Waktu Tuhan | Ps. Barnabas Ong

Waktu Tuhan | Ps. Barnabas Ong

Waktu Tuhan
Ps. Barnabas Ong

09-03-14

Waktu seringkali dianggap sesuatu yang berharga, bahkan kita sering mendengar pepatah bahwa “time is money”. Memang benar bahwa waktu itu sangat berharga, namun kita perlu mengerti bahwa hidup manusia tidak dilihat oleh panjang pendeknya umur melainkan dari kualitas hidupnya. Yesus hanya berada di bumi selama 33 tahun dan dalam jangka waktu yang pendek itu hidupNya telah memberi dampak bagi dunia. Matius 10:1-16 menceritakan soal perumpamaan yang berkaitan dengan waktu dan upah, yaitu tentang seorang tuan yang mengupah hambanya, baik yang telah lama bekerja maupun yang baru bekerja, dengan upah yang sama.

Waktu dalam Alkitab ada dua, yaitu ‘chronos’ dan ‘kairos’. ‘Chronos’ adalah waktu yang teratur dan terstruktur dalam kehidupan manusia, sedangkan ‘kairos’ adalah waktunya Allah, waktu yang melampui segala akal. Jika kita melihat perumpamaan dalam Matius 10 ini dengan waktu ‘chronos’, Maka pasti terasa sangat tidak adil. Yang perlu dilakukan adalah kita perlu melihat dengan waktu ‘kairos’.

Tanpa kita sadari, hal yang seringkali kita lakukan dalam pelayanan adalah memandang orang lain masih ‘baru kemaren sore’ dan meminta agar kita dihargai lebih. Begitu banyak orang yang ribut di gereja karena menuntut penghargaan. Camkan di hati kita! Jika kita melayani Tuhan, layanilah Tuhan dengan tulus hati. Jangan menuntut penghargaan dari manusia, sebab Tuhan sendiri yang akan memberi penghargaan kepada kita.

Salah satu kisah yang terkenal adalah kisah anak yang hilang (Lukas 15). Si anak bungsu menghambur-hamburkan uangnya dan di saat terpuruk ia menyadari bahwa menghambakan diri dalam rumah bapanya masih lebih enak daripada menjadi hamba di negeri asing yang makan ampas babi saja tidak diperbolehkan. Karena pengampunan bapanya, ia disambut dengan pesta yang meriah dan hal ini membuat kakak sulungnya iri dan cemburu.

Anak yang sulung berkata, “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”Anak yang sulung membandingkan dirinya dengan yang bungsu. Bagaimana si bungsu diberikan seekor lembu tambun sementara si sulung bahkan seekor kambingpun tidak pernah diberikan.

Kedua anak ini sebenarnya sama-sama terhilang. Yang bungsu terhilang dari rumah dan yang sulung ini hilang justru saat berada di dalam rumah. Statusnya sebagai anak sulung tidak serta merta menghilangkan mentalnya sebagai budak yang sekedar meminta ‘upah’ tanpa mengetahui bahwa sebagai anak sulung dia sedang dipersiapkan sebagai ahli waris ayahnya.

Dalam pelayanan, kita tidak perlu menuntut sebab kita melayani bukan untuk mencari upah, melainkan kita melayani sebagai ucapan syukur. Hanya seorang budak yang menuntut upah ketika bekerja melayani tuannya. Karena itu, jadikanlah pelayanan kita sebagai bentuk ucapan syukur kita kepada Tuhan.
Inilah yang dimaksudkan dalam Matius 10, bahwa Tuhan tidak mendiskriminasikan seseorang, baik ia telah lama lahir baru maupun baru saja lahir baru. Setiap kita telah menerima anugrah yang sama, oleh sebab itu kita tidak boleh menyombongkan diri kita. Apabila kita diberi kesempatan untuk melayani, semua itu hanyalah kasih karunia dan anugrah.

Kita perlu menghargai setiap waktu yang Tuhan berikan kepada kita lewat melayani Dia dengan sepenuh hati. Biarlah pelayanan kita penuh ucapan syukur karena Dia terlebih dahulu menyelamatkan kita dan jangan pernah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, sebab Tuhan sendiri tidak pernah membeda-bedakan kita. Amin.