Spring Of Pleasant Surpises | Pdt.Hartono Wijaya

Spring Of Pleasant Surpises | Pdt.Hartono Wijaya

Spring Of Pleasant Surpises

Pdt. Hartono Wijaya

02-03-14

Kehidupan kita seharusnya dapat menjadi berkat bagi orang lain, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Tidak hanya sekedar diberkati dan menerima keselamatan lalu kita mengejar semua kenikmatan hidup, tetapi menjadi berkat buat orang lain. Itulah salah satu panggilan kita sebagai duta-duta Kerajaan Allah.

Paulus berkata dalam Filipi 1:21-22; “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Paulus tahu, bahwa entah hidup maupun mati, semua adalah sesuatu yang menyenangkan yang datangnya dari Tuhan. Bagi Paulus, hidupnya sudah mejadi berkat, dan seandainya diijinkan mengalami kematian, dia juga dapat memperoleh mahkota dan upah dari kehidupannya selama di dunia ini.

Kita perlu lebih peka mendengar akan suara Roh supaya hidup kita taat melakukan kehendakNya dan menyenangkanNya. Dari kehidupan Yesus kita belajar bahwa kunci untuk mengalami ‘pleasant surprises’ adalah ‘compassion’. Hal itu kita bisa dapatkan dari Yesus sebab Allah adalah kasih. Kasih  inilah yang harus dapat dimanifestasikan dalam kehidupan kita sehingga orang orang merasakan perbedaan ketika bertemu dengan kita. Terlebih lagi, kita harus menjadikan diri kita kesempatan bagi orang-orang yang tersingkir, menjadi dampak yang berarti bagi mereka, bahkan menjadi ‘pleasant surprises’  bagi mereka.

Kehidupan Yesus yang dapat menjadi contoh bagi kita, antara lain:

Yesus punya perhatian besar bagi setiap orang (Ibrani 10:24)
Tindakan saling memperhatikan dapat mendorong dan mengaktifkan kasih kita. Aktifkan Roh Allah yang ada dalam hidup kita dengan cara memperhatikan orang lain dan dengan sendirinya hal itu akan membuat kita semakin berkembang. Kita perlu memulai untuk memperhatikan orang-orang d isekitar kita, khususnya orang-orang kecil yang tersingkir.
Kunci meraih respek dari orang-orang yang terbuang dan tersingkir adalah perhatian. Kita perlu mulai memperhatikan orang-orang yang tidak diindahkan di sekitar kita. Jangan hanya sekedar kita membangun monumen dan berlomba-lomba membangun sesuatu yang dipandang hebat oleh manusia, tetapi juga lewat perhatian dan perkataan kita, orang yang tersingkir menemukan pengharapan melalui Yesus dalam kita.

Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa (Mark 2:17)
Yesus membuka pikiran orang Farisi yang suka menghakimi dan merasa paling benar, bahwa mereka juga butuh diselamatkan.  Ia bergaul dengan orang berdosa supaya mereka dapa  mengalami pleasant surprises’ tanpa harus kehilangan identitas asliNya. Kita pun harus mengasihi mereka tanpa syarat, tanpa harus melupakan siapa kita sebenarnya.

Yesus dapat berkata-kata dengan bijak dan penuh hikmat (Yohanes 4:18) Yesus tahu bahwa orang-orang yang Dia dekati adalah orang-orang yang berdosa. Namun Yesus menjauhkan bibirNya dari perkataan yang menghujat dan menghakimi. Bahkan sebaliknya, Ia mengeluarkan kata-kata yang berhikmat yang mendorong orang yang berdosa itu bertobat dari dosanya dan kembali kepada jalan yang benar. 

Seringkali kita terjebak untuk menghakimi orang lain tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Saat kita melihat dan mengetahui kesalahan seseorang, tugas kita adalah menegur dan membimbing mereka kembali ke jalan yang benar.  Jangan sampai ketika kita menegur seseorang, kita sendiri tidak melihat kesalahan kita sendiri dan menjadikan diri kita batu sandungan orang lain. Seperti kisah wanita yang berzinah dalam Yohanes 4:18, Yesus tidak menghakiminya dan menyerangnya dengan kata kata negative tetapi menunjukkan hikmat, kasih dan pengampunan.

Inilah kunci untuk memiliki pleasant surprises dari Tuhan. Kita harus menjadi berkat bagi orang lain dengan cara memperhatikan, memberi empati, dan penuh dengan kata-kata hikmat bagi orang lain sehinggga orang lain merasa diberkati dan mereka dapat melihat Tuhan melalui kehidupan kita, amin.