Three Gifts for Your Children | Ev. David & Denise Glenn

 

 

Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. (Maleakhi 2:15).

Tujuan menjadi orang tua adalah untuk menghasilkan anak-anak ilahi. Anak-anak ilahi bisa merupakan anak-anak kandung (biologis), dan bisa juga anak-anak rohani. Kita harus punya tujuan yang jelas ketika menikah, membentuk keluarga dan menghasilkan anak-anak, karena hal ini akan mengubah keluarga, gereja, bahkan bangsa kita. Dalam kitab Ulangan 6:1-2, Allah mengharapkan agar kita berpikir jauh ke depan, kepada anak cucu, dan generasi demi generasi.

Setiap orangtua tentu ingin memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Untuk itu ada beberapa hal praktis yang dapat kita lakukan sebagai hadiah-hadiah terbaik bagi anak-anak kita. Hadiah-hadiah tersebut tidak perlu dibeli dengan uang, tetapi nilainya sangatlah mahal.

  1. Hadiah Pertama: KASIH TANPA SYARAT.

Anak-anak tidak pernah terlalu tua untuk diselimuti dengan kasih. Kasih tersebut haruslah kasih tanpa syarat yang diberikan secara konsisten dari waktu ke waktu.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan
tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala  sesuatu,  sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.
 (1 Korintus 13:4-8).

Ada anak-anak yang gampang diatur, tetapi ada juga yang sulit, karena itu sebagai orang tua setiap hari kita harus berlutut memohon petunjuk dan tuntunan Tuhan, agar kita mampu menerapkan kasih tanpa syarat ini dengan tepat bagi setiap anak-anak kita. Ada tiga cara praktis untuk mengekspresikan kasih tanpa syarat, yaitu:

  1. Memberikan waktu.

Seringkali orang tua sibuk mencari uang dan mengabaikan kebersamaan dengan anak-anak. Hal ini membuat anak-anak merasa tidak dikasihi dan berpikir bahwa uang lebih penting daripada keberadaan mereka.

2. Menyentuh/memeluk anak-anak.

Anak-anak selalu suka merasakan sentuhan orang tua, tidak peduli seberapa besar usia mereka.

3. Bercakap-cakap dengan mereka.

Anak-anak merasa diperhatikan dan dikasihi, ketika orang tua memberikan waktu dan perhatian untuk mendengarkan isi hati mereka.

Ketiga hal di atas membutuhkan kemauan dan pengorbanan orang tua bagi anak-anak mereka.

2. Hadiah Kedua: DISIPLIN.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
(Efesus 6:1).

Anak-anak harus belajar tentang ketaatan melalui disiplin. Disiplin seperti sebuah tali pembatas yang melindungi anak-anak kita. Ketika anak-anak masih kecil, tali pembatas tersebut memiliki lingkaran yang kecil atau ketat. Ketika anak-anak semakin besar, maka tali pembatas harus diperlonggar. Untuk mengetahui sejauh mana kelonggaran bisa diberikan, maka sebagai orang tua kita harus bertanya melalui doa kepada Tuhan setiap hari. Karena hanya Tuhan yang tahu persis karakter masing-masing anak. Suami dan istri juga harus berdoa agar konsisten dengan seberapa longgar tali pembatas tersebut. Jika suami dan istri memiliki standar kelonggaran yang berbeda, maka anak-anak akan menjadi bingung.

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:4).

Firman Tuhan sudah menyatakan bahwa para ayah berpotensi membuat anak-anaknya terluka, sehingga kita harus berhati-hati dalam menjalankan peran sebagai ayah. Suatu hari nanti setiap anak akan meninggalkan rumah orang tua mereka. Untuk itu mereka harus tahu cara menghormati otoritas Tuhan dengan cara belajar menghormati orang tua mereka, melalui didikan dan disiplin dari orang tua.

3. Hadiah Ketiga: ROTI KEHIDUPAN.

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ulangan 6: 6-7).

Orang tua harus mengkomunikasikan kebenaran Firman tentang Kristus dan kerajaan-Nya. Cara untuk memberikan Firman sebagai roti kehidupan kepada anak-anak adalah dengan memberikannya sedikit demi sedikit, sesuai kemampuan mereka untuk mengunyahnya. Hal praktis yang dapat dilakukan adalah sesekali mengadakan aktivitas malam keluarga, yaitu makan malam dalam suasana yang menyenangkan yang diselingi dengan belajar Firman Tuhan dan doa. Orang tua mendoakan anak-anak, tapi juga perlu meminta anak-anak mendoakan orang tua mereka. Hal praktis lainnya adalah untuk mengajak anak-anak mengambil bagian dalam pelayanan di gereja. Ajaklah mereka untuk terlibat dalam aktivitas pelayanan yang sesuai dengan talenta mereka. Dengan demikian anak-anak dapat belajar menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka.

Ketiga hadiah di atas harus diberikan dalam urutan yang benar agar dapat bekerja dengan baik. Urutan yang pertama kasih tanpa syarat, yang kedua disiplin, yang ketiga adalah roti kehidupan. Jika urutannya dibolak-balik maka tidak akan ada hasilnya. Tetapi jika ketiga hadiah tersebut diberikan dengan baik sesuai urutannya, maka anak-anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan, mengasihi Tuhan dan orang tua mereka, serta memiliki masa depan yang gilang gemilang. Amin.