The Fountains In The Valleys | Pdt. Eluzai Frengky Utana

The Fountains In The Valleys | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Waktu Tuhan
Ps. Barnabas Ong

09-03-14

Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung.  

Ulangan 8:7.

Lembah selalu menggambarkan tempat yang tidak baik, berada di posisi bawah, atau tempat penderitaan. Manusia pada umumnya suka berada di atas, di posisi puncak, tetapi sesungguhnya di lembah-pun Tuhan sanggup membuat mata air. Lembah bukanlah tempat kekalahan ataupun tempat mengubur kita. Lembah adalah tempat kita belajar mengandalkan Tuhan, mengalami berkat-Nya dan menghasilkan buah. Asalkan kita melangkah bersama Tuhan, maka di lembah apapun kita ditempatkan, kita bisa memancarkan air dan membentuk sungai-sungai bagi banyak orang.

4 kunci agar di lembah apapun kita ditempatkan, kita bisa memancarkan air dan membentuk sungai-sungai bagi banyak orang.

  1. Yakin dengan Sepenuh Hati bahwa Tuhan adalah Gembalaku

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
(Mazmur 23:1).

Kita harus percaya bahwa Tuhan Yesus adalah gembala yang baik. Ia memelihara dan menjaga domba-dombaNya dengan kasih dan kuasa-Nya.

Ada tiga hal yang dilakukan oleh gembala yang baik:

a.Dia adalah Gembala yang menuntun.

Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
(Yohanes 10:4).

Gembala yang baik berjalan di depan domba-domba-Nya, Ia berjalan menghadapi segala tantangan dan mencari tempat terbaik bagi domba-domba-Nya. Bahkan ketika jalan di hadapan domba-domba seolah-olah menghilang karena tertutup kabut, maka Ia tetap berada di sana menuntun domba-domba-Nya. Yesus berkata bahwa Ia adalah jalan, berarti apapun masalah kita, maka pasti ada jalan keluarnya. Untuk mengalami tuntunan Tuhan di tengah kelam kabut kehidupan, maka kita harus membaca Firman Tuhan dan tekun berdoa.

b.Dia adalah Gembala yang menyediakan.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (Mazmur 23:5).

Masalah-masalah di padang gurun diijinkan Tuhan untuk menyucikan hidup kita, mempersiapkan kita agar mampu menerima kelimpahan dari Tuhan. Kelimpahan tidak hanya secara finansial, tapi juga kesehatan dan hubungan sosial dengan banyak orang.

c. Dia adalah Gembala yang menyuarakan kedamaian di tengah badai.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
Akulah pintu ke domba-domba itu. (Yohanes 10:7).

Pada zaman dahulu, kandang domba di Israel terbuat dari tembok batu dan diberi satu tempat untuk keluar masuk. Tempat keluar masuk tersebut tidak memiliki pintu, tetapi sang gembala sendirilah yang duduk di sana sebagai pintu untuk menjaga domba-dombanya. Tugas paling utama dari seorang pemimpin Kristen adalah membawa domba-dombanya kepada sang Gembala Agung, agar mereka mengalami tuntunan dan penyediaan yang berlimpah dari Tuhan.

2. Berserah Sepenuhnya kepada Dia

Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya:
“Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa.”
(Yohanes 18:9).

Dia adalah Tuhan atas seluruh hari esok kita, maka kita harus mempercayakan seluruh perjalanan hidup kita kepada-Nya. Berjalan dengan Tuhan bukanlah soal ‘cara’, tetapi soal ‘hubungan’. Sebagai contoh jika ada orang yang tidak tunduk kepada otoritas seorang pemimpin, maka yang harus dilakukan pemimpin tersebut bukanlah mencoba berbagai ‘cara’ manusia, tetapi membangun ‘hubungan’ yang lebih erat lagi dengan Tuhan melalui doa.

3. Ingatkan Diri bahwa Tuhan Dapat Mengubah Segala Sesuatu

Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. (Yesaya 41:18).

Tuhan dapat mengubah segala macam situasi yang sulit dalam hidup kita. Penyakit yang tampaknya tidak mungkin disembuhkan, atau keterikatan dengan narkoba yang tampaknya tidak mungkin dilepaskan, semuanya dapat diubah oleh Tuhan. Ia ahli mengubah tempat gersang tanpa pengharapan serta padang gurun kering tanpa kehidupan, menjadi telaga yang memancarkan air dan menghasilkan kehidupan.

4. Belajar untuk menanti-nantikan Tuhan

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31).

Ketika menghadapi masalah sakit-penyakit, ekonomi dan sebagainya, belajarlah untuk tidak memandang persoalan tersebut, tapi memandang kepada Dia. Bagaimana caranya? Renungkan apa yang telah dilakukan-Nya di kayu salib. Renungkan bahwa oleh bilur-bilur-Nya segala penyakit kita telah disembuhkan. Renungkan bahwa Ia miskin dan menderita, supaya kita kaya. Kita menanti-nantikan Tuhan bukan dengan pasif dan hanya bengong, tetapi secara aktif merenungkan segala perbuatan-Nya di kayu salib.

Jika keempat kunci di atas kita lakukan, maka kita akan mengalami mata air yang memancar dan sungai-sungai yang mengalir di lembah kehidupan kita. Amin.