“SUMMER OF GROWING” | Pdt. Christy Indra Tjiptamulya

“SUMMER OF GROWING” | Pdt. Christy Indra Tjiptamulya


Pdt. Christy Indra Tjiptamulya

03-04-16

Tema tahun ini adalah The Year of New Dimension yaitu kita akan mengalami suatu dimensi yang baru di dalam hidup kita dan itu berarti akan terjadi perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidup kita. Di awal bulan April ini kita memasuki musim Summer Of Growing, musim panas untuk bertumbuh. Bertumbuh dalam hal apa? Bertumbuh menjadi manusia rohani yang semakin dewasa dalam Kristus dan meninggalkan sifat kekanak-kanakan.

1Korintus 3:1-3; (1) Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. (2) Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. (3)Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

Tanda manusia rohani yang dewasa dalam Kristus adalah manusia yang siap menerima makanan keras, yang hidupnya tidak lagi ada iri hati, perselisihan dan mereka tidak lagi terpecah-pecah melainkan satu kesatuan dalam tubuh Kristus. Rasul Paulus juga menekankan bahwa orang yang dewasa juga meninggalkan sifat kanak-kanak (1Korintus 13:11).

Untuk menjadi dewasa adalah sebuah proses yang harus kita alami, kita harus terus bergumul dalam doa agar tetap berdiri teguh sebagai manusia yang dewasa hingga mencapai keserupaan dengan Kristus dan mengerti kehendak Allah dalam hidup kita. Orang yang dewasa senantiasa memperhatikan perkataan dan sikap-sikap hidupnya, untuk itu kita harus melatih pancaindra kita.

Ibrani 5:11-14; (11) Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. (12)  Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (13)  Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (14) Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Janganlah kita menjadi lamban untuk mengerti segala sesuatu, orang yang dewasa bisa mengerti apa yang diinginkan Kristus karena mengenal FirmanNya. Apa yang masuk ke dalam hidup kita akan dinyatakan dalam perbuatan kita. Orang dewasa tidak mengikuti cara-cara dunia ini. Orang yang  dewasa tetapi tidak bertumbuh akan sama seperti anak-anak.

Tuhan memberikan lima jawatan rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus, bagi pekerjaan pelayanan dan bagi pembangunan tubuh Kristus supaya setiap kita mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:11-13)

Ketika kita memiliki kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus maka kita akan mampu menghadirkan Kerajaan Allah melalui:

  • Sikap hati kita yang benar karena sesuai dengan Firman Tuhan.
  • Tindakan kita yang mencerminkan tingkat kedewasaan dan tidak serupa dengan dunia.
  • Iman kita yang teguh di dalam Kristus.
  • Pola pikir kita yang sesuai dengan pikiran Kristus dan senantiasa diperbaharui, sehingga mampu kita membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
  • Kita mampu bekerjasama sebagai satu kesatuan Tubuh Kristus.

Untuk itu kita harus menjadi diri sendiri sebab setiap orang dipakai Tuhan secara khusus sesuai dengan cara, kemampuan dan talenta masing-masing. Kita juga harus berani meninggalkan zona nyaman supaya kehendak Tuhan terjadi dalam hidup kita. Amin.

“Kedewasaan rohani bukan masalah umur atau waktu, tetapi masalah hubungan kita dengan Tuhan dan Firman-Nya, ketaatan dan kerendahan hati kita di hadapan Tuhan.”