MATURING | Pdt. Andrew Pohan Harliman

MATURING | Pdt. Andrew Pohan Harliman

 

 

Dalam 3 bulan ini kita memiliki tema The Winter of Maturing, kita harus bertumbuh menuju kepada kedewasaan di dalam Tuhan. Suatu perjalanan spiritual bersama Tuhan sampai kita menuju kedewasaan rohani, karena kedewasaan adalah suatu pilihan dari keputusan yang harus kita ambil. Untuk mencapai kedewasaan akan melewati setiap proses dalam hidup kita.

“Until we all attain to the unity of the faith, and of the knowledge of the Son of God, to a mature man, to the measure of the stature which belongs to the fullness of Christ.” (NASB).

“Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” Efesus 4:13.

Kata ‘attain’ berasal dari kata Yunani: ‘katantao’ yang memiliki arti sebagai berikut:

  1. Untuk sampai di, atau tiba di tempat, melalui suatu pergerakan, pertumbuhan, atau waktu tertentu.
  2. Berhasil dengan usaha, melalui proses atau pencapaian yang lebih baik.

Jadi ‘katantao’ artinya mencapai sesuatu melalui proses yang membutuhkan rentang waktu tertentu dan tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebagai contoh: Pohon kelapa dapat mencapai (‘to attain’) ketinggian 15 meter. Tapi kenyataannya ada pohon kelapa yang hanya 12 meter, 9 meter, 5 meter atau 3 meter.

Kedewasaan berbicara tentang hal yang sifatnya personal, antara satu orang dengan yang lain pasti berbeda. Masing-masing tergantung bagaimana seseorang memutuskan untuk meninggalkan sifat lama dalam hidupnya. Segala hal yang berjalan mencapai suatu tingkat dalam kepenuhan Kristus adalah proses. Kedewasaan penuh akan tercapai melalui usaha, proses dan pencapaian yang lebih baik.

Kata dewasa (mature) berasal dari kata Yunani ‘teleios’ yang artinya sempurna. Dalam kehidupan sehari-hari, untuk menjadi dewasa perlu melibatkan usaha kita untuk meninggalkan sifat mudah tersinggung, sifat suka bergosip, juga keputusan melayani Tuhan sehingga kita masuk dalam dimensi yang baru.

Untuk mencapai kedewasaan  penuh dan tingkat pertumbuhan ada 3 hal dapat diungkapkan dari ayat di atas yaitu:

  1. SHIFTING (pertukaran, pergeseran, perubahan)

Untuk menjadi dewasa kita tidak harus merubah total, tapi hanya perlu mengadakan perubahan-perubahan, yang  memberi ‘nilai tambah’ (added value) pada apa yang sedang kita kerjakan. Seringkali Tuhan berbicara kepada kita dengan cara – cara yang sederhana dan tidak merubah apa yang ada pada kita saat ini tetapi esensinya saja yang harus ditambahkan. Seperti tongkat Musa dapat berubah menjadi ular, dan tongkat yang sama pula dapat membelah laut Teberau serta membuat gunung batu memancarkan air. Tongkatnya tetap sama tapi ada nilai-nilai yang berbeda yang Tuhan tambahkan.

Kita harus berubah, dalam Yeremia 31:29-31 disebutkan bahwa tiap-tiap orang bertanggung jawab akan perbuatannya sendiri, tidak tergantung perbuatan orang tuanya. Kristus telah mematahkan kutuk generasi atas kehidupan kita. Kita menjadi orang yang merdeka dari kutuk dan memperoleh karunia kehidupan sebagai ciptaan baru. Untuk menjadi dewasa, kita masing-masing bertanggung jawab kepada Tuhan untuk memberikan ‘nilai tambah’ atas kehidupan yang dikaruniakan kepada kita.

2. IMAGE (Gambaran/Keserupaan yang Berdampak (kehidupan)).

 ‘Image’ tidak muncul seketika, tapi harus melewati proses ‘shifting’ terlebih dahulu. Dalam kehidupan kita, kita seringkali mengalami masalah yang menimbulkan luka-luka batin. Luka-luka tersebut bisa berasal dari kejadian di masa kecil, dari konflik dengan orang dekat, bahkan dari konflik dalam pelayanan (‘luka apostolik’). Untuk dapat sembuh dari luka-luka batin tersebut kita harus melihat diri kita melalui cermin yang benar. Siapa yang menjadi cermin di dalam hidup kita? Cermin yang benar dan terpenting adalah Kristus sebagai pencipta kita. Pada saat kita memandang Kristus dan melihat diri kita dalam keserupaan dengan Dia, maka kita dapat disembuhkan secara total dari luka-luka batin yang kita miliki.

3. MATURING (Kedewasaan)

“Solid food is for those who are mature, who through training have the skill to recognize the difference between right and wrong” (NLT).

“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat”

Ibrani 5:14.

 ‘Solid food’ (makanan keras) adalah proses dan penderitaan, sebagai suatu pelatihan kehidupan. Untuk menjadi dewasa, kita perlu berlatih secara terus-menerus agar memperoleh keterampilan untuk membedakan yang benar dan salah, atau disebut ‘spirit of discernment’ (roh untuk membedakan). Untuk menjadi dewasa, mau tidak mau kita harus masuk dalam proses, penderitaan, aniaya untuk melatih kita. Jika kita bersedia masuk dan melalui proses tersebut, maka kita akan menjadi dewasa dan Tuhan akan membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya. Kedewasan kita ditentukan oleh keputusan kita hari ini, apakah kita mau masuk ke dalam proses yang telah disiapkan Tuhan, mengijinkan-Nya untuk terus-menerus melatih kita, dan setia mengikuti-Nya sampai mencapai destiny yang ditentukan Tuhan.

Biarlah tiga hal ini menjadi suatu hal yang membawa kita kepada kedewasaan dan mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus Memberkati.