HIDUP DALAM SORGA TERBUKA | Pdt. Guana Tanjung

HIDUP DALAM SORGA TERBUKA | Pdt. Guana Tanjung

 

 

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan
kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

(Yohanes 1:17)

Tuhan Yesus hadir ke dunia bukan untuk membawa sebuah agama, melainkan suatu kehadiran yang mengubahkan hidup seseorang yang mengalaminya. Apa yang Tuhan Yesus bawa merupakan suatu peralihan dari peraturan kepada hubungan. Di dalam diri Yesus ada kepenuhan kasih karunia dan kebenaran. Apa yang Tuhan Yesus bawa sebenarnya sudah dialami oleh beberapa orang secara terbatas dalam Perjanjian Lama. Semua tokoh-tokoh Alkitab bukanlah orang yang beragama, melainkan orang-orang yang berjalan bersama Tuhan. Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan, sehingga mereka mampu berjalan bersama Tuhan. Yang membuat tokoh-tokoh alkitab tersebut berbeda bukanlah karena mereka memeluk suatu agama tertentu tetapi karena mereka mengalami kehadiran Tuhan dalam kehidupannya. Mereka bukanlah orang hebat, tetapi mereka juga bukanlah orang yang biasa-biasa.

Yusuf mengalami berbagai proses dalam hidupnya, tetapi yang membuatnya bertahan dan berbeda adalah ada penyertaan Tuhan. Penyertaan Tuhan tidak bersifat doktrinal, melainkan nyata sehingga tuannya, Potifar melihat ada sesuatu yang berbeda dalam hidup Yusuf.

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu (Kejadian 12:1)

Abraham mengalami kehadiran Tuhan secara pribadi dalam hidupnya. Tuhan mengajak Abraham pada suatu pengalaman berjalan bersama Tuhan. Iman bukan hanya sekedar percaya, tetapi iman merupakan suatu kesatuan utuh pengalaman disapa Tuhan dan berjalan bersama Tuhan. Seseorang yang mengalami Tuhan akan menemukan siapa dirinya di dalam Tuhan. Sapaan Tuhan dan kehadiran Tuhan bisa kita rasakan melalui suatu kejadian, kesusahan maupun proses yang kita alami dalam hidup ini. Pengalaman Abraham disapa Tuhan membawa dia pada suatu tujuan hidup yang baru yaitu pergi ke suatu negeri yang ditunjukkan Tuhan sehingga dia melihat dan mengalami hidup berjalan bersama Tuhan. Ketika Abraham mau pergi maka Tuhan memberikan tanah perjanjian dan Tuhan juga memberikan identitas yang baru dalam hidupnya. Iman Abraham tidak hanya sekedar melihat dan berjalan bersama Tuhan tetapi ia wujudkan dengan membangun mezbah bagi Tuhan. Iman Abraham tidak hanya melihat dan berjalan tetapi iman Abraham dinyatakan dengan tindakan iman yaitu membangun mezbah.

Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya,
ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (Yakobus 2:21)

Apa yang dikerjakan Abraham membuat dia hidup berjalan bersama Tuhan dan disertai Tuhan. Dimana Abraham menbangun mezbah, di situ sorga terbuka. Alkitab mencatat beberapa kata mengenai langit tertutup (2 Tawarikh 6:26; Lukas 4:25), dan langit terbuka (Matius 3:16). Kata langit dari bahasa Ibrani shamayim yang berarti sorga. Jadi yang membuat seseorang berbeda bukanlah agamanya tetapi apakah sorga terbuka atau terutup dalam hidupnya.

Tuhan mau kita hidup dalam sorga terbuka. Supaya kita hidup dalam sorga terbuka maka Tuhan perlu menemukan tempat untuk menyatakan FirmanNya. Saat Tuhan menemukan tempat itu dalam hidup kita apakah kita mau meresponinya dengan tindakan iman seperti Abraham. Yang membedakan kualitas hidup setiap orang adalah bukanlah Tuhan tidak ada tetapi apakah Tuhan menemukan tempat untuk menyatakan FirmanNya dalam hidup seseorang.

Ketika Tuhan Yesus mendeklarasikan kehadiranNya, Tuhan Yesus berkata: “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Dengan bertobat maka hati dan pikiran kita diperbaharui sehingga kita bisa memiliki suatu pengalaman hubungan dengan Tuhan. Kerajaan sorga bukan sekedar sebuah tempat atau lokasi melainkan sebuah dimensi dimana kuasa Tuhan hadir dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak hanya memberitakan berita pengampunan, tetapi mengajak kita hidup berjalan dalam pimpinan Tuhan dan bagaimana sorga terbuka dalam hidup kita. Kita tidak harus menjadi orang hebat, tetapi kita dipersiapkan dan dipanggil tidak hanya menjadi orang biasa-biasa saja.

Untuk tidak hanya menjadi orang biasa-biasa dinyatakan apakah kita membangun mezbah dan membawa persembahan korban kepada Tuhan atau tidak. Ukuran ibadah seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sering dia berkhotbah atau ke geraja, seberapa aktifnya pelayanan, tetapi ukuran ibadah seseorang ditentukan oleh seberapa sering mezbah untuk Tuhan didirikan dalam hidupnya. Saul diurapi Tuhan, tetapi Saul tidak pernah memperhatikan atau memelihara tabut Tuhan. Berbeda dengan Daud ketika menjadi raja, untuk memindahkan tabut perjanjian begitu banyak korban yang diberikan Daud dan dengan penuh sukacita ia menari-nari dan menyebah Tuhan.

Fokus kita bukan sekedar beragama, tetapi bagaimana sorga terbuka dalam hidup kita. Oleh sebab itu kita harus senantiasa membangun mezbah dan menaikkan korban dihadapan Tuhan. Korban tidak selalu diukur dengan harta, tetapi dapat berupa pengampunan yang kita berikan kepada orang yang menyakiti kita, juga berupa waktu terbaik untuk menyelesaikan setiap tugas yang dipercayakan dan persembahan terbaik yang bisa kita berikan adalah mengucap syukur dan percaya bahwa Tuhan baik dalam segala keadaan.