INKARNASI | Pdt. Dr. Timotius Arifin

INKARNASI | Pdt. Dr. Timotius Arifin

 

 

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah….. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.(Yohanes 1:1, 14).

Yesus menjelma menjadi manusia, penuh kasih karunia dan kebenaran. Ia adalah Sang Kebenaran yang sejati. Sekalipun ada banyak orang yang tidak mengakui bahwa Ia adalah Tuhan yang turun sebagai manusia, sebagai orang percaya kita tidak perlu berkecil hati dan berusaha membela Tuhan. Kebenaran yang sejati tidak perlu dibela. Kita tidak perlu berusaha menyelamatkan nama Tuhan, karena sesungguhnya Dialah Sang Juruselamat yang sejati.

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

 (Lukas 2:11)

Semua telah ditentukan Allah melalui janji Firman dan nubuatan-nubutan yang disampaikan oleh para nabi. Yesus lahir sebagai juruselamat bagi kita untuk menggenapi rancangan Allah bagi umat manusia. Apapun tantangan yang harus dihadapi di tahun 2018, kita tidak perlu takut, karena Ia adalah Immanuel, Allah yang menyertai kita.

Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.“ (1 Timotius 3:16).

Yesus lahir sebagai manusia dan mati disalibkan untuk menebus seluruh umat manusia. Natal tidak bisa dipisahkan dengan salib.  Di dunia ini banyak orang ingin menjadi Allah, dipuji dan disembah; di China ada mausoleum untuk Mao Ze Dong, di Korea Utara ada mausoleum untuk Kim Il Sung, Di Rusia ada mausoleum untuk Lenin. Tapi hanya Allah yang kita sembah, yang mengajarkan kerendahan hati, mau turun menjadi manusia dan satu-satunya Tuhan yang berinarnasi menjadi manusia.

TUJUAN INKARNASI

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.  (Ibrani 2:14-18).

Yesus menjelma sebagai manusia, datang ke dalam dunia dengan tujuan untuk:

  1. MENGHANCURKAN IBLIS DAN SEGALA PERBUATANNYA.

Kunci kemenangan Yesus adalah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Kita tidak bisa dipenuhi oleh kuasa Tuhan sebelum kita mengosongkan diri kita terlebih dahulu, dan mengijinkan roh-Nya menguasai hidup kita.

  1. MEMBEBASKAN KITA DARI PERHAMBAAN DOSA DAN KETAKUTAN ATAS KEMATIAN.

Banyak orang-orang yang masih terikat oleh kuasa-kuasa kegelapan dan berusaha untuk mencari keselamatan sehingga hidupnya diperhamba oleh kuasa dosa dengan ritual-ritual tertentu sehingga membuat mereka megalami ketakutan terhadap kematian. Tetapi dengan penebusan yang dilakukan Yesus, Ia memberikan kepada kita kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita tidak lagi diperhamba oleh kuasa dosa dan kita mendapatkan kehidupan kekal sehingga kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi bagi kita.

  1. SEBAGAI IMAM BESAR YANG MENDAMAIKAN DOSA-DOSA KITA DAN MENOLONG KITA.

Yesus sebagai Imam Besar turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Ia harus menjadi manusia untuk dapat merasakan langsung penderitaan dan pencobaan yang kita alami, sehingga Ia dapat memberikan pertolongan yang tepat kepada kita.

Yesus memiliki legitimasi karena Ia memang lahir dari garis keturunan raja-raja Yehuda. Tetapi sebaliknya Herodes menjadi raja karena ditunjuk oleh kekaisaran Romawi yang berkuasa pada waktu itu, sehingga ia tidak memiliki legitimasi, dan hidup dalam ketakutan. Sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita memiliki legitimasi sebagai anak-anak Allah. Karena itu kita harus berani bersaksi dan menyampaikan kebenaran Firman kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan (Markus 8:38).

Allah menjelma sebagai manusia, datang ke bumi untuk menyelamatkan dan menggembalakan umat manusia. Ini  telah dinubuatkan beratus-ratus tahun sebelum kelahiran Yesus (Daniel 7:13-14, Mikha 5:2-4). Sebagai pemimpin yang menggembalakan, Ia berjalan di depan, memimpin melalui perkataan-Nya, memiliki otoritas dan kuasa yang dahsyat,  memberikan nasehat-nasehat dan bersikap sebagai seorang putra mahkota.

Ia dinubuatkan menjadi raja yang memerintah atas Israel. Seluruh bumi, segala suku bangsa dan bahasa akan mengabdi kepada-Nya. Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal. Jika kerajaan-kerajaan di bumi hanya bertahan selama beberapa generasi, maka kerajaan yang dipimpin Sang Mesias adalah kerajaan yang tidak berkesudahan. Semua nubuat ini telah dan sedang digenapi dan tidak ada rancangan Allah yang gagal. AMIN.