Berbuah di Setiap Musim Kehidupan | Pdt. Rubin Adi Abraham

Berbuah di Setiap Musim Kehidupan | Pdt. Rubin Adi Abraham

 

 

Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”

Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.        

Kejadian 41:51-52

Ciri orang beriman adalah berbuah, dan setiap kita dipanggil untuk menghasilkan buah.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, (Yohanes 15:16).

Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. (Kejadian 49:22).

Orang yang ada di aliran airnya Tuhan, yang senantiasa mengandalkan Tuhan setiap saat pasti berbuah. Tahun 2017 disebut sebagai tahun yang penuh tantangan, tetapi Tuhan berjanji bahwa kita dapat terus menghasilkan buah, apapun situasi yang kita hadapi.

Bagaimana cara mengatasi kesulitan dan tetap berbuah?

  1. MELUPAKAN KEPAHITAN DI MASA LALU

Yusuf melupakan hal-hal buruk yang dialami dalam kehidupannya dan tidak mengijinkan ada kepahitan dalam dirinya. Ia lahir dalam keluarga yang dis-harmoni dengan 1 ibu kandung, 3 ibu tiri, dan 12 orang saudara. Menjadi budak, difitnah, masuk penjara, dan seterusnya.

Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (Ibrani 13:5). 

Daripada fokus pada kesulitan hidupnya, Yusuf lebih memilih untuk memperhatikan hal-hal positif yang dilakukan Tuhan dalam hidupnya, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, dan terus berharap kepada kasih setia Tuhan yang tidak pernah habis dalam hidupnya.

Mungkin kita pernah mengalami suatu penyakit di tahun 2016, janganlah mengingat sakitnya, tetapi ingatlah kesembuhan yang telah kita terima. Ketika kita ditipu seseorang, janganlah mengingat penipuan tersebut, tetapi ingatlah pemeliharaan Tuhan. Apa yang menjadi fokus perhatian kita akan menentukan bagaimana kehidupan kita ke depan. Pandanglah kesulitan-kesulitan tahun 2016 sebagai proses pembentukan karakter kita.

“Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.” Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.  Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:19-23)

Anak dari Yusuf yang pertama bernama Manasye yang artinya: ‘forgetful’, anak yang ke dua bernama Efraim, yang artinya: ‘fruitful, double prosperity’. Untuk bisa berbuah banyak dan mengalami kemakmuran, hal yang pertama-tama harus dilakukan adalah melupakan kepahitan masa lalu.

2. MEMINTA KEHADIRAN TUHAN DI MASA KINI

Untuk dapat berbuah, kita harus memastikan kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Yusuf selalu berbuah di dalam setiap musim kehidupannya, karena Ia selalu dipenuhi Roh Allah dan melibatkan Tuhan dalam kesehariannya, dimanapun ia berada, baik di rumah Potifar, di dalam penjara ataupun di istana Firaun

Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil
dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.
(Kejadian 39:2).

Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?”…. Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 41:39-41)

Hal yang sama diminta oleh Musa, ketika ia berkata dalam Keluaran 33:15, ”kalau Engkau tidak menyertai kami, jangan suruh kami berangkat dari sini”. Akui dan libatkan Tuhan di dalam setiap rencana. Tuhan pasti mengadakan pembedaan yang nyata bagi orang-orang yang senantiasa berharap kepada-Nya.

3. MEYAKINI JANJI TUHAN UNTUK MASA DEPAN

Apapun kondisi kita saat ini, betapapun beratnya kesulitan dan tantangan yang kita hadapi, Tuhan sanggup membalikkan keadaan kita, asalkan kita tetap meyakini janji-janji Firman-Nya. Yusuf mempercayakan masa depannya kepada Tuhan, ia tahu bahwa dalam setiap kesulitan yang dihadapi, Tuhan sedang menuntun hidupnya untuk menjadi saluran berkat yang luar biasa.

Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. (Kejadian 45:8).

Tuhan juga memiliki rancangan-rancangan besar bagi hidup kita. Oleh sebab itu jangan pernah menyerah atas setiap masalah dan persoalan yang kita hadapi.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

(Yeremia 29:11).

Pegang teguh janji Firman-Nya, maka kita akan melihat kemuliaan-Nya dinyatakan melalui hidup kita dan hidup kita akan semakin berbuah. Amin.