MENERIMA PENGGENAPAN JANJI ALLAH DALAM KELUARGA | Pdt. Daniel Pingardi Yoewono

MENERIMA PENGGENAPAN JANJI ALLAH DALAM KELUARGA | Pdt. Daniel Pingardi Yoewono

 

 

(25)  Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; (26) tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.
Kejadian 37:25-26

Sebuah ungkapan Raja Daud bagaimana sebuah keluarga menerima penggenapan janji Tuhan bahwa anak cucu orang benar akan menjadi berkat. Kita semua pasti rindu kalau anak cucu kita menjadi berkat. Sebelum kita menerima penggenapan janji Tuhan tersebut dalam keluarga maka kita harus mengerti apakah itu keluarga?

(26) Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26-28)

Keluarga adalah tempat di mana Tuhan dan gaya hidup Kerajaan Allah diperkenalkan. Dalam keluarga dasar karakter seseorang akan diletakkan dan keluarga merupakan batu penjuru dari masyarakat, gereja dan bangsa. Hari-hari ini kita melihat di sekeliling kita banyak orang yang mengalami stress, depresi, melakukan tindakan-tindakan kriminal ataupun bunuh diri dan dari hari ke hari jumlahnya semakin meningkat. Iblis senantiasa mencari cara untuk menghancurkan sebuah keluarga. Untuk mengatasi itu semua harus kembali ke dalam keluarga, karena jika keluarga kuat maka gereja, bangsa dan negara akan menjadi kuat.

Ukuran keberhasilan dari keluarga Kristen adalah bukan bahagia karena harta benda, kedudukan dan kekayaan, tetapi apakah kita menggenapi rencana dan kehendak Tuhan atau tidak. Menurut Jentenzen Franklin, jika yang menjadi prioritas iblis adalah menghancurkan keluarga, maka seharusnya yang menjadi prioritas kita adalah membangun keluarga yang Ilahi. Berbagai cara iblis gunakan untuk menghancurkan sebuah keluarga. Iblis bisa menghancurkan keluarga melalui komunikasi, struktur keluarga yang tidak jelas dan keuangan. Semua persoalan di dunia ini jika ditarik benang merahnya maka semua akan kembali kepada keluarga, oleh sebab itu kita harus fokus dan benar-benar serius dalam membangun sebuah keluarga yang kuat.

Musa adalah contoh seorang pemimpin yang hebat, ia memimpin tiga juta orang Israel yang tegar tengkuk keluar dari Mesir. Musa tidak tiba-tiba menjadi pemimpin yang hebat, kehebatan Musa dimulai dari iman orang tuanya.

Oleh sebab itu jika kita ingin anak cucu kita hebat maka iman orang tua sangatlah penting. Seringkali kita hanya hidup biasa-biasa dan tidak sungguh-sungguh tetapi menuntut anak kita supaya hebat. Hal ini sangatlah bertolak belakang dan tidak ada dasar untuk menuntut anak kita hebat.

Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.
(Ibrani 11:23)

Membangun keluarga yang kuat membutuhkan waktu, kesabaran dan kerja keras. Kita tidak dapat memilih dikeluarga seperti apa kita dilahirkan tetapi kita dapat memilih keluarga seperti apa yang akan kita bangun. Orang bisa saja membangun rumah yang mewah dan megah tetapi belum tentu ia bisa membangun sebuah keluarga. Membangun iman anak-anak kita dapat dimulai dari sekolah minggu. Kita harus mendorong anak-anak kita untuk mengikuti ibadah anak (Sekolah Minggu) sejak dini dan hal ini membutuhkan waktu kesabaran dan kerja keras, karena anak-anak akan lebih memilih menonton TV dan memainkan gadget. Selain itu di rumah kita juga harus mengajarkan kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak kita berulang-ulang.

(6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun (Ulangan 6:6-7)

Kita harus benar-benar mendidik anak-anak kita, bagaimana kita bisa memiliki keluarga yang kuat jika kita membiarkan anak-anak kita bertumbuh tanpa didikan kita sebagai orang tua. Mendidik anak-anak haruslah seimbang antara kemampuan intelektual dan karakternya, oleh sebab itu membangun keluarga haruslah menjadi fokus kita dihadapan Tuhan. Keluarga merupakan dasar dan kekuatan bagi pilar-pilar kehidupan yang lain entah itu bisnis, pekerjaan, pemerintahan ataupun pelayanan.

Dalam membangun keluarga, kita juga harus memiliki prioritas yang benar yaitu melayani Tuhan, melayani keluarga, melayani pekerjaan dan melayani pekerjaan Tuhan dan gereja adalah lembaga yang terstruktur      dalam pembinaan rohani anggotanya. Oleh sebab itu kita harus bersinergi dengan pelayanan generasi di gereja dalam mendidik anak-anak kita maupun pelayanan keluarga yang mampu membuat iman kita senantiasa bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan.

Selamat menerima penggenapan janji Allah dalam keluarga melalui membangun keluarga yang kuat. Amin.