Menjadi Dewasa dalam Tuhan | Pdt. Christine Here

Menjadi Dewasa dalam Tuhan | Pdt. Christine Here

“Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” Efesus 4:13.

Untuk menjadi dewasa, maka kita harus:

  1. Memahami firman Tuhan.
  2. Memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan.
  3. Memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh dewasa.

“Maka berjalanlah raja Israel dan raja Yehuda dan raja Edom. Tetapi sesudah mereka berkeliling tujuh hari perjalanan jauhnya, maka tidak terdapat air untuk tentara dan untuk hewan yang mengikuti mereka. Lalu berkatalah raja Israel: “Wahai, TUHAN telah memanggil ketiga raja ini untuk menyerahkan mereka ke dalam tangan Moab!”  Tetapi bertanyalah Yosafat: “Tidak adakah di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita meminta petunjuk TUHAN?” Lalu salah seorang pegawai raja Israel menjawab, katanya: “Di sini ada Elisa bin Safat, yang dahulu melayani Elia.” Berkatalah Yosafat: “Memang padanya ada firman TUHAN.” Sesudah itu pergilah raja Israel dan Yosafat dan raja Edom kepada Elisa. Tetapi berkatalah Elisa kepada raja Israel: “Apakah urusanku dengan engkau? Pergilah kepada para nabi ayahmu dan kepada para nabi ibumu.” Jawab raja Israel kepadanya: “Jangan begitu, sebab TUHAN memanggil ketiga raja ini untuk menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Moab!”  Berkatalah Elisa: “Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu.” 2 Raja-raja 3:9-14.

4 hal yang kita pelajari tentang bagaimana menjadi dewasa melalui kisah di atas

1. Jangan masuk dalam sebuah komunitas yang tidak membangun iman kita.

  1. Masuk dalam komunitas yang salah dapat terjadi karena menikah dengan orang yang tidak seiman. Raja Israel (Yoram) menjadi seperti orang tuanya (Ahab dan Izebel) karena ayahnya (Ahab) menikahi Izebel yang tidak takut akan Tuhan. Yosafat ikut masuk kepada komunitas yang salah karena menjadi besan Yoram.
  2. Masuk dalam komunitas yang salah bisa mendatangkan resiko maut.
  3. Yosafat hampir saja mati karena ia dijebak dengan mengenakan pakaian raja, sedangkan Yoram mengenakan pakaian tentara biasa. Meskipun akhirnya Tuhan meluputkan Yosafat dan membinasakan Yoram (1 Raj 22:26-33).
  4. Masuk dalam komunitas yang salah dalam bisnis, maka kita tidak akan diberkati Tuhan. Yosafat bersekutu dengan Ahazia raja Israel untuk membuat kapal-kapal, tapi Tuhan menggagalkan rencana tersebut (2 Tawarikh 20:35-37).

2. Hargai dan hormati Tuhan, maka Tuhanpun akan menghargai kita.

Yosafat adalah seorang yang menghargai dan menghormati Tuhan, sedangkan raja Israel (Yoram) dan raja Moab adalah raja yang mengabaikan dan menghina Tuhan. Raja Yosafat tetap ditolong oleh nabi Elisa, semata-mata karena ia seorang yang menghargai dan menghormati Tuhan.

“Berkatalah Elisa: “Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu” (2 Raja-raja 3:14).

Imam Eli adalah seorang imam besar, namun ia membiarkan anak-anaknya yakni Hofni dan Pinehas untuk berbuat dosa di Bait Allah.  Tuhan memberikan kesempatan bertobat dan memakai umat Tuhan untuk menegor, tapi ada batas waktu ketika Tuhan harus mengambil tindakan.

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah (1 Samuel 2:30).”

Karena itu kita harus menghargai dan menghormati Tuhan, baik di dalam ibadah raya, ibadah KM, waktu doa pribadi, maupun dalam mezbah keluarga. Sebagai contoh nyata, misalnya dengan tidak terlambat datang ke gereja dan tidak buru-buru pulang sebelum menerima doa berkat.

 3. Ambil waktu untuk memuji dan menyembah Tuhan, sampai hati kita menjadi tenang.

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2-3).

Pada saat Elisa tenang, maka ia bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas. Untuk menjadi tenang ia mendengarkan suara kecapi. Kita juga harus menyediakan waktu untuk memuji dan menyembah Tuhan dan meminta pikiran yang tenang, sehingga bisa membaca dan memahami firman Tuhan dengan baik.

“…Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi.” Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia” (2 Raja-raja 3:15-23).

 4. Taat melakukan apa yang Tuhan katakan.

Ketika raja Yosafat meminta petunjuk Tuhan kepada nabi Elisa dan ia mendapat perintah dari Tuhan untuk membuat parit-parit, maka Yosafat segera mentaatinya sekalipun perintah tersebut tampaknya tidak masuk akal. Yosafat mungkin mendapat tentangan dari tentara-tentara raja Yoram, maupun raja Moab yang tidak percaya. Tapi Yosafat tetap mentaati perintah Tuhan, maka mujizatpun terjadi.

…….Keesokan harinya ketika orang mempersembahkan korban, datanglah dengan tiba-tiba air dari arah Edom, lalu penuhlah negeri itu dengan air (2 Raja-raja 3:16-20).

SELAMAT BERTUMBUH DEWASA DI DALAM TUHAN!