GROW WITH A PURPOSE | Pdm. David Limanto

GROW WITH A PURPOSE | Pdm. David Limanto


Pdm.David Limanto

08-05-16

Tujuan yang ditetapkan Tuhan dalam hidup kita selalu baik adanya. Tetapi banyak orang mengalami kegagalan, karena gagal mengetahui apa yang Tuhan rancangkan dalam hidup mereka. Hal tersebut terjadi karena rancangan Tuhan seringkali sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan manusia (Yesaya 55:9).

Sebenarnya kita memiliki hak untuk menerima janji Tuhan, dan janji tersebut bukan hanya untuk hidup kita pada saat ini saja, tetapi juga untuk anak cucu dan generasi selanjutnya.

Ulangan 1:8 “Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya.”

Namun seringkali janji yang telah difirmankan Tuhan tidak dapat digenapi dalam hidup kita karena adanya dosa, sebagaimana yang dialami oleh bangsa Israel.

Ada 6 dosa bangsa Israel di padang gurun, yaitu:

  • Mengingat-ingat masa lalu.
  • Bersungut-sungut dan menggerutu.
  • Tidak sabar dan tidak setia kepada Tuhan.
  • Menyalahkan Tuhan dan hamba Tuhan.
  • Tidak berubah pola pikirnya.

Ada banyak persoalan yang dihadapi bangsa Israel yang berakar dari ketidakmampuan mereka untuk mengubah pola pikir. Ini juga sering terjadi pada kita, padahal Tuhan telah memerintahkan kita untuk mengubah pola pikir.

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ketika kita mengubah pola pikir dan memandang dari sudut pandang Tuhan, maka kita akan mengerti bahwa di balik setiap krisis selalu ada berkat. Berdoalah agar kita diberikan kacamata Tuhan, sehingga dapat memandang masalah dari sudut yang berbeda.

Ada 3 cara Tuhan untuk mengubah pola pikir kita:

  1. Melalui Firman Tuhan.

Untuk bisa mengerti Firman Tuhan, maka kita harus membaca, merenungkan Firman Tuhan setiap hari, dan mengurangi untuk membaca berita yang tidak perlu yang seringkali hanya membuat kita kuatir dan melemahkan iman kita (Lukas 24:45).

  1. Melalui pekerjaan Roh Kudus.
  2. Melalui keadaan yang sulit.

Tuhan menggunakan keadaan yang sulit untuk memproses kita ketika kita menolak Firman Tuhan dan menolak Roh Kudus yang menegur kita. Perubahan pola pikir melalui keadaan yang sulit sebenarnya adalah pilihan yang paling buruk dan menyakitkan, tapi pada kenyataannya banyak dari kita yang menunggu sampai mengalami keadaan sulit, baru kita mau berubah.

Dalam Matius 11: 28-30 dikatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Pada level terendah, ketika seseorang memiliki masalah dan ia datang kepada Tuhan, maka ia akan mendapat kelegaan. Perasaan ini sifatnya hanya sementara. Kemudian akan berkurang dan lenyap. Level yang lebih baik adalah dengan belajar ‘memikul kuk’ yaitu mematikan kedagingan, mengikuti jalur Tuhan dan tidak mengikuti jalur kita sendiri. Di level ini seseorang akan tinggal dalam hadirat Tuhan, dan mendapat ketenangan yang lebih menetap sifatnya. Apa itu ‘memikul kuk’?

  1. MEMIKUL SALIB

Matius 10:38, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Ada 3 macam salib yang harus kita pikul, yaitu:

  1. Salib Tuhan. Misalnya ketika kita mengalami penolakan saat bersaksi, atau menghadapi kesulitan dan pergumulan dalam melayani Tuhan.
  2. Salib diri sendiri. Misalnya ketika kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai, sehingga kita harus mematikan kedagingan kita dan membangkitkan roh kita. Contohnya saat mengunjungi orang yang dipenjara, atau mendoakan orang yang sakit.
  3. Salib orang lain. Misalnya ketika kita berdoa dan bergumul bagi pasangan yang belum percaya, atau ketika harus membantu pengobatan orang yang tidak mampu.
  4. PENYANGKALAN DIRI (SELFLESSNESS)

Dalam Matius 16:24 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Inti Kekristenan adalah penyangkalan diri dan tidak melakukan kehendak sendiri (Roma 15:1-3). Untuk itu kita harus mengalahkan ‘sindrom ke-aku-an’, dan menggantikannya dengan ‘contentment’ yaitu rasa puas terhadap segala berkat yang telah Tuhan berikan.

Kita memerlukan kasih karunia Tuhan untuk dapat mengubah pola pikir kita. Namun selalu ada harapan bagi kita, sebagaimana dituliskan di dalam Ayub 14:7-9, “Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.” Jadi sekalipun hidup kita sudah terpuruk bagaikan tunggul pohon yang mati, Tuhan sanggup mengubahkan kita, sehingga kita dapat bertunas, bahkan dapat berbuah kembali. Amin.