The Sowing Season | Pdm. David Limanto

The Sowing Season | Pdm. David Limanto


 

Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan,

 tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti.

Kejadian 41:53,54.

Semua hamba Tuhan yang berkualitas pernah mengalami proses, menjalani proses, loyal kepada proses, bahkan menikmati proses yang Tuhan taruh di dalam kehidupan mereka.  Kita dapat belajar dari kehidupan Yusuf yang dianiaya oleh keluarganya sendiri, dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, kemudian masuk penjara karena difitnah oleh istri Potifar. Dalam keadaan teraniaya, Yusuf tetap menyimpan janji-janji Tuhan yang didapatnya melalui mimpi. Sebenarnya bukan kita yang menantikan waktu penggenapan janji Tuhan, melainkan Tuhanlah yang menantikan kapan kita siap, agar kuasa janji-Nya dapat dinyatakan dan seluruh rencana-Nya atas hidup kita dapat digenapi.

Di saat musim kelimpahan biasanya tidak ada seorang pun yang mengeluh. Saat usaha lancar dan apa pun yang ditabur bertumbuh, semua orang menyukainya, seolah-olah Tuhan akan selalu baik. Namun jangan lupa ada masa kekeringan di mana segalanya terasa berat dan buruk serta tidak ada yang dapat diandalkan lagi. Di masa kelimpahan, Yusuf tetap hidup sederhana dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa kesukaran.

Ada 2 golongan orang pada musim kesukaran/kekeringan:

  1. Golongan yang menjual segala harta miliknya supaya dapat hidup.

Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya, pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya: “Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku, bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami. (Kejadian 47:18).

Ini adalah golongan orang yang saat penghasilan meningkat, gaya hidupnya berubah. Ketika datang masa kesukaran, mereka menghabiskan tabungan dan menjual harta milik mereka. Yang mengerikan adalah ada orang-orang yang di saat mengalami tekanan pada masa kesukaran, mereka menjual dirinya, termasuk kebenaran yang dipercayainya supaya dapat hidup.

2. Golongan yang melihat musim menabur.

Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu: “Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Firaun; inilah benih bagimu, supaya kamu dapat menabur di tanah itu.  Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu.” Lalu berkatalah mereka: “Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun.”. (Kejadian 47:23-25).

Di saat kesesakan tetaplah menabur BENIH. Benih melambangkan:

a. Firman Tuhan (Lukas 8:11)

Kita dapat menabur Firman Tuhan bila hidup kita sudah dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga tidak lagi hidup menuruti daging. Orang yang mendengarkan Firman Tuhan harus peka akan suara Roh Kudus, sehingga kehidupannya terus berubah menjadi lebih baik.  Apa yang kita katakan sangatlah penting untuk kita perhatikan, karena bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan melainkan apa yang keluar dari mulut kita. Begitu pula perkataan kita menunjukkan apa yang ada dalam pikiran kita. Apakah pikiran kita dipenuhi kebenaran Firman atau tidak.

b. Generasi berikutnya.

Tuhan menginginkan kita bukan sekedar menjadi orang yang successful dan faithful, tetapi harus sampai pada level fruitful. Untuk itu kita perlu mempersiapkan generasi berikutnya. Ada 5 hal yang mempengaruhi perkembangan generasi, yaitu keluarga, pendidikan/sekolah, institusi keagamaan, komunitas pertemanan, dan media. Dari kelima hal itu, keluargalah yang memiliki pengaruh paling besar. Orangtua harus membayar harga untuk menabur benih bagi munculnya generasi penerus yang unggul!

c. Investasi di bumi dan di surga.

Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: “Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham,
Ishak dan Yakub.” (Kejadian 50: 24).

Investasi adalah benih yang kita tabur untuk sesuatu yang jauh di depan. Yusuf memikirkan masa depan yang masih jauh. Ia tahu bahwa bangsa Israel tidak ditentukan untuk tinggal di Mesir, tetapi untuk memasuki dan tinggal di tanah perjanjian. Begitu pula dengan kehidupan kita. Destiny kita tidaklah hanya untuk tinggal di bumi yang hanya sementara ini, tetapi di sorga mulia, dimana kita akan memerintah bersama-sama dengan Raja segala raja.

Di masa kesukaran, tetaplah hidup dengan menabur benih firman Tuhan, benih bagi generasi penerus kita dan benih investasi bagi kehidupan kekal. Perkatakan hal ini berulang-ulang, agar kita hidup dengan tujuan-tujuan yang kekal. Amin.