NEW HEIGHTS THE BEGINNING | Pdt. Andrew Pohan

 

 

Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. (Yesaya 41:18).  

Untuk mencapai puncak-puncak yang baru dalam kehidupan kita, maka melalui kodrat Ilahi-Nya (His Divine Nature), Tuhan akan melakukannya bagi kita.  yaitu melalui 3P: Pembalikan Keadaan, Percepatan dan Pelipatgandaan. Ada yang harus kita kerjakan, dan ada bagian yang hanya Tuhan yang sanggup melakukannya.

  1. PEMBALIKAN KEADAAN

Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”  Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”
(Kejadian 41:50-52).

Yusuf memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Manasye yang artinya pembebasan (deliverance), yang kedua bernama Efraim yang artinya berbuah (fruitful).

Setelah itu Yusuf memegang mereka keduanya, dengan tangan kanan dipegangnya Efraim, yaitu di sebelah kiri Israel, dan dengan tangan kiri Manasye, yaitu di sebelah kanan Israel, lalu didekatkannyalah mereka kepadanya. Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye  —  jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung.
(Kejadian 48: 13-15).

Dalam budaya Yahudi tangan kanan selalu berbicara tentang berkat pengurapan. Sangat menarik bahwa Yakub sebagai kakek memberi berkat kepada cucu-cucunya dengan mendahulukan/ mengutamakan Efraim (fruitful) di depan Manasye (deliverance). Yakub sedang menunjukkan bahwa cara kerja Tuhan adalah berbuah terlebih dulu sebelum mengalami pembebasan. Kita harus menjadi orang yang produktif terlebih dulu, sebelum menerima promosi. Untuk menerima pembalikan keadaan dari Tuhan, maka bagian kita adalah menjadi orang yang produktif terlebih dahulu dan menghasilkan buah bagi kebaikan orang lain.

2. PERCEPATAN

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. 

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.”

Lalu merekapun membawanya.  Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu  —  dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya  —  ia memanggil mempelai laki-laki,  dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”
(Yohanes 2:1-10).

Ketaatan pelayan-pelayan membawa air pembasuhan kaki kepada pemimpin pesta untuk dikecapnya mengandung resiko, jika air tersebut tetap sebagai air pencuci kaki, maka mereka bisa dipecat. Tetapi ketaatan menghasilkan mujizat percepatan. Anggur terbaik yang seharusnya difermentasi selama bertahun-tahun, dapat terwujud hanya dalam beberapa detik di tangan Yesus, ini adalah bagian Tuhan. Untuk mengalami mujizat percepatan, maka bagian kita adalah terlebih dahulu mentaati perkataan Yesus, apapun resikonya.

3. PELIPATGANDAAN

Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”  Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. ….Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. (Yoh 6:5-6, 11).

Kata ‘tahu’ dalam ayat di atas berasal dari kata Yunani ‘oida’ yang artinya ‘telah melihat’ (to have seen).  Tuhan Yesus telah melihat mujizat tersebut jauh sebelum mujizat tersebut terjadi. Hal ini sama dengan yang dilakukan Tuhan ketika Abram diberi nama Abraham, yaitu bapa dari banyak bangsa pada masa ketika Abram telah mati pucuk dan istrinya telah mati haid. Tuhan ‘telah melihat’ jauh ke depan, dan mujizat pelipatgandaan terjadi karena Abraham percaya dan taat.

Hal yang sama terjadi ketika Tuhan Yesus menyuruh orang menggulingkan batu dan memanggil Lazarus keluar. Ketika orang taat menggulingkan batu, maka pada saat yang sama Lazarus bangkit. Ada bagian yang harus kita lakukan yaitu menggulingkan batu, dan ada bagian Tuhan untuk melakukan mujizatNya. Ada batu-batu yang harus kita singkirkan dari kehidupan kita, misalnya batu pornografi, batu kebiasaan bergosip atau hal-hal dan kebiasaan buruk lainnya. Jika kita melakukan bagian kita maka mujizat pelipatgandaan telah tersedia dan bahkan Tuhan ‘telah melihatnya’.

Kita harus belajar membedakan mana ‘bagian Tuhan’ dan mana ‘bagian kita’ melalui keintiman sebagaimana keintiman suami istri (‘ginosko’) bersama-Nya. Jika ketiga hal di atas kita lakukan sesuai bagian kita, maka Tuhan akan melakukan bagian-Nya, dan kita akan menyaksikan ‘The New Heights’ terwujud dalam kehidupan kita. Amin.