Menggenapi Tujuan Kristus | Pdm. Natanael Wuryanto

Menggenapi Tujuan Kristus | Pdm. Natanael Wuryanto

 

 

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10.

Sebagai umat kepunyaan Allah kita berkewajiban untuk melakukan hal-hal yang berguna bagi kemuliaan Allah. Tuhan berfirman bahwa kita sebagai umat-Nya  dibentuk, dijadikan dan diciptakan untuk kemuliaanNya (Yesaya 43:7). Kita diciptakan dalam Kristus Yesus karena hidup kita telah diperbaharui dalam Roh dan pikiran serta mengenakan manusia baru (Efesus 4:21-24). Pekerjaan baik yang harus kita lakukan adalah meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, kita harus hidup bijaksana, adil, beribadah serta rajin berbuat baik (Titus 2:11-15).

 

Namun seringkali, baik secara sadar maupun tidak sadar, kita tidak mau mengerjakan hal-hal yang baik bagi Allah, banyak waktu yang kita sia-siakan di depan TV, gadget atau hobby kita. Melakukan pekerjaan-pekerjaan baik tidak hanya dilakukan melalui pelayanan di gereja, tapi harus dilakukan melalui berbagai hal sesuai dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita, yaitu melalui pekerjaan, bisnis, pendidikan, keluarga, dan sebagainya.

Tiga hal yang perlu kita lakukan untuk menggenapi tujuan Kristus dalam hidup kita:

  1. Menghormati Hadirat Tuhan

Untuk dapat menggenapi tujuan Kristus, maka kita harus mengerti cara menghormati hadirat Tuhan. Tuhan hadir ditengah-tengah kita dengan segala manifestasinya, tidak dibatasi ruang dan waktu.

Dimasa Perjanjian Lama, dalam kitab Keluaran disebutkan bahwa orang Israel pergi menghadap hadirat Tuhan tiga kali setahun. Pada saat menghadap Tuhan, mereka tidak datang dengan tangan hampa, tapi mempersiapkan korban yang terbaik di rumah masing-masing untuk dipersembahkan ke hadirat Tuhan.                

“Sebab Aku akan menghalau bangsa-bangsa dari depanmu dan meluaskan daerahmu; dan tiada seorangpun yang akan mengingini negerimu, apabila engkau pergi untuk menghadap ke hadirat TUHAN, Allahmu, tiga kali setahun” Keluaran 34:24.

Kita menyembah Tuhan yang sama dengan yang disembah orang Israel saat itu, meskipun sekarang kita mengerti bahwa hadirat Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi apakah kita memberikan penghormatan yang sama kepada hadirat Tuhan? Saat ini kita tidak perlu lagi mempersiapkan korban persembahan berupa binatang terbaik bagi Tuhan, tapi apakah kita mempersiapkan diri dengan cara terbaik, sehingga tiba di gereja tepat waktu? Apakah kita mempersembahkan hati yang tenang dan siap untuk mendengarkan Firman Tuhan? Apakah kita telah melakukan yang terbaik dalam setiap aktivitas pekerjaan kita sebagai wujud penghormatan kepada hadirat Tuhan? Memberikan yang terbaik harus menjadi gaya hidup kita sebagai umat Tuhan.

2. Tinggal di dalam Kasih Tuhan

Tuhan Yesus telah menyatakan bahwa Ia sangat mengasihi kita, dan kita diperintahkan untuk tinggal dalam kasih-Nya. Kita harus memiliki pengertian yang benar akan istilah ‘tinggal dalam kasih’ Tuhan.

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.  Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15:9-11.

Kata ‘tinggal’, berasal dari kata kerja Yunani ‘μενω meno’ yang juga berarti ‘pelihara, bertekun, tahan uji’.  Tinggal dalam kasih Tuhan seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Ini bukanlah tindakan yang pasif, tapi secara aktif berusaha memelihara hati kita untuk tetap mengasihi. Tanda bahwa kita tinggal dalam kasih Allah adalah kita menuruti segala perintah Tuhan (Yohanes 15:10). Tinggal di dalam kasih Tuhan juga berarti menjaga secara aktif agar kasih Tuhan, yaitu kasih agape, kasih tanpa syarat, selalu ada di dalam hati kita.

3. Menghidupi Firman-Nya

“Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya,
ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” 1 Yohanes 2:4.

Tanda bahwa kita mengenal Tuhan bukan hanya sekedar mendengar, membaca atau merenungkan Firman-Nya. Pengenalan yang sejati adalah melakukan dengan setia Firman-Nya dalam hidup kita sehari-hari, atau menjadikan Firman-Nya sebagai gaya hidup dalam keseharian kita. Ketika kita menuruti perintah-perintah-Nya, melakukannya dalam setiap aspek kehidupan kita, maka kita menjadi kebenaran Allah.

Ketika kita taat akan Firman-Nya, kita tidak hanya didapati sebagai kebenaran Allah, tapi juga tersedia berkat ketaatan yang disediakan Tuhan bagi setiap pelaku Firman-Nya.

“dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya”  1 Yohanes 3:22.

Berkat dan segala jawaban atas kebutuhan-kebutuhan kita serta kemampuan yang dari Allah tersedia bagi kita, asalkan kita mau menjadi pelaku-pelaku Firman serta hidup berkenan di hadapan-Nya. Amin.