Pleasant Opportunities | Pdm. David Limanto

Pleasant Opportunities | Pdm. David Limanto

Pleasant Opportunities

Pdm. David Limanto

23-03-14

Yohanes 12: 20-36 mengisahkan tentang titik kritis murid-murid ketika harus menghadapi kenyataan bahwa Yesus suatu saat akan ‘pergi meninggalkan’ mereka.Perikop dari ayat-ayat ini adalah “Yesus memberitakan kematian-Nya”.  Beberapa di antara murid-murid itu bahkan murtad meski dalam tiga setengah tahun hidupnya mereka melayani bersama-sama dengan Yesus.  Yudas mengkhianati Tuhan Yesus dan Petrus menyangkal Yesus sampai tiga kali. Semuanya itu terjadi saat Yesus harus mengerjakan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Dari perikop di atas kita belajar empat hal:

1. Ketahuilah masanya / Know the timing (ayat 23)

Kita mengetahui bahwa waktu terbagi menjadi dua, ‘chronos’dan ‘kairos’‘Chronos’ adalah waktu yang tetap dan teratur selama dunia ini berputar, sedangkan ‘kairos’ adalah waktu atau kesempatan yang diberikan Tuhan. Kita tak hanya perlu mengetahui dan menghargai ‘chronos’ saja, namun juga harus mengerti ‘kairos’ Tuhan. Kita perlu mengetahui bahwa ada kesempatan yang diberikan Tuhan yang diberikan kepada kita. Bersyukurlah apabila kita masih diberikan kesempatan untuk melayani Dia dan layanilah dengan sepenuh hati.

2. Menentukan pilihan yang tepat / Choose the right choice ( ayat 24-26)

Dalam hidup ini banyak sekali pilihan yang harus kita buat dalam hidup, karena itu kita harus benar-benarmembuat keputusan yang tepat dalam memilih pilihan yang benar. Tuhan berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Sayangnya kebanyakan dari kita tidak mau menjadi benih yang mati ke tanah, karena hal  tersebut tidak enak dan menyakitkan daging kita sehingga kita tidak bisa berbuah.

Ketika kita tidak mau mati bagi diri sendiri, maka keputusan kita akan selalu memuaskan kedagingan kita.  Alkitab berkata bahwa di akhir jaman, manusia akan menjadi hamba uang.  Apapun yang kita lakukan hanya demi ‘aku’ dan ‘aku’. Motivasi kita hanya memikirkan uang dan uang dan uang saja. Namun, sebagaimana dasarnya manusia, kita tidak akan pernah menjadi puas.  Oleh sebab itu, kita perlu menjadi biji yang mati dan tidak hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.

Jadilah orang yang takut akan Tuhan sebab, ketika takut akan Tuhan, keputusan yang kita buat pasti berdasarkan Firman-Nya, bukan berdasarkan takut kekurangan uang atau motivasi salah lainnya. Ketika kita takut akan Tuhan, kita tidak perlu takut akan masa depan kita lagi sebab kita tahu bahwa Tuhan menyertai kita sehingga kita tidak akan lagi memuaskan keinginan daging kita sendiri. Jadilah benih yang mati supaya dapat berbuah lebih banyak lagi.

 3. Ketahuilah panggilanmu / Know the calling (ayat 27)

Kita harus mengetahui panggilan hidup kita supaya kita dapat fokus menjalani hidup ini. Seperti moto gereja kita, “we help you to fulfill your destiny”, pastikan bahwa kita berlari dalam ‘track’ yang benar yang telah  ditetapkan Tuhan dalam hidup kita. Jadikan Tuhan Yesus sebagai contoh hidup kita. Dia tidak pernah mengeluh ketika menderita di atas kayu salib. a Yesus mengetahui bahwa Dia hidup dalam panggilan Bapa-Nya. Apabila Tuhan telah meletakkan diri kita ke dalam suatu posisi baik dalam pelayanan, keluarga maupun pekerjaan maka layanilah dengan baik. Hidup dalam panggilan yang telah Tuhan berikan, bahkan mati dalam panggilan tersebut.

Milikilah identitas dalam setiap panggilan kita, pastikan arah dan tujuan hidup kita. Jangan sia-siakan hidup kita tanpa tahu panggilan hidup kita yang pasti. Dan pastikan bahwa kita telah berjalan dalam ‘track’ yang telah Tuhan sediakan bagi kita, sehingga kita dapat ‘finish well’.

 4. Pikul salib / Take up the cross (ayat 32-33)

Yohanes 12: 32, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Yesus ditinggikan ketika Dia tergantung di atas kayu salib dan mati menanggung dosa kita semua. Ayat ini menjelaskan bahwa ‘pikul salib’ bukan berarti setiap kesulitan yang kita tanggung adalah ‘salib’ kita, namun ketika kita menanggung beban atau salah orang lain di atas bahu kita.

Mari kita belajar untuk hidup sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan, janganlah kita menjadi manusia egois yang hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri supaya dalam hidup kita yang singkat ini kita dapat menjadi ‘pleasant surprise bagi orang lain dan berbuah banyak. Amin.