THE JUST KING | Pdt. Dr.Timotius Arifin Tedjasukmana

THE JUST KING | Pdt. Dr.Timotius Arifin Tedjasukmana

 

 

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:14)

Beberapa waktu yang lalu Bapak Presiden Jokowi mengundang ketua sinode kita dan beberapa orang pengurus pusat Gereja Bethel Indonesia (GBI) untuk bertemu di Istana Negara. Salah satu pesan penting yang menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan tersebut adalah presiden mengajak gereja bekerja sama dengan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Sebagai warga kerajaan, kita seharusnya mencerminkan siapa Raja kita, sebab Kerajaan Allah bukanlah kerajaan yang berkekurangan tetapi kerajaan yang penuh dengan kelimpahan. Hidup kita harus menjadi agen transformasi bagi orang-orang disekeliling kita. Sehingga kita akan bisa bersama-sama dengan pemerintah bekerja sama untuk mengentaskan kemiskinan yang ada. Semua itu harus dimulai dari diri kita dengan memberikan gaji yang lebih dari layak kepada pegawai, asisten rumah tangga maupun orang-orang yang bekerja bagi kita.

Salah satu nilai kita adalah adalah Generosity (kemurahan hati). Tanda orang yang mencerminkan kehidupan Kristus adalah murah hati, mudah memberi, mudah mengampuni dan mudah berbagi. Kita harus meningkat dari Generosity kepada Grace (kasih karunia) sebab Yesus tidak hanya murah hati tetapi penuh dengan kasih karunia dan kebenaran.

Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan
melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan
sesuatu kepada orang yang berkekurangan.
Efesus 4:28

Jika kita gambarkan ayat ini dalam sebuah grafik skala maka kita akan mendapatkan bahwa orang yang mencuri, berbuat kejahatan dan kriminal berada pada posisi minus, orang yang sudah bertobat dan tidak melakukan kejahatan ada di posisi nol, orang yang bekerja keras di posisi sepuluh, bekerja dengan skill yang dimiliki berada di posisi duapuluh dan terus meningkat di posisi tigapuluh karena tidak lagi berkekurangan melainkan memiliki sesuatu. Tetapi tidak berhenti sampai di sini, pada posisi teratas adalah orang-orang sudah mempu berbagi kepada orang yang berkekurangan.

Sebagai agen transformasi gereja harus bisa mengajar orang untuk bekerja keras dan mengembangkan skill yang dimiliki untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baik dan berguna bahkan bisa berbagi dan memberi. Cara untuk diberkati adalah dengan bekerja keras dan bekerja dengan skill yang dimiliki. Firman Tuhan mengajar bahwa seorang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tesalonika 3:10-12). Dengan bekerja keras dan berusaha sungguh-sungguh, maka kita akan melemparkan setiap kuk dan kutuk dari hidup kita dan salah satunya adalah kuk kemiskinan (Kejadian 27:40). Gereja yang mampu mengajar orang dari nilai minus kepada plus bahkan mampu untuk berbagi dan memberi dengan demikian sudah turut membantu dalam mengentaskan kemiskinan.

Kehidupan jemaat mula-mula adalah gambaran kehidupan yang murah hati, penuh kuasa dan hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah serta tidak ada seorangpun yang berkekurangan. Secara Relational (Relasi) dan Motivational (Motivasi) mereka tidak berkekurangan karena mereka hidup sehati dan sejiwa. Mereka tidak lagi miskin secara Material (Materi) karena segala sesuatu adalah kepunyaan bersama dan secara Spiritual (Rohani) mereka mampu memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dengan kuasa yang besar dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (Kisah Para Rasul 4:32-34).

Pengenalan kita akan Tuhan menentukan akhir dari kehidupan kita dan bagaimana hidup kita bisa menjadi agen transformasi. Dalam Injil Lukas 18-19 dikisahkan ada 3 type orang yaitu:

  1. Pemimpin Muda Yang Kaya,

Ia tidak memiliki nama dan tidak disebutkan siapa orang tuanya. Ia hanya menganggap Yesus sebagai guru yang baik. Ia bertanya apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Secara relasi, motivasi dan materi ia tidak berkekurangan tetapi ia miskin secara rohani oleh sebab itu ketika Yesus akan menjadikannya sebagai agen transformasi dengan menjual segala yang dimiliki dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin serta kembali mengikut Yesus ia sangat sedih sebab hartanya banyak.

  1. Bartimeus,

Ia adalah seorang pengemis buta yang miskin secara materi dan motivasi. Alkitab hanya menyebutkan siapa ayahnya. Bartimeus mengenal Yesus sebagai Anak Daud. Ketika Yesus melakukan mujizat dan menyembuhkannya ia mengikuti Yesus dan memuliakan Allah sehingga seluruh rakyat melihat akan hal itu dan memuji-muji Allah.

  1. Zakheus,

Ia seorang pemungut cukai yang kaya dengan memeras bangsanya sendiri. Zakheus sangat dipandang rendah oleh bangsanya bahkan keluarganya sendiri sebab Alkitab hanya menyebut namanya tanpa menyebutkan siapa ayahnya atau asal-usulnya. Zakheus mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Yesus sendiri melihat Zakheus sebagai agen transformasi sehingga Yesus mampir ke rumahnya. Perjumpaan Zakheus dengan Yesus mengubah kehidupannya secara total dan merubah nilai dari skala minus kepada surplus.

Tuhan Yesus sudah membagikan kunci-kunci untuk kita bisa hidup penuh dengan kasih karunia dan kebenaran serta menjadi agen trasformasi yang kaya secara relasi, motivasi, materi dan rohani. Janganlah kita mudah tertipu dengan hal-hal yang instan tetapi kita harus bekerja keras dan menemukan skill dan karunia dalam hidup kita sehingga kita tidak lagi hidup berkekurangan serta mampu berbagi dengan orang lain. Tuhan Yesus Memberkati.