PERSONAL LOVE | Pdt. Guana Tanjung

PERSONAL LOVE | Pdt. Guana Tanjung

Dalam perjalanan di padang gurun, ada sebuah perbedaan yang sangat penting antara Musa dengan orang-orang Israel. Musa beserta seluruh bangsa Israel telah dibawa keluar dari perbudakan di tanah Mesir, telah diampuni saat melakukan pelanggaran, telah dipelihara dan dilindungi Tuhan. Namun tetap ada sebuah perbedaan yang sangat besar antara Musa dengan orang Israel dihadapan Tuhan. Perbedaan inilah yang menentukan ‘destiny’ mereka. Musa berkenan di hadapan Tuhan dan mencapai tujuan Tuhan di dalam hidupnya, tetapi orang-orang Israel yang lain tidak demikian halnya.

“Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.” 1 Korintus 10:5.

Selama 40 tahun perjalanan di padang gurun, orang-orang Israel tidak dapat mengenali panggilan mereka, yaitu alasan mengapa mereka dikeluarkan dari tanah Mesir. Di pihak lain, selama 40 tahun di padang gurun, Musa mengalami transformasi dari seorang pangeran Mesir, menjadi seorang sahabat Allah.

Dalam Alkitab terdapat beberapa kisah yang menjelaskan tentang perbedaan antara penerima berkat dan penerima warisan. Sebagai contoh: Abraham memiliki 8 orang anak, yaitu Ismail, Ishak, dan 6 orang anak dari gundiknya yang bernama Ketura. Anak-anak tersebut menerima berkat pemberian, tetapi hanya satu anak yaitu Ishak yang ditetapkan sebagai ‘Putra’ untuk menerima warisan.

“Tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka — masih pada waktu ia hidup — meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.” Kejadian 25:6.

Untuk mencapai ‘destiny’ yang ditetapkan Tuhan dalam hidup kita, maka kita harus menempatkan diri kita pada posisi seorang ‘putra’ yang layak mendapatkan warisan. Sebagaimana semua orang Israel telah dipanggil keluar dari perbudakan di Mesir, namun tidak semua menerima warisan yang dijanjikan, demikian pula semua orang percaya telah dikeluarkan dari perbudakan kerajaan kegelapan, namun tidak semua menerima warisan. Mereka tidak dapat menerima warisan karena tidak pernah bisa mengenali tujuan mengapa mereka dibawa keluar dari perbudakan.

Untuk itu kita harus mengerti bahwa Tuhan yang kita sembah adalah ‘Tuhan yang mengasihi dan memberikan tujuan’ (God of love and purpose). Ketika Tuhan menciptakan manusia, maka Ia menjadikan manusia sebagai obyek pernyataan gairah cinta-Nya. Ketika malaikat jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak memberikan penebus, tetapi ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka Ia memberikan seorang penebus, karena manusia sangat berharga di mata-Nya. Ia sangat mengasihi manusia (love) sebagai bejana untuk menggenapi TUJUAN-Nya (purpose) di bumi dan di sorga. Karena itulah maka Tuhan memberikan kepada manusia perjanjian-Nya (covenant).

Adanya perjanjian (covenant) menunjukkan bahwa kasihnya kepada manusia, bukanlah kasih yang biasa (ordinary/common Love), tapi kasih yang lebih tinggi nilainya yaitu sebuah kasih secara pribadi (personal love).  Kasih yang bersifat pribadi mengandung resiko, sama halnya ketika seorang pemudi menerima tawaran cinta kasih dari seorang pemuda, maka ada resiko-resiko yang harus diambilnya. Ketika ia menerima tawaran cinta kasih tersebut, maka ia menerima resiko untuk dinikahi, untuk meninggalkan keakraban dengan teman-teman prianya yang lain, bahkan untuk meninggalkan beberapa sahabat wanitanya jika diperlukan. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan tanda kasih setianya kepada pemuda tersebut. Sang pemudi melakukan hal tersebut, karena ia sedang ‘jalan’ dengan sang kekasih hatinya. Demikian pula kita wajib ‘hidup/berjalan’ (walk in Him, dalam bahasa Ibrani: ‘halak’) dengan Kristus sebagai Sang Kekasih hati kita, dengan resiko meninggalkan hal-hal yang bisa mengganggu hubungan intim kita dengan Dia. Ketika kita dikasihi dan mengasihi Kristus dengan kasih pribadi (personal love), ada ‘resiko ketidakbebasan’ yang kita alami, namun ini harus dilakukan demi memperoleh warisan yang sejati.

Ketika seseorang memiliki kasih pribadi dengan Tuhan, maka ia telah melewati tahap hubungan Bapa dengan anak (Father-son relationship), melewati tahap Tuan dengan murid-murid (Lord-disciples relationship), lalu mencapai  tahap hubungan perjanjian (covenant relationship) antara Raja Sorga (King of Heaven) dengan putra-Nya (King-son relationship).

Seseorang yang mencapai tahap hubungan sebagai seorang putra, maka ia mampu menjadi seorang penyembah yang benar (worshipper) sekaligus seorang pahlawan (warrior) bagi Sang Raja.  Dalam tahap hubungan ini, hidup kita sepenuhnya milik Tuhan. Memiliki hubungan intim (‘yada’ atau ‘ginosko’) dengan Tuhan. Maka kita tidak menjadi orang yang sekedar mengejar-ngejar berkat, tetapi sebagai orang yang tahu bahwa ia memiliki TUJUAN untuk menerima warisan yang tak ternilai harganya. Kita menjadi orang yang mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup untuk menggenapi TUJUAN-Nya di bumi dan di Sorga. Amin.