THE POWER OF GOSPEL IN NEW ZEALAND | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

THE POWER OF GOSPEL IN NEW ZEALAND | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

 

 

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: (Lukas 2:10)

Sebagai orang percaya kita harus meningkat, dalam kehidupan seorang pria pertama kali bertobat kita disebut orang yang baik (Goodman), kemudian menjadi pria sejati (Gentleman), tidak berhenti sampai sampai di tahap ini kita juga harus menjadi orang yang saleh (Godly Man) sehingga perjalanan akhir hidup kita bisa meninggalkan warisan rohani dan kita akan disebut sebagai orang yang hebat (Great Man).

Untuk menjadi seorang Great Man dan memiliki hidup yang menjadi dampak bagi orang lain, kita harus senantiasa memandang kepada Tuhan minta anugerah dan kasih karuniaNya serta bersyukur atas apa yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita. Kita juga memandang ke bawah, melihat sekeliling kita untuk membagikan kasih Tuhan kepada mereka yang membutuhkan dan menjadi berkat lebih lagi, karena lebih berbahagia memberi daripada menerima. Hal sekecil apapun yang kita lakukan dengan penuh kasih akan berdampak besar bagi hidup kita di masa akan datang dan bagi orang yang kita tolong. Kita bisa membagi hidup, harta dan milik kita bersama bagi orang lain di sekeliling kita sekalipun orang tersebut tidak diperhitungkan.

Dalam 1 Samuel 30, ketika Daud dan orang-orangnya pulang ke Ziklag, mereka mendapati istri, anak-anak dan harta mereka hilang dan habis semuanya. Mereka tidak tahu siapa yang menjarah karena begitu rapi dan tidak ada bekasnya sama sekali. Dengan seijin Tuhan saat Daud dan orang-orangnya berusaha mengejar musuh, mereka bertemu seorang pemuda Mesir dalam kondisi sakit dan hampir mati. Daud meluangkan waktunya untuk menolong pemuda tersebut. Sering kali dalam kondisi kesusahan kita tidak menghiraukan orang lain, tetapi berbeda dengan Daud meskipun dalam kondisi kesusahan ia masih peduli dan bersedia menolong orang lain. Dari mulut pemuda Mesir inilah ada kunci kemenangan Daud, ia jadi tahu siapa yang menjarah seluruh perkemahannya sebab dia adalah budak kepunyaan seorang Amalek yang ditinggalkan tuannya karena jatuh sakit. Lewat pemuda ini Daud dan pasukannya mendapat banyak informasi mengenai keberadaan bangsa Amalek yang menjarahnya sehingga di akhir cerita Daud bisa memenangkan pertempuran dan mendapatkan kembali istri, anak-anak dan harta mereka.

Kita juga belajar dari seorang hamba Tuhan di New Zealand yang hidupnya mengispirasi kita untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain dan menjangkau mereka untuk kemuliaan Nama Tuhan.

New Zealand adalah salah satu tempat terindah di dunia ini. Suku asli yang mendiami New Zealand adalah suku Maori, mereka berasal dari bangsa Polynesia yang sudah ada di New Zealand sejak abad ke – 13. Suku Maori adalah suku bangsa yang tangguh, kuat, sadis, tidak beradab dan kanibal, yaitu makan daging manusia. Hamba Tuhan ini adalah Samuel Marsden dan dia dipakai Tuhan untuk menjangkau suku Maori dan memenangkan mereka.

Samuel Marsden adalah seorang hamba Tuhan dari gereja Anglican di Inggris. Samuel Marden tinggal di Sidney Australia. Suatu hari ketika ia hendak kembali ke Inggris dia bertemu dengan seorang Maori yang bernama Ruatara yang dalam kondisi sakit dan hampir mati. Ruatara yang adalah salah satu kepala suku di Maori. Dengan penuh belas kasihan Samuel Marsden merawat Ruatara hingga sembuh. Seorang yang dipimpin oleh Roh Kudus pasti akan ada belas kasihan dalam hidupnya.  Melalui Ruatara, Samuel Marden bisa belajar bahasa Maori dan berhasil masuk untuk menjangkau suku Maori. Pertama kali masuk ke suku Maori, Samuel Marsden dan timnya disambut oleh orang-orang Maori yang sadis. Ruatara membuatkan sebuah mimbar kecil untuk Samuel Marden bisa berkhotbah dan khotbah pertama yang disampaikannya adalah Lukas 2:10 karena saat itu bertepatan dengan hari Natal. Ketika berita Injil disampaikan ada kuasa Allah yang bekerja bagi kehidupan suku Maori karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16).

Selain seorang hamba Tuhan, dia adalah seorang pejabat dari Kerajaan Inggris, seorang petani dan peternak. Samuel Marsden mengajari suku Maori bercocok taman, beternak, membuat batu bata untuk membangun rumah sehingga suku Maori menjadi suku yang beradab. Melalui Ruatara, Ia juga memenangkan seorang kepala suku lain yang lebih sadis yaitu Hongi Hika. Samuel Marsden juga membawa Thomas Kendall seorang guru yang mengajar suku Maori membaca, menulis dan berhitung. Samuel Marsden hamba Tuhan yang hidupnya menjadi transformator yang merubah kehidupan suku Maori dari kehidupan yang keras, ganas dan sadis menjadi suku yang beradab dan diberkati Tuhan.

Kehidupan adalah sebuah perjalanan, kita harus berjalan di dalam kebenaran yang menuntun kita kepada kasih karunia dan kemenangan. Temukan ‘budak Mesir’ atau ‘Ruatara’ dalam hidup kita karena dengan anugerah Tuhan mereka adalah kunci-kunci kemenangan kita. Amin