MATURING THROUGH COMMUNITY | Pdt. Eluzai Frengky Utana

MATURING THROUGH COMMUNITY | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Kita memasuki musim yang baru Winter of Maturity atau Musim Dingin Kedewasaan, dan khusus di bulan Oktober kita memiliki tema Maturity Through Community (Kedewasaan Lewat Komunitas). Seseorang yang dewasa akan terbentuk melalui komunitas seperti komsel, gereja, keluarga atau masyarakat melalui setiap masalah, persoalan dan gesekan yang terjadi didalam komunitas tersebut.

Dalam  Injil Matius 15:21-28 kita akan belajar dari kehidupan seorang perempuan Kanaan yang memiliki persoalan bahwa anak perempuannya kerasukan setan dan sangat menderita. Wanita tersebut masuk ke dalam komunitas yang tepat yaitu komunitas Tuhan Yesus dan murid-muridNya. Namun dalam komunitas itu wanita ini diajar untuk menghadapi persoalannya melalui setiap perkataan Tuhan Yesus dan murid-muridNya. Wanita ini mengalami suatu proses pendewasaan yang membawanya untuk menerima mujizat, berkat dan keajaiban bahwa anaknya disembuhkan.

Kita harus percaya bahwa setiap masalah dan persoalan yang datang untuk membentuk dan memproses hidup kita tetapi membawa pada kehancuran, menyakitkan dan membinasakan tidak berasal dari Tuhan. Kehancuran, sakit penyakit dan kebinasaan disebabkan oleh iblis, sistem dunia bahkan keinginan kita sendiri. Firman Tuhan yang memproses hidup kita senantiasa menasehatkan, mengkuatkan, menghibur dan membawa kita kepada kedewasaan. Oleh sebab itu ketika masalah dan persoalan yang datang dalam hidup kita, jangan gunakan cara-cara dunia atau cara kita sendiri tetapi milikilah cara pandang Tuhan maka Tuhan akan memberikan jalan keluar sesuai dengan janji-janjiNya.

Matius 15:22; Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

Yesus tidak menjawabnya karena Yesus tahu bahwa hanya orang Yahudi saja yang memanggil Yesus anak Daud. Wanita ini masih datang dengan kepura-puraan bahwa ia sebenarnya bukan orang Yahudi, ketika wanita ini memanggil Yesus Tuhan (Matius 15:25) Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Kata anjing yang dipakai adalah kunarion yang artinya anjing kecil atau anak anjing dan menurut budaya waktu itu pengertian ini bukanlah suatu penghinaan melainkan kasih sayang. Wanita ini masih melihat adanya anugerah dan kesempatan untuk dirinya oleh sebab itu ia dapat menjawab “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Melalui kisah ini kita dapat belajar beberapa hal agar kita juga mengalami kedewasaan dan melihat setiap masalah dengan cara pandang Tuhan.

  1. Hati kita hanya mau berperkara dengan Yesus Kristus Tuhan.

Jika wanita Kanaan ini datang dengan pandangannya sendiri maka ia akan mengalami kekecewaan yang mendalam dan kekecewaan itu akan menguasai hidupnya. Wanita ini tidak hanya berperkara dengan anaknya yang kerasukan setan tetapi ia melihat masalahnya dengan cara pandang Tuhan dan hatinya hanya mau berperkara dengan Yesus. Setiap masalah dan persoalan yang kita hadapi tidak ada ukurannya, besar, medium atau kecil, tetapi yang pasti adalah bahwa Tuhan kita jauh lebih besar dari setiap masalah dan persoalan kita, mari kita berfokus hanya kepada Yesus.

  1. Yakinlah bahwa Tuhan sanggup membuat yang tidak layak menjadi layak.

Wanita ini seharusnya tidak layak untuk menerima anugrah Tuhan, tetapi ia karena imannya ia dilayakkan untuk menerima mujizat dan kesembuhan bagi anaknya. Alkitab pun juga mencatat dalam Injil Matius 1:3-6 ada beberapa wanita yang seharusnya tidak layak tetapi ketika ia menerima Tuhan maka mereka dilayakkan masuk dalam silsilah Yesus Kristus.

Janganlah kita teritimidasi dengan masa lalu kita, karena ketika kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta berjanji tidak mengulanginya lagi maka Tuhan akan melayakkan kita dan megubah kita dengan perkara-perkara yang besar.

  1. Yesus adalah Tuhan yang memiliki banyak kesempatan.

Sekalipun tidak dijawab, sekalipun diusir dan dikata-katai wanita ini tetap datang mendekat dan minta tolong karena wanita ini sadar bahwa Yesus adalah Tuhan yang memiliki banyak kesempatan. Jangan takut gagal dan berhenti berlatih karena kegagalan adalah kesempatan untuk membangun karakter kita.

  1. Yesus adalah Tuhan atas penempatan adikodrati.

Matius 15:28; Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil, ketika wanita Kanaan ini setia dengan proses yang ia hadapi maka wanita ini tidak hanya mengalami kedewasaan tetapi ia juga menerima mujizat dan keajaiban Tuhan. Apapun masalah dan kebutuhan kita saat ini mari datang kepada Tuhan, maka Tuhan akan menolong hidup kita dengan cara-cara yang adikodrati.

  1. Yesus adalah Tuhan yang progresif.

Tidak ada tujuan Tuhan untuk menghancurkan wanita Kanaan ini, senantiasa ada kesempatan di balik setiap masalah dan proses yang ia hadapi karena Tuhan selalu membawa ke arah kemajuan. Percayalah bahwa Tuhan akan membawa kita kepada kedewasaan penuh serupa dengan Kristus untuk nama Tuhan dipermuliakan.

Jangan takut dan gentar dengan masalah dan persoalan yang kita hadapi karena Tuhan senantiasa menyertai kita dan Dia telah menyelesaikannya di kayu salib sehingga kita ditetapkan lebih dari pemenang. Amin.