Orang Tua Bijak (Sacred Parenting) | Ps. Hanny Yasaputra

Orang Tua Bijak (Sacred Parenting) | Ps. Hanny Yasaputra


 

“Orang yang bijak lebih berwibawa daripada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan daripada orang yang tegap kuat.” Amsal 24:5

Sebagai orang tua kita harus banyak memiliki hikmat dan berdoa dalam mendidik anak-anak yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, dan tugas kita menjadi orang tua tidak akan berhenti sampai maut menjemput kita. Hikmat dan pengetahuan sangat penting di dalam kita menjalani hidup keseharian, sebab hikmat akan memberikan jawaban atas segala persoalan yang sedang kita hadapi, dan hikmat itu hanya ada pada kebenaran Firman Tuhan.

Perintah Tuhan kepada Adam dan Hawa di Kejadian 1:28; Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Perintah untuk beranak cucu bukanlah  istilah untuk penambahan anggota keluarga saja tetapi lebih mengarah kepada bertambah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan menginginkan supaya hidup kita berbuah. Berbuah berarti mengembangkan setiap potensi yang Tuhan percayakan dalam hidup kita dan berbuah adalah hasil akhir dari setiap kehidupan. Pohon apel bisa saja kelihatan rindang dan indah tetapi pohon apel itu belum memenuhi destiny dan tujuan penciptaannya sampai pohon apel itu menghasilkan buah. Buah apel ada tidak untuk pohon apel itu sendiri tetapi buah apel untuk dinikmati oleh kita semua. Demikian juga melalui setiap potensi yang Tuhan percayakan hendaknya hidup kita berbuah dan buahnya dapat dinikmati oleh orang-orang disekeliling kita.

Perintah Tuhan tidak berhenti sampai menghasilkan buah tetapi juga untuk bertambah banyak (multiply) yang berarti Tuhan menginginkan supaya hidup kita menjadi berkelimpahan, memiliki otoritas, membesarkan dan menjadi dahsyat. Bertambah banyak bukan cuma punya anak banyak, tetapi kita menginvestasikan hikmat dan roh takut akan Tuhan dalam kehidupan anak-anak kita sehingga kita dapat juga maju dan bertumbuh bersama-sama, sehingga anak-anak kita memiliki keahlian dan berkembang dalam menguasai talenta dan menjadi versi yang terbaik dari diri sendiri.

Hari-hari ini banyak terjadi ketika anak-anak sedang membutuhkan hubungan, jamahan dan pendampingan dari orang tua, justru orang tua sibuk dengan segala aktifitas dan pekerjaan mereka dengan alasan demi anak. Namun waktu berjalan dan orang tua sudah memiliki semua serta waktu untuk anak-anak tetapi anak-anak mulai beranjak dewasa dan mulai meninggalkan rumah., sehingga hubungan antara orang tua dan anak menjadi terputus “disconnected.

Anak-anak hidup dalam zona hari ini, tidak ada yang lebih tahu bagaimana hidup di hari ini daripada anak kecil. Sedangkan orang dewasa hidup pada masa lalu atau masa depan, orang dewasa sering melihat kegagalannya di masa lalu sehingga memaksakan kehendaknya agar anak-anak bisa berhasil di masa depan. Dalam time zone yang berbeda ini mudah sekali membuat kekacauan dalam rumah tangga. Bagaimana kita bisa melepaskan masa lalu dan mengosongkan masa depan kemudian berselaraskan diri dengan anak-anak inilah rahasia menjadi ORANG TUA BIJAK. Artinya kita membagi waktu yang berkualitas dengan berkomunikasi, bermain dan mengasihi anak sepenuhnya ketika mereka sedang membutuhkan pendampingan.

Suatu bentuk disiplin dan permuridan kepada anak bukan berarti kita bisa menguasai kehidupan anak dan melakukan apa yang kita mau lakukan terhadap anak tanpa seijin mereka. Sementara kita membimbing anak untuk menghadapi realita kita perlu mengajarkan kepada mereka jalan-jalan Tuhan. Kita harus mendidik anak-anak kita dengan budaya Kerajaan Allah karena Tuhan memiliki rencana atas anak-anak kita. Oleh sebab itu sebagai orang tua kita harus selaras dengan rencana Tuhan atas anak-anak kita, karena jika tidak maka akan sangat mudah bagi kita untuk memaksakan kehendak kepada anak-anak sehingga membuat anak menjadi frustasi.

Seringkali kita berfikir telah memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Kita memperlakukan anak-anak sebagai asset dan harta sehingga kita mengurusnya supaya mendatangkan keuntungan/kemuliaan bagi orang tua. Kita taruh mereka di sekolah idaman supaya lulus dengan gelar kebanggaan dan menjadikan kita orang tua puas dan bangga. Kita menjadikan mereka “boneka” untuk membuat kita orang tua bahagia. Kita terlalu membebani anak-anak kita di usia dini yang tidak sesuai dengan daya tekanan di usia muda mereka.

Mendewasakan anak-anak harus dimulai dengan mendewasakan diri sendiri. Kita banyak gagal dalam hidup kita, dan mau menebusnya melalui kehidupan anak-anak kita.  Kita harus mampu mengatasi “sampah emosi & emosi yang terluka” dalam diri kita dan itu bukan kepunyaan anak kita. Ketika kita mulai mengatasi sampah itu aka kita akan melihat rencana Tuhan yang indah atas anak-anak kita.

Mari kita jadikan satu perubahan paradigma dalam mendidik anak-anak, kita tidak lagi dengan perintah tetapi discipleship (pemuridan), dorong diri kita untuk mencari Tuhan guna mendapatkan hikmat, pengertian dan pengetahuan serta datang kepada Tuhan dalam semua permohonan dan pengharapan dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan untuk mengatasi “ego” sebagai orang tua sehingga kita dapat mendidik anak-anak kita selaras dengan destiny yang telah Tuhan tetapkan bagi anak-anak kita karena anak-anak adalah milik Tuhan.