Capturing God’s Momentum | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Capturing God’s Momentum | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Capturing God’s Momentum

Pdt. Eluzai Frengky Utana

22-06-14

Yohanes 2:1-11 berkisah tentang mujizat air menjadi anggur di Kana. Hal ini berarti air yang merupakan ‘sesuatu yang biasa’ dapat diubah menjadi ‘hal yang luar biasa’ dengan tujuan memuliakan nama Tuhan.

Untuk masuk kepada bilangan ‘orang yang lebih dari pemenang’ dibutuhkan perencanaan, persiapan, hingga akhirnya ‘bertindak’ sebagai orang yang lebih dari pemenang. Sama seperti ‘Capturing God’s momentum’, kita tidak hanya perlu sekedar menangkap momen tersebut, tetapi juga harus dapat menciptakannya. Karena di dalamnya terdapat ‘kesempatan-kesempatan’ yang baru yang diberikan Tuhan kepada kita.

Yohanes 14:12 berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.” Tuhan berkata bahwa kita akan melakukan perkara-perkara yang lebih dahsyat. Karena itu, kita harus menabur benih yang memberikan manfaat bagi orang lain, sehingga kita dapat menjadi pembuat momentum bagi orang lain.

Untuk menjadi pembuat momentum dibutuhkan karakter yang baik, yaitu dengan memberi dan menabur benih yang bermanfaat. Selain itu, kita juga membutuhkan Tuhan, sebab tanpa Tuhan, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Tuhan juga membutuhkan kerja sama besar di antara kita dengan Tuhan untuk melakukan perkara besar supaya kita sadar bahwa semua itu bukan karena kuat dan gagah kita. Semua itu hanyalah anugrah untuk kita.

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar kita dapat menjadi penangkap momentum Tuhan, dan bahkan menciptakan momentum bagi orang lain, yaitu:

  1. Yesus harus dilibatkan dalam segala hal (Yohanes 2:1-2)
    Jawaban, mujizat serta kuasa atas segala masalah sebenarnya sudah ada dalam hidup kita, karena tubuh kita adalah bait Allah. Dia ada dalam kita, dan kita berada dalam Dia. Sehingga raksasa sebesar apapun yang ada di depan kita, tidak sebanding dengan Tuhan yang ada dalam kita. Kita harus mengambil keputusan, melakukan keputusan, beriman, dan berserah. Sehingga semuanya bergerak memenuhi hidup kita. Dengan demikian kita harus bertambah dewasa dalam tingkah laku kita, karena jawaban itu ada dalam diri kita.

2. ‘Waktu Tuhan’ membutuhkan kesabaran (Yohanes 2:4,5,7,8)
‘Waktu’ yang datang dari Tuhan pasti yang terbaik, oleh sebab itu dibutuhkan kesabaran. Berhati-hati sebab ada juga waktu yang salah (waktu yang bukan berasal dari Tuhan). Kesabaran di sini bukan sekedar kemampuan untuk menunggu tetapi sikap hati yang benar selama menunggu. Pada kenyataannya, selama menunggu ‘waktu Tuhan’ kita seringkali mengomel, sehingga menghalangi momentum itu terjadi dalam hidup kita. Dalam kesabaran terkandung ketaatan kepada Tuhan dan dalam ketaatan ada kesetiaan. Kesabaran adalah kunci untuk mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin. Orang yang setia percaya pada waktu Tuhan yang tepat. Semua yang harus dilalui adalah proses. Karena itu, kita harus setia dalam setiap proses hidup kita sebab apabila kita tidak setia dalam proses padang gurun, bagaimana Tuhan bisa mempercayai kita ketika kita diberkati di tanah perjanjian?

 3. Kita harus yakin bahwa yang ‘tidak biasa’ mampu diubah menjadi yang ‘luar biasa’ bagi Tuhan (Yohanes 2:6)
Kita harus percaya pada Tuhan untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dan melalui masalah tersebut dapat merupakan kesempatan (opportunity) untuk mempercayai Tuhan bahwa di dalamnya ada hal-hal yang luar biasa. Kita tidak perlu menjadi luar biasa (hebat) untuk memulai, tetapi kita harus memulai untuk dapat menjadi luar biasa. Yang harus kita lakukan adalah melangkah dan memulainya.

 4. Kita perlu keberanian untuk tetap percaya (Yohanes 2:7-8)
Pelayan-pelayan di pesta perkawinan di Kana mencedok air yang belum berubah untuk dibawa kepada pemimpin pesta dan di tengah jalan berubah menjadi anggur. Kita semua akan mengalami pergumulan dalam proses tersebut dan dituntut keberanian untuk tetap percaya dan melangkah dengan iman ketika Tuhan menyuruh kita. Orang yang berani bukannya orang yang tidak pernah merasa takut, namun orang yang berani adalah orang yang mengalahkan rasa takutnya. Hal itu terjadi karena ada Tuhan bersumber di dalam kita dan Dia jauh lebih besar daripada kuasa yang lain. Haleluya!

Jangan hanya sekedar menangkap momentum Tuhan, namun marilah kita juga menjadi pembuat sejarah dengan menciptakan momentum Tuhan bagi orang lain, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Amin!