Surprises in The Wilderness | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Surprises in The Wilderness | Pdt. Eluzai Frengky Utana

 

 

Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.

Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yohanes 6:3-5)

Dalam kisah ini Tuhan Yesus mengadakan mujizat memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Ini merupakan sebuah kejutan di tengah-tengah ‘padang gurun’ yaitu masalah kekurangan makanan. Murid-murid yang berada di puncak gunung bersama Yesus mengalami dan terlibat langsung dalam mujizat tersebut, mereka merasakan bagaimana menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Yesus ingin gereja-Nya menjadi bilangan murid. Seorang murid tidak sekedar mencari berkat, tetapi hidup dalam berkat dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Hal-hal yang harus kita perhatikan untuk mendapatkan kejutan-kejutan di padang gurun:

  1. JANGAN DATANG DENGAN KALKULATOR DUNIA, TAPI DATANGLAH DENGAN KALKULATOR KERAJAAN SORGA.

Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”  (Yohanes 6:7).

Seringkali kita memberi respon terhadap masalah dengan menggunakan perhitungan dunia, yaitu hanya melihat fakta-fakta jasmani dan menghitungnya dengan otak kita yang sangat terbatas. Untuk mengalami kejutan-kejutan di padang gurun kita harus berlatih melihat dengan menggunakan kacamata iman. Cara kerja Tuhan dalam menghitung dan menyelesaikan masalah sangat berbeda dengan cara-cara kita. Belajarlah untuk terbuka kepada kreativitas, ide-ide dan cara berpikir Tuhan.

  1. MENYADARI KELIMPAHAN YANG ADA DI DALAM DIRI KITA.

“Juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:21).

Kerajaan Allah beserta kuasa-Nya ada di tengah-tengah kita. Seberapa berat padang gurun yang kita hadapi, kita harus mengimani bahwa sumber kelimpahan tetap ada dalam diri kita. Apa yang terjadi di luar adalah perwujudan dari apa yang kita harapkan, sesuai dengan iman kita masing-masing. Apapun bentuk padang gurun yang kita hadapi, baik itu sakit penyakit, keuangan, hubungan yang rusak, maka dengan iman yang ada di dalam kita, Tuhan dapat mengubahnya menjadi pencurahan berkat.

  1. TINGGALKAN POLA PIKIR TERBATAS.

“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yohanes 6:9).

Sifat alamiah manusia dan berbagai pengalaman hidupnya membuat mereka memiliki pola pikir terbatas. Ketika seseorang sering mengalami kekurangan, maka ia akan berpikir bahwa Tuhan dan sumber-sumber di bumi ini sangat terbatas. Untuk mengalami kejutan-kejutan di padang gurun, maka kita harus belajar mengubah pola pikir kita, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak terbatas, dan Ia tidak pernah dibatasi oleh keterbatasan kita.

  1. MILIKI TUJUAN HIDUP UNTUK MENJADI BERARTI BAGI ORANG LAIN.

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.  (Yohanes 6:11).

Di tengah padang gurun kesulitan, orang cenderung menjadi egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Tetapi untuk menikmati kejutan-kejutan di padang gurun kita harus belajar memperhatikan kebutuhan orang lain. Teruslah berbuat baik dan menjadi cahaya bagi orang-orang disekitar kita. Saat kita berusaha menciptakan cahaya bagi orang lain, maka sebenarnya kita sedang menerangi jalan kita sendiri. Kebahagiaan sejati adalah ketika hidup kita menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

  1. BERGAYA HIDUP BERSYUKUR DAN MEMBERKATI.

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. (Yohanes 6:11).

Tuhan Yesus memberikan teladan dengan mengucap syukur. Segala mujizat dan kejutan-kejutan dari Tuhan selalu didahului dengan mengucap syukur. Mujizat dan perkenanan Tuhan juga dialami oleh satu dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus

Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Lukas 17:17-19).

Satu orang kusta yang kembali untuk mengucap syukur tidak hanya menjadi tahir, tapi juga mengalami keselamatan dan kesembuhan total. Orang yang memiliki gaya hidup mengucap syukur pasti akan mengalami mujizat dan mendapat perkenanan Tuhan, bahkan mengalami berkat keselamatan yang sejati dari Tuhan.

Selamat mendapatkan kejutan-kejutan di padang gurun. Amin!