The Four Dimensions of Messiah | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Four Dimensions of Messiah | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Four Dimensions of Messiah

Pdt.Dr.Timotius Arifin Tedjasukmana

20-04-14

Dalam khotbah awal tahun, kita telah mengetahui bahwa ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk memasuki ‘the year of new opportunities’ ini, yaitu:

  1. Kita harus mengerti masa dan waktu (Issachar leadership). Bani Isakhar adalah salah satu suku yang mengetahui masa dan waktu (1 Tawarikh 12). Pastikan kita mengetahui dan membaca tanda-tanda jaman sehingga kita tidak kehilangan kesempatan yang tepat dalam tahun ini.
  2. Tahun ini kitaada dalam tahun Ayin Daleth, ‘Tahun Pintu’ (5774). Untuk dapat memasuki pintu kesempatan dan pintu kemenangan, kita memerlukan kerendahan hati, menghormati Tuhan dan menghargai orang lain.
  3. Kita juga membutuhkan hikmat, pengertian, dan pengetahuan (wisdom, understanding, and knowledge). Seperti yang kita ketahui bahwa sebelum kedatangan Tuhan yang kedua, Yesaya menubuatkan bahwa bulan akan menjadi darah. Karena itu, Hendaklah kita senantiasa berdoa dan berjaga-jaga, karena kedatanganNya semakin dekat.

Ini adalah panggilan untuk kita bangun dan bangkit. Kita harus hidup mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, terlebih lagi kita harus tahu bagaimana menyenangkan hati Tuhan. Inilah kunci yang dipegang oleh Yesus. Dia tahu bagaimana menyenangkan hati BapaNya, sehingga dalam Yesaya 42:1-4, Bapa berkata,;”Lihat, itu hamba-Ku (my servant) yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.” Inilah kunci yang sebenarnya untuk menjadi besar, yaitu menjadi hamba. Sang Raja datang ke dunia ini dengan cara yang dipandang dunia hina,.namun dengan cara ini, Dia berkenan terhadap BapaNya.

Untuk menyenangkan Bapa, kita perlu mengenali pribadiNya. Sama seperti kepribadian pelukis dapat dilihat dari hasil karyanya, maka cara yang termudah kita dapat mengenal Sang Bapa melalui ciptaanNya. Mari kita melihat mahluk yang terdekat dengan takhta Allah, yaitu Kerubim (Wahyu 4:7). Kerubim memiliki empat wajah, yaitu wajah singa, lembu, manusia, dan elang. Keempat sosok tersebut melambangkan empat dimensi Allah, yaitu sebagai Raja (The King) yang menyerupai singa , hamba (The Servant) yang menyerupai lembu, Anak Manusia (The Man) yang menyerupai manusia,dan Tuhan (GOD) yang menyerupai elang. Ketika Allah menjelma menjadi manusia, hal tersebut mempengaruhi dunia ini serta merubah seluruh sejarah dunia ini.

  • Sebagai Hamba
    Yesus tidak datang sebagai raja yang harus dilayani, namun justru datang sebagai hamba untuk melayani. Yesaya 42:1-4 menulis tentang nyanyian hamba yang berkenan, yang dipanggil sejak kandungan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yesaya 49:1-6), Hamba itu bahkan tidak membela diriNya ketika dihina dan diludahi (Yesaya 50:4-9). Sebab Dia tahu bahwa sebelum ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan, Dia harus terlebih dahulu melewati segala penderitaan yang membuatNya tidak mirip manusia lagi (Yesaya 52:13-15)
  • Sebagai Manusia
    Injil Lukas menuliskan secara lengkap tentang Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia digoda namun tidak pernah jatuh dalam dosa. Sebagai manusia, Dia dapat menangis dan merasakan lapar. Dalam dimensinya sebagai manusia, Dia juga merasa haus sehingga meminta air kepada perempuan Samaria. Dia juga tertidur di buritan kapal ketika badai menggelora. Dia tahu kebutuhan dan penderitaan kita karena Dia amat mengerti ‘kemanusiaan’ kita (ibrani 2:14-15).
  • Sebagai Raja
    KedatanganNya sebagai Raja membuat Yesus mempunyai silsilah yang jelas, sebab hanya seorang raja yang dicatat secara jelas garis keturunannya. Sebagai raja yang mempunyai otoritas, Ia juga menghardik badai yang menggelora. mengusir setan dengan penuh kuasa dan otoritas.
  • Sebagai Tuhan
    Yesus adalah Raja segala raja, Penguasa seluruh langit dan bumi. KepadaNya telah diberikan segala kuasa, supaya setiap lutut bertelut mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Dalam injil yang ditulisnya, Rasul Yohanes berulang kali mennyebutNya sebagai Anak Allah. Ketika Kayafas menanyakan apakah Yesus adalah Anak Allah, Yesus menjawab, Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit”(Markus 14:62). Yesus adalah Roti kehidupan, Dia adalah Pintu kepada Bapa, dan Dia mengataka,: “Akulah jalan untuk mengenal Allah dan mendapat hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Lewat empat dimensi dari Sang Mesias ini, kita belajar bahwa rahasia hidup berkemenangan bukanlah menjadi kaya dan penguasa, tetapi menjadi hamba dan melayani sesama. Allah telah rela mati bagi kita. KematianNya bahkan dianggap hina karena mati di tengah-tengah pemberontak. Filipi 2:6-8 meulis,; “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Dalam keagungannya sebagai Allah, Tuhan Yesus rela turun ke dunia sebagai manusia dan mati di atas kayu salib bagi kita. Lewat itu semua, kita dapat melihat bahwa kunci menuju kemuliaan adalah mengerti kehendak Bapa dan menyenangkanNya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.