The Lily of The Valleys | Pdm. Stefanus Suheru

The Lily of The Valleys | Pdm. Stefanus Suheru

 

 

Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah.

Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.

(Kidung Agung 2:1-2).

Kita bisa belajar memahami tentang kasih Allah yang luar biasa melalui gambaran tentang bunga bakung. Dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bunga bakung dipakai untuk menggambarkan umat Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, kasih Allah kepada umat-Nya diuraikan oleh raja Salomo dalam kitab Kidung Agung. Dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus menggambarkan keberadaan umat-Nya sebagai bunga bakung yang diperhatikan dan didandani Allah.  

Mari kita mempelajari karakteristik bunga bakung di lembah-lembah dari 4B berikut ini:

  1. Bunga bakung adalah bunga yang BIASA SAJA.

Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah.
(Kidung Agung 2:1)

Bunga bakung adalah jenis bunga yang sangat umum di daerah Timur Tengah. Bunga ini dengan mudah didapati di mana saja, di pinggir-pinggir sungai, di padang rumput, atau di ladang. Bunga ini dapat tumbuh dengan baik tanpa perawatan khusus. Kita digambarkan sebagai bunga bakung karena kita menjadi umat Allah bukan karena kita lebih baik dan lebih hebat dari orang lain. Sesungguhnya kita hanyalah orang-orang biasa yang dipilih Tuhan menjadi umat-Nya. Semata-mata karena kasih karunia-Nya. Karena itu janganlah kita menjadi sombong atau meninggikan diri kita di atas orang lain, tetapi marilah kita menjadi orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama manusia.

  1. Bunga bakung adalah bunga yang BERHARGA.

Seperti bunga bakung di antara duri-duri,
(Kidung Agung 2:2b)

Raja Salomo membandingkan bunga bakung dengan duri-duri. Duri menggambarkan sesuatu yang tidak bermanfaat, sesuatu yang tidak berharga. Sedangkan bunga bakung memiliki keindahan, sehingga sering diselipkan dalam rangkaian bunga-bunga saat ada acara pernikahan di Israel. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa keindahan bunga bakung bukan berasal dari dirinya sendiri, tapi karena didandani oleh Allah.

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
(Matius 6:28-30).

Kita adalah ciptaan baru bukan karena usaha kita, tetapi karena didandani oleh Allah. Karena itu mari kita ijinkan kualitas dan karakter kehidupan yang indah muncul dari hidup kita, sebagaimana bunga bakung yang telah didandani oleh Allah.

3. Bunga bakung adalah bunga yang BERBAU HARUM.

Sekalipun jenis bunga sederhana, bunga bakung adalah bunga yang berbau harum, sehingga dapat dipakai dalam acara-acara di Israel untuk mendatangkan bau wangi yang semerbak. Kita dipanggil untuk memberikan bau harum yang menyegarkan di tengah-tengah dunia yang kotor dengan pelbagai trik politik, pemutar-balikan kebenaran, dan sebagainya. Di tengah bau amis korupsi, bau busuk penipuan dan kepalsuan, maka orang banyak sedang menantikan bau harum dari kebenaran Allah dalam kehidupan kita.

Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.
(2 Korintus 2:15).

Maru kita ijinkan bau harum kebenaran Kristus terpancar dari kehidupan kita, sehingga orang-orang di sekitar kita merasakan kasih, sukacita, damai sejahtera dan kebenaran Allah mengalir ke dalam hidup mereka.

4. Bunga bakung adalah bunga yang BERBEDA.

Seperti bunga bakung di antara duri-duri,
(Kidung Agung 2:2b)

Bunga bakung seringkali berada di tengah duri-duri, tetapi bunga bakung sangatlah berbeda dengan duri-duri tersebut. Kita dipanggil untuk ‘tampil beda’ di tengah-tengah dunia yang jahat ini, sebagaimana Nuh yang ‘tampil beda’ di zamannya. Sekalipun Nuh mengalami berbagai tantangan karena ia harus hidup melawan arus, ia hidup tak bercela dan tetap setia, sehingga ia dan keluarganya diselamatkan. Untuk ‘tampil beda’ ada harga yang harus dibayar, ada cemooh, fitnah, tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi. Apapun kesulitan yang sedang kita alami, tetaplah setia dan tetaplah berani ‘tampil beda’. Kita bukanlah duri-duri yang satu saat nanti akan dimusnahkan dan dibakar, tetapi seperti Nuh kita adalah orang-orang yang telah dipilih untuk diselamatkan dan menerima hidup kekal. Amin.