KAU CARI? | Pdt. Julianto Simanjuntak

APA YANG KAU CARI?

Pdt. Julianto Simanjuntak

21-02-16

Hari-hari ini isu tentang LGBT sedang marak di masyarakat, pertanyaannya seberapa jauh peran gereja dapat membawa pengaruh yang baik terhadap orang-orang yang mengalami keadaan demikian. Tanpa sadar hidup keagamaan kita telah bergeser dari hidup keagamaan batiniah kepada hidup keagamaan yang lahiriah. Hidup keagamaan batiniah lebih berfokus pada koneksi, hubungan atau persekutuan dengan Tuhan dan orang-orang yang dikasihi, sehingga lebih mengutamakan hubungan yang semakin dekat, akrab dan intim. Sedangkan hidup keagamaan yang lahiriah yang lebih mementingkan aktifitas, liturgi, ritual, berlomba-lomba untuk mencapai besarnya pemberian materi, banyaknya pengikut, banyaknya kegiatan-kegiatan gereja serta besarnya gedung gereja.

Menjadi tantangan bagi gereja Tuhan, untuk bisa menjangkau orang-orang di luar sana, bahkan dalam keluarga yang juga semakin banyak yang tidak memiliki koneksi yang baik antara suami, istri dan anak-anak karena motivasi hidup yang salah. Sebab motivasi yang salah akan membuat orang lebih mencari harta dan fasilitas hidup, manusia menjadi workaholik atau kecanduan kerja dan akhirnya kehilangan hubungan dengan orang-orang terdekatnya.

Matius 6:25, 32-34; 25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Dalam ayat 25 dan 32 Tuhan Yesus sedang menegur orang-orang yang mencari Dia, bahwa sebenarnya yang mereka kejar adalah fasilitas hidup, makan minum, pakaian dan kenikmatan hidup. Tuhan Yesus berkata bahwa semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Manusia lebih mencari uang dan mengejar kesenangan hidup, manusia terobsesi untuk mengumpulkan harta sampai dipenuhi kekuatiran, kecemasan dan kesusahan. Tetapi yang paling dicari Tuhan adalah manusia sebab Tuhan mengasihi manusia bahkan Dia mati bagi manusia yang berdosa. Manusia lebih mencintai uang dari pada Tuhan dam manusia menjadi budak dari keinginannya sendiri. Sifat tamak akan uang merupakan ciri-ciri orang yang tidak mengenal Tuhan.

Pada jaman gadget, Roh Kudus semakin ditinggalkan dan diabaikan, posisi “Roh Kudus” telah digantikan dengan Youtube, Google, film, dsb. Apakah dengan demikian manusia terhibur? Tidak! Manusia justru semakin haus.

Tetapi kepada murid-murid-Nya Yesus menegaskan bahwa carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, suatu perintah yang disertai janji maka semuanya itu (kebutuhan dan fasilitas hidup) akan ditambahkan kepadamu.

Perbedaan dasar antara orang dunia dan orang percaya sebagai murid Kristus adalah motivasi kerja. Orang dunia mencari berkat (uang), sedangkan orang percaya mencari sumber berkat (Tuhan). Bagi orang percaya materi tidak dicari tetapi diberikan Tuhan kepada siapa yang Dia berkenan (Amsal 10:22). Orang percaya mampu memiliki sekaligus menikmati, ia tidak kuatir karena sadar bahwa Tuhan sudah mengatur rejekinya, sedangkan orang dunia mampu memiliki tetapi tidak menikmatinya karena hidupnya senantiasa dipenuhi oleh kekuatiran dan kecemasan. Orang percaya lebih fokus mencari kehendak Tuhan dan bekerja sesuai Firman-Nya karena Tuhan melindungi pekerjaan dan uangnya, sedangkan orang dunia lebih fokus kepada mencari harta, memperbanyak dan melindungi hartanya. Orang percaya lebih fokus pada kebutuhan keluarga (waktu kebersamaan) dan bukan pada harta.

Supaya tidak kuatir kita harus fokus mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, Tuhan dan kehendak-Nya haruslah menjadi prioritas hidup kita.

Roma 14:17, Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Murid-murid Kristus lebih mengejar kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Sebagai orang percaya kita juga harus menghargai hidup lebih daripada fasilitas, keberhasilan dan kebanggaan hidup. Karena dalam ayat 34 dikatakan bahwa setiap orang mencari harta dan fasilitas hidup akan berujung dengan kekuatiran dan ketidaknyamanan.

Apakah salah jika kita memiliki harta? Tidak sebab Tuhan Yesus memandang harta itu sebagai suatu yang netral, tetapi yang terpenting adalah apa motivasi dan tujuan kita mengumpulkan harta? Yesus tidak pernah menegur kita yang punya harta tetapi Dia menegur sifat tamak kita akan harta.

Kita harus menjaga agar koneksi atau keintiman pribadi kita dengan Tuhan semakin terbangun, koneksi dalam rumah tangga antara suami, istri dan anak-anak, koneksi dalam gereja antara gembala dan jemaat serta antara sesama jemaat, karena itulah yang ditekankan Yesus kepada kita. sehingga pada akhirnya warisan terbaik adalah nilai-nilai Firman Tuhan yang kita contohkan kepada generasi kita yaitu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih dahulu sebagai prioritas hidup kita”. Amin