GROWING TO BE STRONG | Pdt. Yusuf Sutrisno

19-06-16

Setiap pertumbuhan harus melalui proses. Sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi kuat, dan hal itu hanya dapat dicapai melalui pengalaman pribadi bersama Tuhan. Kita tidak mungkin berdoa syafaat bagi orang lain, jika diri kita sendiri masih dibelit berbagai masalah. Janganlah kita menjadi seorang pendoa di gereja, karena sumpek dengan masalah rumah tangga di rumah. Doa yang dengan yakin didoakan, besar kuasanya, bukan “doa yang benar”, tapi “doa orang yang benar” (Yakobus 5:16). Kita harus hidup benar di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan menjawab doa-doa kita. Ketika kita hidup benar dan mengandalkan Tuhan, maka doa-doa kita pasti dijawab.

“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” Mazmur 92:13-14.

                Bertunaslah seperti pohon Korma. Biji pohon Korma bertumbuh justru setelah ia ditindih dengan batu. Untuk mengikut Tuhan, kita pasti dibentuk melalui penderitaan. Mengalami proses demi proses kehidupan akan membentuk hidup kita untuk terus bertumbuh dan diubahkan. Demikian juga untuk mengalami berkat-berkat dari Tuhan, kita harus tunduk, sabar, dan berserah kepada cara Tuhan membentuk kita. Kita bisa belajar dari bangsa Israel, karena mereka memiliki karakter yang berbeda dari bangsa-bangsa lainnya, yaitu:

  1. Berbuah, yaitu bertambah banyak, bahkan dalam keadaan sebagai tawanan-pun bangsa Israel dapat berkembang jumlahnya. Komunitas sel seharusnya berkembang, sekalipun dalam berbagai tantangan.
  2. Berlipat kali ganda (Kejadian 16:10) Ketika Yakub pergi ke Mesir, jumlah keluarganya hanya 70 jiwa, tapi hanya dalam 4 generasi Tuhan membuat menjadi lebih kurang 3 juta orang. Kita harus menjaga benih Ilahi dalam diri kita untuk tetap kudus, karena benih Ilahi tersebut berpotensi berlipat ganda sangat banyak dan suatu saat harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

3. Menjadi orang-orang super makmur. Mengapa orang seringkali iri hati pada orang percaya, adalah karena kita dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera, yaitu sesuatu yang tidak dimiliki dunia. Apa yang kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita hendaknya akan membawa dampak dan perubahan. Ketika damai dan sukacita itu dinyatakan dan dibagikan ke orang lain, itu berarti kita yang diberkati telah menjadi berkat.

Kita harus selalu antusias dalam melayani dan memberkati gereja Tuhan, dalam segala tantangan kita harus mengucap syukur.  Tuhan memperhatikan dan pasti memberkati kita, tapi Ia meminta agar kita mempersiapkan mental lebih dahulu. Tuhan akan menguji kita, apakah kita sudah memiliki mentalitas seorang penabur, dan apakah kita selalu mengucap syukur.

          Rencana Tuhan dalam dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak pernah berubah, rencana-Nya senantiasa tetap bagi kita, yaitu:

Dalam Perjanjian Lama – “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” (Keluaran 19:6a)

Dalam Perjanjian Baru – “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.“ (1 Petrus 2:9)

Kita dipanggil dalam rencana Tuhan untuk menjadi harta kesayangan-Nya, menjadi kerajaan Imam, dan menjadi bangsa yang kudus. Jika saat ini kita mengalami berbagai tantangan, pergumulan, bahkan dipermalukan orang, Tuhan tahu dan memperhatikannya. Tuhan ingin kita bertumbuh menjadi kuat. Tidak sekedar menjadi orang Kristen yang murahan, tapi orang Kristen yang berkualitas. AMIN.