Right Momentum, Right Attitude | Pdt. Daniel Pingardi Yoewono

Right Momentum, Right Attitude | Pdt. Daniel Pingardi Yoewono

Waktu Tuhan

Ps. Barnabas Ong

09-03-14

Sebagai orang percaya, kita semua menantikan datangnya momen yang tepat (right momentum). Namun saying, kita kurang menyadari bahwa untuk menyambut ‘right momentum’ diperlukan juga ‘right action’ dan ‘right attitude’. Kita harus mempersiapkan diri menerima ‘right momentum’ karena setiap kita mempunyai ‘kairos’, yaitu waktu Tuhan yang sudah dipersiapkan bagi kita. Tuhan memiliki rancangan dan rencana bagi kita dan pasti rencanaNya adalah rancangan damai sejahtera bagi kita. Haleluya!

Apabila kita membaca di kitab Kejadian 41:37-46, tertulis tentang kisah Yusuf yang menjadi penguasa atas Mesir. Dalam ayat 44 terdapat penekanan bahwa Yusuf secara jabatan menjadi wakil Firaun, namun secara fungsi justru sebenarnya Yusuflah yang berkuasa menentukan segalanya. Kita harus mengejar ‘fungsi’ daripada ‘jabatan’, karena fungsi jauh lebih bermakna daripada jabatan dan di saat itulah Yusuf mendapat momentum Tuhan.

Seringkali kita menantikan ‘right momentum’ terjadi pada hidup kita dan tanpa sadar menolak proses hidup yang menyakitkan, tanpa tahu bahwa hal tersebut diamati Tuhan. Padahal, melalui proses hidup yang menyakitkan itu, Dia ingin menuntun kita kepada hasil akhir yang gilang gemilang. Karena itu kita harus memiliki sikap yang benar (right attitude) agar kita dapat siap sedia saat menangkap ‘right momentum’ dari Tuhan.

  1. Memiliki sikap yang benar atas masa lalu kita (right attitude over the past).
    Yusuf mengalami proses hidup yang menyakitkan dalam hidupnya, dimulai dari dibuang ke dalam sumur, dijual ke pedagang budak, difitnah, masuk penjara, sampai dia menyelesaikan proses hidup dan muncul menjadi pemenang dalam hidupnya. Yusuf memiliki sikap hidup yang benar sehingga dia mengerti apa tujuan Allah lewat proses hidupnya (Kejadian 50:20). Ia memiliki sikap hati yang positif (positive attitude) atas masa lalunya. Yusuf tidak sakit hati, tidak menyimpan dendam dan tidak ada kebencian terhadap saudara-saudaranya.
    Paulus mengatakan dalam Filipi 3:13 mengatakan, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku…” Mari kita melupakan segala masa lalu yang menyakitkan dan memfokuskan pandangan hidup kita ke depan, karena Tuhan sedang mempersiapkan kita menjadi berkat atas bangsa ini.

2. Memiliki sikap yang benar atas pencobaan (right attitude towards temptation)
Kejadian 39:1-12 menulis, Yusuf dibuat Allah berhasil dalam pekerjaanya oleh karena penyertaan Allahnya. Hal ini membuat Yusuf menonjol dan dilirik oleh istri Potifar dan diajak untuk berbuat dosa. Namun Yusuf memiliki sikap yang benar dengan mengerti batasan kepercayaan. Ia tidak mendengarkan bujukan istri Potifar dan lari meninggalkannya. Kita harus bertahan dan menang atas godaan karena godaan ada di setiap waktu. Yakobus 1:12 berkata, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

3. Sikap yang benar terhadap orang lain (right attitude toward others) – Kejadian 40:14-23
Ketika Yusuf mengambil resiko atas pencobaan, maka ia dijebloskan kedalam penjara. Dalam penjarapun ia mengalami proses hidup yang menyakitkan, jasanya pada juru minuman tidak diingat. Seringkali kita menjadi kecewa dan sakit hati ketika menerima balasan yang tidak sepantasnya saat kita berbuat baik kepada seseorang. Namun Lukas 6:33-35 berkata agar kita memiliki sikap yang benar dengan berbuat baik tanpa mengharapkan balasan apapun. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan. Namun, apabila kita mengerti kebenarannya, bahwa mengasihi       itu perintah dan kita harus mencontoh keteladanan Yesus untuk mengasihi musuh-musuh kita tanpa mengharapkan balasan, maka tidak perlu kecewa ketika disakiti saat sudah berbuat baik. Galatia 6: 9,10 mengatakan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Mari kita berbuat baik terhadap sesama, dan menolong tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan balasan, karena Tuhan sendiri yang akan membalas semuanya itu tepat sesuai dengan waktuNya.

Mari kita menyambut ‘right momentum’ dengan mempersiapkan diri kita lebih baik. Agar ketika waktuNya tiba, kita memiliki sikap hidup yang benar (right attitude) dan dimampukan untuk menangkap momentum dari Tuhan. Amin.