THE BLESSING OF GENEROUS GIVER | Bp. Stefanus Suheru A. S., M.Si.Teol.

THE BLESSING OF GENEROUS GIVER | Bp. Stefanus Suheru A. S., M.Si.Teol.

THE BLESSING OF GENEROUS GIVER


Bp. Stefanus Suheru A. S., M.Si.Teol.

06-03-16

Dalam kehidupan, kita mengenal pelbagai macam ukuran, dan ukuran bukanlah masalah sepele! Misalnya membeli pakaian, sepatu, beras, gula, bolam lampu, kertas, emas, tanah. Semua ada ukurannya. Tak terkecuali dengan hidup! Bagaimana mengukur hidup yang diberkati? Ukuran apa yang digunakan untuk mengukur arti hidup yang diberkati?

  1. UKURAN UMUM/DUNIA
    Hidup diukur dengan “sudah mempunyai” atau “sudah memiliki”. Seseorang dikatakan hidupnya diberkati bila sudah mempunyai pacar, gelar, anak, menantu, cucu, rumah, mobil,
  2. UKURAN YESUS

Ukuran yang dipakai oleh Tuhan Yesus bukanlah mempunyai, melainkan sebaliknya, yaitu MEMBERI. Keempat kitab Injil menggambarkan gaya hidup Tuhan Yesus adalah gaya hidup yang MEMBERI. Misalnya memberi pengakuan kepada Zakeus, memberi makan kepada orang-orang di tepi danau Tiberias, memberi kesembuhan kepada orang lumpuh di Bethesda, memberi hidup kepada Lazarus, memberi koreksi kepada orang-orang Farisi, memberi pengampunan kepada banyak orang, memberi kelegaan, dan memberi hidup kekal.

Tuhan Yesus mengukur hidup bukan dengan ukuran bagaimana mendapat keuntungan bagi hidup kita; melainkan bagaimana memberi faedah dari hidup kita. Ukuran hidup yang diberkati bukanlah ditentukan oleh panjang pendeknya umur kita di dunia ini, tetapi oleh seberapa berartinya hidup kita (bagi generasi penerus & orang-orang lain).

Hidup lebih daripada hidup ketika kita mulai belajar untuk memberi, misalnya: memberi perhatian, memberikan senyuman (menular), memberikan pelukan, memberikan tempat duduk kepada orang yang lebih tua atau ibu hamil, memberikan pertolongan, memberikan penghargaan, memberikan pengakuan, memberikan pengampunan, memberikan waktu & memberi diri kita.

Inilah ukuran yang digunakan Tuhan Yesus. Makna, keagungan & keluhuran hidup bukan diukur dengan apa yang kita peroleh, melainkan dengan apa yang kita beri.

KISAH PARA RASUL 20:35; Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Rasul Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus, yang tidak dicatat di dalam keempat Kitab Injil, yakni “Lebih berbahagia Memberi Daripada Menerima”.

Kata “Berbahagia” dari bahasa Yunani “makarios” yang berarti diberkati, beruntung, bahagia sebagai penerima hak istimewa akan kemurahan hati Allah. Sedangkan kata “Memberi” dari kata “didomi” yang berarti: memberi, menanggung, melimpahkan, menyerahkan, melepaskan, menawarkan, melayani, menanamkan, menerima. Dari kata “didomi” ini kita mengenal salah seorang murid Tuhan Yesus yang bernama “Didimus” yang berarti “kembar”. Dengan demikian, pada saat kita memberi sesungguhnya kita menerima! Menjadi bagian solusi bagi orang-orang sekitar kita dan Allah akan lebih memberkatinya.

Namun demikian, ucapan Tuhan Yesus itu jangan diartikan secara sempit. Ia bukan bermaksud bahwa kita tidak boleh menerima. Cinta terdiri atas dua segi. Memberi dan menerima, cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Tuhan Yesus pun menerima banyak hal, misalnya: menerima makanan yang disajikan Marta, menerima pernyataan kasih sayang seorang perempuan yang mengurapi kaki-Nya dengan minyak narwastu, dan menerima bantuan Simon Kirene dalam memikul salib.

Menjadi Warga Kerajaan adalah menerima dan memberi – bersedia menerima kasih & memberi kasih. Tidak mau menerima adalah ANARKI (rasa bisa mengatur diri sendiri, tidak memerlukan pertolongan dari siapa pun). Dan anarki adalah bentuk kesombongan. Sebaliknya, tidak mau memberi adalah EGOISME. Dan egoisme adalah bentuk kekerasan hati.

Dua dimensi hidup ini ada pada diri Tuhan Yesus: menerima dan memberi. Namun kedalaman dan keluhuran hidup-Nya terletak dalam MEMBERI. Puncak hidup-Nya adalah MEMBERI. Ia memberi diri-Nya, bagi kepentingan umat manusia.

MENTALITAS KERAJAAN: MEMBERI

Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus adalah Pemberi yang murah hati! Anak kecil memberi 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, janda miskin memberikan dua peser (seluruh nafkahnya) ke dalam peti persembahan, dan jemaat-jemaat di Makedonia (yang sangat miskin dan sedang dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan) memberi dengan penuh kemurahan.

THE BLESSING OF GENEROUS GIVER

  1. Allah disenangkan dengan berbagi.

Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah (Ibrani 13:16).

  1. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Lukas 6:38).
  2. Pemberi yang murah hati lebih diberkati karena mereka sedang diproses menjadi serupa dengan Tuhan Yesus.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Roma 8:29).

Ingat ROCK = Representatives of Christ’s Kingdom.

Adakah kehidupan kita mencerminkan gaya hidup Tuhan Yesus?

Adakah kehidupan kita adalah kehidupan yang memberi?

HIDUP YANG DIBERKATI BUKANLAH KEHIDUPAN YANG MENERIMA, MELAINKAN MEMBERI.