Blessings in the Valleys | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Blessings in the Valleys | Pdt. Eluzai Frengky Utana

 

 

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Matius 16:18).

Lembah selalu berbicara tentang tempat penderitaan, posisi di bawah, tempat yang tidak nyaman, tempat penuh tantangan, lembah air mata. Lembah bukanlah tempat kekalahan, tempat mengubur kita, tetapi merupakan tempat melatih kita berjalan dalam kebenaran, bergantung penuh pada kuasa dan anugerah Tuhan. Untuk mengalami mujizat tersebut, sebagai gereja-Nya kita harus menjadi gereja yang hidup dalam kuasa kebangkitan.

Seperti apakah gereja yang hidup dalam kuasa kebangkitan?

  1. Bukan Gereja dengan pola ‘Daun Ara’

Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya. (Markus 11:13-14).

Ketika kita masuk dalam kegerakan Tuhan, Ia menginginkan supaya hidup kita berbuah. Hidup kita akan berbuah jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan bukan mengandalkan kekuatan atau kemampuan diri sendiri.

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (Kejadian 3:7).

Daun ara berbicara cara-cara manusia yang mengandalkan kekuatan dan kemampuan dirinya, yaitu mengambil daun ara untuk menutupi kekurangannya. Untuk mengatasi kelemahan kita, janganlah kita menggunakan cara-cara sendiri, tetapi memintalah hikmat, kekuatan dan cara-cara dari Tuhan.

2. Bukan Gereja dengan pola ‘Debu Tanah’

Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7).

Adam yang pertama dibuat dari debu tanah. Debu tanah berbicara tentang gereja yang berorientasi pada kedagingan, yaitu dikuasai hawa nafsu dan hidup tanpa tujuan. Kehidupan yang dikuasai kedagingan akan cenderung mencari-cari kesalahan Firman Tuhan, bahkan mulai menyalahkan Tuhan ketika berada di masa-masa sukar dan seolah-olah Tuhan tidak menolong.

3. Menjadi Gereja dengan pola ‘Berbuah’

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan

perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26-28).

Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah, untuk menjadi tempat kediaman-Nya, agar melaluinya Allah memperluas kerajaan-Nya di bumi, dan memerintah selama-selamanya bersama manusia. Kediaman Allah bukanlah gedung tetapi komunitas orang percaya yang mempunyai gaya hidup “saling” yang digerakkan oleh visi dan kuasa Kerajaan Allah. Gaya Hidup saling memberkati, saling menolong, saling mengasihi, saling mengapuni, saling membangun, dan sebagainya.

4. Menjadi Gereja dengan pola ‘Bintang’

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kejadian 15:5).

Gereja pola ‘bintang’ sama dengan gereja pola ‘berbuah’ karena gereja pola bintang adalah gereja yang bersinar memancarkan terang Kristus

Ada tiga ciri gereja dengan pola ‘Bintang’, yaitu:

a. Perkataannya penuh kuasa.

Kita harus terus menerus memperkatakan Firman Tuhan, bahkan saat kenyataan berkata lain. Hal ini sama seperti yang dilakukan Sara kepada Abraham, dengan terus-menerus memanggilnya sebagai ‘bapa banyak bangsa’ di saat mereka belum memiliki anak, maka pada waktunya Tuhan menggenapi perkataan Firman ini.

b. Pikirannya dikuasai pikiran Kristus.

Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus. (1 Korintus 2:16).

Ketika kita mengijinkan pikiran kita dikuasai dengan pikiran Kristus, maka otak kita akan terus dibaharui dari hari ke hari. Sebagai contoh kita akan tetap bisa berpikir jernih dan tidak pikun sekalipun dalam usia lanjut dan tetap menjadi berkat.

c. Tindakannya bergaya hidup murid Yesus.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat
menjadi murid-Ku. (Lukas 14:27).

Kita harus mengubah gaya hidup kita menjadi gaya hidup Kristus. Mengubah gaya hidup dari sekedar pengikut menjadi murid Yesus. Seorang pengikut hanya ‘mengejar’ berkat, nubuatan-nubuatan dan mujizat-mujizat, tapi seorang murid ‘hidup dalam’ berkat, nubuatan-nubuatan dan senantiasa mengalami mujizat-mujizat.

Ketika kita hidup sebagai gereja dengan kuasa kebangkitan, maka kita akan mengalami mujizat yang mengubah lembah air mata menjadi tempat yang bermata air. Kehidupan kita akan menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Amin.