Jangan Sampai Mati di Padang Gurun | Pdt. Dr. Christy Indra Tjiptamulya.

Jangan Sampai Mati di Padang Gurun | Pdt. Dr. Christy Indra Tjiptamulya.

 

 

Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. (Efesus 4:15)

Padang gurun kehidupan dapat berupa bisnis yang lesu, di-PHK dari pekerjaan, pelayanan mengalami kemunduran, masalah dalam rumah tangga, dan sebagainya. Dalam hidup ini sekalipun kita menghadapi padang gurun, kita harus tetap bergerak maju. Untuk dapat bergerak maju, kita harus berjalan bersama Tuhan, karena di luar Tuhan kita tidak dapat melakukan apa-apa. Tuhan ingin agar di tengah kesulitan-kesulitan hidup yang kita hadapi, kita justru bertumbuh dalam kasih dan dalam segala hal untuk menjadi serupa dengan Kristus, sang pemimpin iman kita.

Untuk dapat bergerak maju dan tidak mati di padang gurun, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:

  1. KENALI DIRIMU SENDIRI

Bangsa Israel berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun karena tidak mengenali kelemahannya sendiri. Jika seseorang tidak mengenali kelemahannya, maka ia akan masuk ke dalam perangkap yang membahayakan hidupnya. Sebagai contoh orang yang lemah dalam hal keuangan harus menolak jika ditugaskan sebagai bendahara, karena hal itu akan membawanya kepada godaan besar yang sulit untuk dihadapi. Mengenali kelemahan dan kelebihan sendiri akan menolong kita untuk memperbaiki hal-hal yang kurang dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki. Semua hal tersebut harus dilakukan dari dalam, yaitu dari sikap hati kita, karena apa yang kita lakukan akan meluap dari hati kita.

Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.
(Matius 12:35).

  1. HARUS BERTUMBUH DAN MENINGKAT

Kita tidak boleh menjadi seorang Kristen bonsai, tapi harus terus bertumbuh dan meningkat, karena kepercayaan hanya diberikan kepada orang yang dewasa rohani. Orang yang dewasa rohaninya tidak mengeluh dan bersungut-sungut seperti bangsa Israel di padang gurun (Bilangan 21:5-6). Komsel adalah komunitas untuk kita bertumbuh dewasa secara rohani.  Di dalam Komsel kita akan saling menguatkan, menasehati dan mengajar, serta saling mendoakan ketika seorang anggota mengalami padang gurun dalam kehidupannya.

  1. JADILAH TELADAN YANG BAIK

Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.
(Titus 2:7-8).

Jika kita berjalan dalam kasih dan integritas, maka kita sulit diserang, karena perkataan dan perbuatan kita sama. Kita harus memiliki kehidupan yang transparan, dapat dilihat orang dan menjadi teladan. Panggilan hidup kita adalah menjadi terang di tengah-tengah kegelapan dunia. Dunia ini membutuhkan terang yang ada pada kita.

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.
(Yesaya 60:1-3).

4. BERSEDIA TAAT DAN BERSYUKUR

Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik.  Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya. (Mazmur 94:12-14)

Mesir melambangkan dunia yang penuh dosa, bangsa Israel dipanggil keluar untuk menerima hidup baru. Dalam perjalanan menuju hidup baru tidak semua berjalan lancar, tetapi harus melewati padang gurun kesulitan untuk diuji Tuhan. Jangan pernah lari dari masalah-masalah kita, tapi harus bersedia untuk taat dan bersyukur. Padang gurun adalah sarana agar kita bertumbuh dan menjadi dewasa, meskipun rasanya sakit tapi jangan mencari jalan pintas. Kita harus taat dan bersyukur dalam penderitaan sebagaimana teladan Tuhan Yesus.

5. MERAIH DAN MEMELIHARA

Perjalanan di padang gurun adalah sebuah perjalanan yang sifatnya bertahap. Ketika ada badai pasir, maka kita harus diam, jangan memaksa terus maju. Ketika tiang awan berhenti, maka kita harus berhenti. Kadang kala kita perlu berdiam diri dan mencari wajah Tuhan lebih dalam.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(Yesaya 30:15)

Setelah berdiam diri dan mendapat pernyataan Tuhan, maka peliharalah apa yang Tuhan percayakan. Memelihara apa yang Tuhan percayakan artinya berani melawan raksasa-raksasa dalam kehidupan kita. Seringkali raksasa-raksasa tersebut adalah diri kita sendiri. Untuk itu kita harus berlatih menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, menjaga hati dengan kewaspadaan, serta senantiasa berjaga-jaga dalam doa.

Selamat menjalani padang gurun dan mengalami kemenangan bersama Tuhan. Amin!