“Menang atas Proses Pemangkasan | Pdm. David Limanto

“Menang atas Proses Pemangkasan | Pdm. David Limanto

Bagaimana cara untuk menang melalui proses pemangkasan?

1 Raja-raja 19:1-18.

  1. Jangan pernah berjalan sendirian

(Never walk alone)

1 Raja-raja 19:4 “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Kita diciptakan sebagai mahluk sosial, yang berkomunitas dengan sesamanya. Kita tidak dapat hidup sendirian, tetapi selalu membutuhkan orang lain. Nabi Elia pergi sendirian, lalu tidur di bawah pohon arar. Ketika seorang manusia berjalan sendirian, maka akibatnya akan mengalami ketakutan, mengalami kekeringan (dehidrasi) rohani, mengasihani diri sendiri dan merasa ingin cepat mati.

Untuk dapat hidup dan bertumbuh, maka kita tidak dapat hidup sendirian. Kita perlu berkomunitas, satu cara terbaik adalah dengan mengikuti Komunitas Mesianik (KM). Dalam KM seseorang dapat belajar mulai dari hal-hal sederhana, misalnya bagaimana memimpin doa, bersaksi, dan semakin meningkat kepada pelayanan yang lain.

2. Jangan pernah membuat puncak

(Never make a top)

1 Raja-raja 19: 10 “Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

Di dalam mengikuti dan melayani Tuhan, Tuhan tidak ingin kita menjadi nomor satu, tapi ia ingin kita menjadi satu. Ketika kita mengejar untuk menjadi nomor satu dan merasa sudah berada di sana, maka kita akan tertutup terhadap koreksi dan menuntut perhatian serta imbalan. Gereja itu seumpama sebuah ’training center’, di mana kita semua adalah fasilitatornya.

Saat ini semua perusahaan berlomba-lomba meningkatkan pelayanan dengan cara mencari tahu apa kelemahan mereka dan berusaha memperbaikinya. Mereka membuat kuesioner untuk mengetahui masukan dari pelanggan. Sebagai orang percaya, kita pun harus terbuka dan siap menerima masukan-masukan, agar kita mengetahui kelemahan kita dan dapat memperbaikinya. Jangan merasa sudah berada di puncak karena hal itu adalah awal kejatuhan. Masuklah di ’tempat penyerahan’ (surrender place). Serahkan hak kita dan hidup kita kepada kendali dan otoritas Tuhan.

3. Dengarkanlah perintah Tuhan

(Listen to His voice)

1 Raja-raja 19: 12-13 ”Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

Kita harus selalu bertanya kepada Tuhan apa yang Ia inginkan dari hidup kita. Dengarkan suara-Nya yang seringkali datang bukan dengan suara yang dahsyat, tetapi dengan suara yang halus dan lembut. Beberapa ciri orang yang mendengarkan suara Tuhan:

  1. Berlimpah kasih Allah.
  2. Disertai damai sejahtera.
  3. Ada
  4. Memberikan jalan keluar dalam setiap masalah.

Setiap hubungan yang baik, selalu menghasilkan efek yang baik. Sebagaimana sepasang orang percaya yang berpacaran, hubungan mereka akan meningkatkan kualitas pekerjaan masing-masing, pendidikan mereka, maupun pelayanan mereka.

4. Kembali kepada panggilanmu

(back to your calling)

1 Raja-raja 19: 15-16 “Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.  Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

Elia diperintahkan untuk kembali ke jalannya yang semula dan pergi untuk melakukan beberapa tugas. Dari Alkitab kita mengetahui bahwa Elia hanya bisa menyelesaikan satu tugas saja, yaitu mengurapi Elisa. Namun beberapa tugas lain tetap terselesaikan melalui generasi penerus di bawahnya. Terima tongkat estafet.

Tanda bahwa seseorang hidup dalam panggilannya:

  1. Kuat (strong), tetap berdiri teguh dan setia menyelesaikan tugas sampai akhir.
  2. Menikmati (enjoy) tugas yang harus diselesaikan dan setiap proses yang menyertainya.
  3. Berbuah (fruitful), menghasilkan buah jiwa, buah Roh dan buah-buah yang lain.
  4. Berdampak (impacting) bagi banyak orang.

Sebuah penelitian mengenai tokoh-tokoh di Alkitab menemukan bahwa jumlah tokoh Alkitab yang menyelesaikan panggilannya sampai tuntas (finishing well) hanyalah 20 – 25%. Kita perlu menjadi orang-orang yang kuat dan setia menyelesaikan panggilan kita. Untuk itu kita harus berada di ‘track’ yang benar. Selalu mendengarkan suara Tuhan tentang tujuan hidup kita dan mengandalkan Dia. Garis finish kita adalah memerintah bersama Tuhan, menjadi sama seperti Kristus, dan menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Dia adalah Immanuel, Allah yang selalu menyertai kita, sampai kita finishing well. AMIN!